Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Bisnis

Laba ELSA Naik 29,4% hingga September 2026

×

Laba ELSA Naik 29,4% hingga September 2026

Sebarkan artikel ini
Laba ELSA Naik 29 — Ilustrasi pertumbuhan laba PT Elnusa Tbk (ELSA) hingga kuartal III-2026
Laba bersih ELSA tumbuh 29,4% secara tahunan menjadi Rp 681,55 miliar hingga kuartal III-2026.
Banner Iklan Harianesia 468x60

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek kinerja PT Elnusa Tbk (ELSA) diperkirakan masih positif hingga 2027, ditopang potensi peningkatan aktivitas jasa hulu minyak dan gas bumi (migas), realisasi kontrak, serta pengembangan layanan berteknologi tinggi. Namun, perusahaan perlu menjaga efisiensi operasional dan kelancaran eksekusi proyek agar pertumbuhan laba berlanjut.

Hingga kuartal III-2026, ELSA membukukan laba bersih sebesar Rp 681,55 miliar, tumbuh 29,4% secara tahunan atau year on year (yoy). Pertumbuhan laba tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan sebesar 15,8% yoy menjadi Rp 12,13 triliun.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600
  • Laba bersih kuartal III-2026: Rp 681,55 miliar, tumbuh 29,4% yoy
  • Pendapatan kuartal III-2026: Rp 12,13 triliun, naik 15,8% yoy
  • Kontrak baru semester I-2026: Rp 11,6 triliun, dengan carry-forward contract Rp 18,8 triliun

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang menilai, peluang pertumbuhan laba ELSA hingga akhir 2026 masih terbuka. Namun, perusahaan perlu memastikan tren perbaikan profitabilitas berlanjut pada kuartal IV.

“Untuk 2027, prospeknya masih positif seiring potensi peningkatan aktivitas jasa hulu migas, realisasi kontrak yang telah diperoleh, serta pengembangan layanan berteknologi tinggi,” ujar Alrich kepada Kontan, Selasa (27/10/2026).

Penopang pertumbuhan dan visibilitas kontrak

Menurut Alrich, pertumbuhan kinerja ELSA ditopang peningkatan aktivitas operasional, efisiensi biaya, serta kontribusi bisnis distribusi dan logistik energi. Sementara di segmen hulu migas, layanan seismik, pengeboran, dan jasa penunjang produksi berpotensi memberikan kontribusi lebih besar seiring meningkatnya kebutuhan eksplorasi dan optimalisasi produksi migas domestik.

Baca Juga :  Wall Street Menguat Berkat IPO Anthropic, Saham Teknologi Melonjak

Dari sisi kontrak, hingga semester I-2026 ELSA telah memperoleh kontrak baru senilai Rp 11,6 triliun dan memiliki carry-forward contract sebesar Rp 18,8 triliun. Menurut Alrich, nilai kontrak tersebut memberikan visibilitas terhadap aktivitas bisnis perusahaan ke depan. Meski begitu, realisasi pendapatan tetap bergantung pada jadwal proyek dan kelancaran eksekusi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta juga menilai peluang pertumbuhan laba ELSA hingga akhir 2026 masih terbuka. Menurutnya, realisasi proyek sesuai jadwal, optimalisasi penggunaan peralatan dan armada, serta efisiensi operasional akan menjadi penentu kinerja pada kuartal IV.

Namun, Nafan mengingatkan adanya potensi normalisasi pertumbuhan setelah kinerja yang kuat selama sembilan bulan pertama. “Investor perlu mencermati kemungkinan normalisasi pertumbuhan setelah kinerja yang kuat selama sembilan bulan pertama, sehingga pencapaian laba sepanjang tahun tetap bergantung pada realisasi kinerja kuartal IV,” ujar Nafan.

