Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Bisnis

Saratoga (SRTG) Buka Peluang Bisnis Data Center lewat TBIG

×

Saratoga (SRTG) Buka Peluang Bisnis Data Center lewat TBIG

Sebarkan artikel ini
Saratoga (SRTG) Buka Peluang Bisnis Data Center lewat TBIG
Banner Iklan Harianesia 468x60

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) membuka peluang memperluas eksposur investasinya ke bisnis pusat data alias data center lewat kepemilikan sahamnya di PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menggarap sektor-sektor yang tengah tumbuh.

Pemegang saham SRTG sekaligus Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan Saratoga kini tengah melirik sektor dan berinvestasi di berbagai industri yang kini bertumbuh. Ia mencontohkan, misalnya, Saratoga kini berinvestasi di saham di Merdeka Grup dan ekonomi hijau melalui PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

“Kami (Saratoga) juga ada peluang berkembang di sektor data center melalui investasi di TBIG,” kata Sandiaga Uno ketika ditemui penulis Katadata di Jakarta, dikutip Rabu (28/10).

Pernyataan itu menegaskan posisi TBIG sebagai pintu masuk Saratoga ke rantai nilai infrastruktur digital, dari menara telekomunikasi hingga konektivitas jaringan.

Dari menara telekomunikasi ke layanan konektivitas

Bisnis utama TBIG melalui entitas anak mencakup penyewaan ruang di menara telekomunikasi untuk pemasangan antena dan perangkat transmisi sinyal nirkabel. TBIG menjalankan bisnis ini melalui kontrak jangka panjang dengan operator telekomunikasi nirkabel.

Selain itu, TBIG juga menyediakan perangkat Repeater and In Building System (IBS) untuk memperluas jangkauan sinyal telekomunikasi di pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran di kawasan perkotaan.

Baca Juga :  USA: 6.5 Juta Investasi Dibuka untuk Perusahaan di Pennsylvania, 30 Pekerjaan Baru Dibuat

Manajemen TBIG melihat kebutuhan pelanggan yang tidak hanya terbatas pada penyewaan menara, tetapi juga mencakup konektivitas jaringan yang lebih luas. Kebutuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur jaringan fixed broadband yang mampu menyediakan akses internet andal, cepat, dan aman bagi perusahaan maupun individu.

Demi menjawab kebutuhan tersebut, dalam laporannya pada Juli 2026 lalu, manajemen berencana menambah kegiatan usaha melalui entitas anak, TB, dengan mengembangkan layanan Gerbang Akses Internet atau Network Access Point (NAP) yang termasuk dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 61107.

  • Saratoga melihat peluang masuk ke bisnis data center melalui investasi di TBIG.
  • TBIG berencana mengembangkan layanan Network Access Point (NAP) dengan KBLI 61107.
  • Pengembangan NAP memanfaatkan jaringan serat optik sekitar 60.000 km milik Grup.

NAP dan pasar grosir transit internet

Layanan NAP akan menghubungkan jaringan distribusi internet lokal dengan infrastruktur backbone internet internasional. Layanan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konektivitas berbasis protokol internet (IP), terutama bagi penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP), perusahaan, dan institusi melalui skema bisnis antarbisnis (B2B).

TBIG merancang bisnis NAP sebagai penyedia layanan transit internet grosir (wholesale IP transit). Pengembangan bisnis ini akan memanfaatkan potensi sinergi dengan aset Grup, termasuk jaringan serat optik sepanjang sekitar 60.000 km, menara telekomunikasi, data center, hingga entitas anak yang bergerak di bidang penyediaan layanan internet (ISP).

Baca Juga :  Emiten BSSR Tebar Dividen Rp 1,27 Triliun, RUPST Setujui Perubahan Direksi dan Komisaris

Melalui integrasi aset dan bisnis tersebut, TBIG membidik pasar internal dan pelanggan eksternal, khususnya ISP Tier 2–3 dan segmen korporasi.

“Pengembangan bisnis NAP tidak memerlukan pembentukan perusahaan baru maupun tambahan investasi yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang belum memiliki jaringan menara telekomunikasi dan backbone jaringan serat optik,” tulis manajemen.

Rencana ini penting karena menunjukkan infrastruktur menara telekomunikasi mulai bergerak ke lapisan konektivitas yang lebih bernilai, sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan data center dan fixed broadband di Indonesia.

Peta aset yang menopang rencana bisnis

Bagi Saratoga, kombinasi kepemilikan di TBIG dan sejumlah sektor lain mencerminkan upaya menyebar eksposur ke industri yang sedang bertumbuh. Selain TBIG, Sandiaga menyebut investasi di saham Merdeka Grup serta ekonomi hijau melalui ADRO sebagai contoh arah portofolio yang sedang digarap.

Di sisi TBIG, rencana NAP menempatkan perusahaan pada posisi yang tidak sepenuhnya baru. Perusahaan sudah memiliki kontrak jangka panjang dengan operator telekomunikasi nirkabel, menyediakan perangkat IBS di kawasan perkotaan, dan kini menyiapkan layanan transit internet grosir yang menyasar ISP serta korporasi.

Baca Juga :  ANTAM Hadirkan ATM Emas di Konser Snada Indonesia 2026

Manajemen menegaskan pengembangan bisnis NAP tidak memerlukan pembentukan perusahaan baru maupun tambahan investasi yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang belum memiliki jaringan menara telekomunikasi dan backbone jaringan serat optik. Dengan kata lain, aset yang sudah ada menjadi modal utama untuk masuk ke layanan baru tersebut.

EntitasPT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG)
Mitra investasiPT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)
Layanan baruNetwork Access Point (NAP), KBLI 61107
Panjang jaringan serat optik GrupSekitar 60.000 km
Target pasar NAPISP Tier 2–3 dan segmen korporasi

Pertanyaan Umum

Apa rencana Saratoga di bisnis data center?

Saratoga melihat peluang memperluas eksposur ke bisnis data center melalui investasinya di TBIG, sebagaimana disampaikan Sandiaga Uno.

Apa itu layanan NAP yang disiapkan TBIG?

NAP atau Network Access Point adalah layanan Gerbang Akses Internet yang menghubungkan jaringan distribusi internet lokal dengan infrastruktur backbone internet internasional, dengan skema bisnis B2B.

Apakah pengembangan NAP butuh perusahaan baru?

Tidak. Manajemen TBIG menyatakan pengembangan bisnis NAP tidak memerlukan pembentukan perusahaan baru maupun tambahan investasi yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang belum memiliki jaringan menara telekomunikasi dan backbone serat optik.

Sumber: Katadata

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600
Wall Street Menguat Selasa 27 Oktober 2026 — Ilustrasi pergerakan indeks saham Wall Street dengan grafik naik dan sorotan saham teknologi
Bisnis

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (27/10/2026), didorong kebangkitan saham teknologi di tengah meningkatnya optimisme terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta berlanjutnya musim laporan keuangan kuartal III-2026. Melansir Reuters, indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan kenaikan 1,18% atau 308,43 poin ke level 26.477,81. Indeks S&P 500 naik 0,60% atau 45,83…