PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) membuka peluang memperluas eksposur investasinya ke bisnis pusat data alias data center lewat kepemilikan sahamnya di PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG). Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menggarap sektor-sektor yang tengah tumbuh.
Pemegang saham SRTG sekaligus Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan Saratoga kini tengah melirik sektor dan berinvestasi di berbagai industri yang kini bertumbuh. Ia mencontohkan, misalnya, Saratoga kini berinvestasi di saham di Merdeka Grup dan ekonomi hijau melalui PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO).
“Kami (Saratoga) juga ada peluang berkembang di sektor data center melalui investasi di TBIG,” kata Sandiaga Uno ketika ditemui penulis Katadata di Jakarta, dikutip Rabu (28/10).
Pernyataan itu menegaskan posisi TBIG sebagai pintu masuk Saratoga ke rantai nilai infrastruktur digital, dari menara telekomunikasi hingga konektivitas jaringan.
Dari menara telekomunikasi ke layanan konektivitas
Bisnis utama TBIG melalui entitas anak mencakup penyewaan ruang di menara telekomunikasi untuk pemasangan antena dan perangkat transmisi sinyal nirkabel. TBIG menjalankan bisnis ini melalui kontrak jangka panjang dengan operator telekomunikasi nirkabel.
Selain itu, TBIG juga menyediakan perangkat Repeater and In Building System (IBS) untuk memperluas jangkauan sinyal telekomunikasi di pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran di kawasan perkotaan.
Manajemen TBIG melihat kebutuhan pelanggan yang tidak hanya terbatas pada penyewaan menara, tetapi juga mencakup konektivitas jaringan yang lebih luas. Kebutuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap infrastruktur jaringan fixed broadband yang mampu menyediakan akses internet andal, cepat, dan aman bagi perusahaan maupun individu.
Demi menjawab kebutuhan tersebut, dalam laporannya pada Juli 2026 lalu, manajemen berencana menambah kegiatan usaha melalui entitas anak, TB, dengan mengembangkan layanan Gerbang Akses Internet atau Network Access Point (NAP) yang termasuk dalam Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 61107.
- Saratoga melihat peluang masuk ke bisnis data center melalui investasi di TBIG.
- TBIG berencana mengembangkan layanan Network Access Point (NAP) dengan KBLI 61107.
- Pengembangan NAP memanfaatkan jaringan serat optik sekitar 60.000 km milik Grup.
NAP dan pasar grosir transit internet
Layanan NAP akan menghubungkan jaringan distribusi internet lokal dengan infrastruktur backbone internet internasional. Layanan ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konektivitas berbasis protokol internet (IP), terutama bagi penyedia layanan internet (Internet Service Provider/ISP), perusahaan, dan institusi melalui skema bisnis antarbisnis (B2B).
TBIG merancang bisnis NAP sebagai penyedia layanan transit internet grosir (wholesale IP transit). Pengembangan bisnis ini akan memanfaatkan potensi sinergi dengan aset Grup, termasuk jaringan serat optik sepanjang sekitar 60.000 km, menara telekomunikasi, data center, hingga entitas anak yang bergerak di bidang penyediaan layanan internet (ISP).
Melalui integrasi aset dan bisnis tersebut, TBIG membidik pasar internal dan pelanggan eksternal, khususnya ISP Tier 2–3 dan segmen korporasi.
“Pengembangan bisnis NAP tidak memerlukan pembentukan perusahaan baru maupun tambahan investasi yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang belum memiliki jaringan menara telekomunikasi dan backbone jaringan serat optik,” tulis manajemen.
Rencana ini penting karena menunjukkan infrastruktur menara telekomunikasi mulai bergerak ke lapisan konektivitas yang lebih bernilai, sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan data center dan fixed broadband di Indonesia.
Peta aset yang menopang rencana bisnis
Bagi Saratoga, kombinasi kepemilikan di TBIG dan sejumlah sektor lain mencerminkan upaya menyebar eksposur ke industri yang sedang bertumbuh. Selain TBIG, Sandiaga menyebut investasi di saham Merdeka Grup serta ekonomi hijau melalui ADRO sebagai contoh arah portofolio yang sedang digarap.
Di sisi TBIG, rencana NAP menempatkan perusahaan pada posisi yang tidak sepenuhnya baru. Perusahaan sudah memiliki kontrak jangka panjang dengan operator telekomunikasi nirkabel, menyediakan perangkat IBS di kawasan perkotaan, dan kini menyiapkan layanan transit internet grosir yang menyasar ISP serta korporasi.
Manajemen menegaskan pengembangan bisnis NAP tidak memerlukan pembentukan perusahaan baru maupun tambahan investasi yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang belum memiliki jaringan menara telekomunikasi dan backbone jaringan serat optik. Dengan kata lain, aset yang sudah ada menjadi modal utama untuk masuk ke layanan baru tersebut.
| Entitas | PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) |
|---|---|
| Mitra investasi | PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) |
| Layanan baru | Network Access Point (NAP), KBLI 61107 |
| Panjang jaringan serat optik Grup | Sekitar 60.000 km |
| Target pasar NAP | ISP Tier 2–3 dan segmen korporasi |
Pertanyaan Umum
Apa rencana Saratoga di bisnis data center?
Saratoga melihat peluang memperluas eksposur ke bisnis data center melalui investasinya di TBIG, sebagaimana disampaikan Sandiaga Uno.
Apa itu layanan NAP yang disiapkan TBIG?
NAP atau Network Access Point adalah layanan Gerbang Akses Internet yang menghubungkan jaringan distribusi internet lokal dengan infrastruktur backbone internet internasional, dengan skema bisnis B2B.
Apakah pengembangan NAP butuh perusahaan baru?
Tidak. Manajemen TBIG menyatakan pengembangan bisnis NAP tidak memerlukan pembentukan perusahaan baru maupun tambahan investasi yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang belum memiliki jaringan menara telekomunikasi dan backbone serat optik.
Sumber: Katadata