Pendorong 2027 dan risiko yang membayangi

Memasuki 2027, Nafan menilai prospek ELSA akan dipengaruhi keberlanjutan belanja modal perusahaan migas, aktivitas eksplorasi dan produksi, serta kebutuhan layanan penunjang hulu migas. Jasa survei seismik, pengeboran, pemeliharaan sumur, layanan pendukung produksi, hingga distribusi dan logistik energi berpotensi menjadi pendorong pertumbuhan.

Baca Juga :  BUMI Akuisisi Tambang Mineral Australia US$22 Juta, Simak Rekomendasi

“Kebutuhan untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi minyak dan gas domestik berpotensi membuka peluang kontrak baru bagi ELSA,” jelas Nafan.

Meski demikian, pertumbuhan pendapatan perlu diimbangi kualitas kontrak, tingkat utilisasi aset, pengendalian biaya, dan disiplin belanja modal agar dapat dikonversi menjadi laba serta arus kas yang berkelanjutan.

Dari sisi investasi, Alrich menyebut katalis positif ELSA meliputi peningkatan belanja hulu migas, percepatan realisasi kontrak, pertumbuhan bisnis seismik, serta peluang perluasan layanan dan pengelolaan lapangan. Diversifikasi pelanggan di luar grup Pertamina juga berpotensi memperluas sumber pendapatan perusahaan.

Di sisi lain, risiko yang perlu dicermati mencakup keterlambatan proyek dan pengakuan pendapatan, tekanan margin akibat persaingan tender, serta perubahan jadwal belanja modal pelanggan migas. Alrich juga mengingatkan pentingnya mencermati kualitas laba dan arus kas operasional.

“Pertumbuhan laba yang tinggi belum tentu langsung diikuti penerimaan kas apabila penagihan proyek tertunda,” jelas Alrich.

Senada, Nafan menyoroti risiko penundaan proyek, persaingan tender, kenaikan biaya operasional dan pemeliharaan peralatan, fluktuasi harga minyak yang memengaruhi keputusan belanja modal pelanggan, serta risiko pembayaran piutang dan kebutuhan modal kerja.

Katalis: belanja hulu migas, realisasi kontrak, bisnis seismik, diversifikasi pelanggan

Risiko: keterlambatan proyek, tekanan margin tender, penundaan penagihan, fluktuasi harga minyak

Baca Juga :  Perpanjangan Naming Rights MotoGP Mandalika oleh Pertamina Diproses

Rekomendasi analis dan sikap investor

Dari sisi rekomendasi, Alrich menilai ELSA menarik dicermati berkat pertumbuhan laba yang kuat, dukungan kontrak, dan valuasi yang relatif rendah dibandingkan sejumlah perusahaan jasa migas. Namun, risiko eksekusi proyek tetap perlu diperhitungkan.

Sementara itu, Nafan merekomendasikan investor untuk wait and see terhadap saham ELSA. Ia mengingatkan investor agar tidak hanya berpatokan pada kenaikan laba historis dalam mengambil keputusan.

“Keputusan investasi sebaiknya tidak hanya bertumpu pada kenaikan laba historis, melainkan juga pada kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan dan menghasilkan imbal hasil yang sepadan dengan valuasinya,” tutup Nafan.

Pertanyaan Umum

Berapa laba bersih ELSA hingga kuartal III-2026?

ELSA membukukan laba bersih Rp 681,55 miliar, tumbuh 29,4% secara tahunan, sementara pendapatannya naik 15,8% yoy menjadi Rp 12,13 triliun.

Apa yang menjadi penopang prospek ELSA hingga 2027?

Peningkatan aktivitas jasa hulu migas, realisasi kontrak yang telah diperoleh, pengembangan layanan berteknologi tinggi, serta kontribusi bisnis distribusi dan logistik energi.

Bagaimana rekomendasi analis terhadap saham ELSA?

Phintraco Sekuritas menilai ELSA menarik dicermati berkat pertumbuhan laba yang kuat dan valuasi relatif rendah, sedangkan Mirae Asset Sekuritas menyarankan sikap wait and see sambil mencermati realisasi kinerja kuartal IV.

Sumber: Kontan

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600