Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Bisnis

Wall Street Dibuka Melemah Tertekan Biaya Belanja AI

×

Wall Street Dibuka Melemah Tertekan Biaya Belanja AI

Sebarkan artikel ini
Wall Street Dibuka Melemah Tertekan Biaya Belanja AI — Papan elektronik indeks saham Wall Street menampilkan Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq turun saat pembukaan
Bursa saham AS dibuka melemah pada Kamis (29/10/2026) seiring tekanan pada sektor teknologi akibat kekhawatiran biaya AI.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Harianesia NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat dibuka melemah pada Kamis (29/10/2026), dengan sektor teknologi memimpin penurunan setelah laporan keuangan Alphabet kembali memicu kekhawatiran soal melonjaknya biaya kecerdasan buatan. Investor juga mencermati data inflasi terbaru, sehari setelah Federal Reserve memutuskan menahan suku bunga.

Pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun 389,0 poin atau 0,74% ke 52.086,13. Indeks S&P 500 melemah 44,4 poin atau 0,57% menjadi 7.699,61, sementara Nasdaq Composite terpangkas 348,0 poin atau 1,31% ke 26.201,823.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Tekanan terbesar datang dari Alphabet. Saham induk Google itu anjlok 11,5% dalam perdagangan sebelum pembukaan pasar. Jika pelemahan bertahan, perusahaan berpotensi kehilangan lebih dari US$ 450 miliar nilai pasar menyusul hasil iklan mesin pencari yang mengecewakan dan lonjakan pengeluaran kas akibat percepatan belanja AI.

Penurunan tersebut menyumbang sebagian besar dari potensi penghapusan nilai pasar lebih dari US$ 660 miliar pada indeks Nasdaq-100, bila pelemahan saat ini berlanjut hingga penutupan.

“Dampak positif AI harus tetap bertahan selama bertahun-tahun ke depan. Jika tidak, investor Alphabet dan perusahaan penyedia layanan komputasi awan berskala besar lainnya pada akhirnya akan menilai ulang valuasi saham mereka ketika laba bersih mulai memudar,” kata Anders Bylund, analis teknologi di The Motley Fool.

Di sisi lain, saham Microsoft naik 1,8% setelah perusahaan mencatat arus kas yang jauh melampaui perkiraan dan memproyeksikan pertumbuhan bisnis komputasi awan yang kuat. Namun kenaikan itu menyusut setelah sejumlah laporan media menyebut Microsoft berencana menghimpun dana sedikitnya US$ 25 miliar melalui penerbitan obligasi berperingkat layak investasi pertamanya di AS dalam lebih dari sembilan tahun.

Antusiasme terhadap Saham AI Mulai Mereda

Gairah investor terhadap perdagangan saham terkait AI mulai mengendur bulan ini. Kekhawatiran utamanya adalah belanja yang dibiayai utang akan semakin sulit dibenarkan ketika biaya pinjaman meningkat.

Pengungkapan Anthropic pada Senin mengenai pengajuan penawaran umum perdana saham di AS sempat memberikan kelegaan. Namun kekhawatiran itu kembali muncul, terutama setelah hasil kuartalan Alphabet menunjukkan beban belanja AI yang membengkak.

Baca Juga :  Laba ELSA Naik 29,4% hingga September 2026

Data ekonomi yang dirilis Kamis menambah tekanan. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) meningkat sesuai perkiraan para ekonom yang disurvei Reuters, sementara data terpisah menunjukkan ekonomi AS tumbuh lebih cepat dari perkiraan pada kuartal III.

“Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang masih sangat kuat dan tangguh, bersama dengan inflasi dan harga-harga yang semakin menjauh dari target The Fed, memperkuat perkiraan bahwa keputusan pada Oktober merupakan penundaan sementara, bukan penghentian kenaikan suku bunga oleh The Fed,” kata Angelo Kourkafas, ahli strategi investasi global senior di Edward Jones.

Pada Rabu, The Fed mempertahankan suku bunga sesuai perkiraan. Bank sentral AS itu memilih menunda perubahan biaya pinjaman hingga setelah pemilihan paruh waktu AS pekan depan.

Laporan keuangan Alphabet menjadi ujian bagi narasi bahwa belanja AI akan berbuah laba — dan pasar saham AS bergerak berdasarkan keyakinan itu.

Bagi investor, kombinasi data pertumbuhan yang kuat dan inflasi yang masih di atas target membuat ruang penurunan suku bunga semakin sempit. Itulah sebabnya saham-saham teknologi dengan valuasi tinggi menjadi yang paling rentan ketika biaya modal diperkirakan bertahan lebih lama di level tinggi.

Baca Juga :  Saham AI Terangkat Kinerja SpaceX dan Super Micro, Wall Street Menguat

Alphabet bukan satu-satunya perusahaan yang menanggung beban pembuktian. Raksasa komputasi awan lain yang ikut membiayai ekspansi pusat data juga menghadapi pertanyaan serupa dari pasar: seberapa cepat investasi AI berubah menjadi arus kas yang nyata, dan seberapa besar utang yang bisa ditanggung untuk mengejarnya.

Pertanyaan Umum

Mengapa saham Alphabet turun tajam?

Saham Alphabet anjlok 11,5% setelah perusahaan melaporkan hasil iklan mesin pencari yang mengecewakan dan lonjakan pengeluaran kas akibat percepatan belanja terkait AI. Penurunan itu berpotensi menghapus lebih dari US$ 450 miliar nilai pasar Alphabet.

Apa dampaknya terhadap indeks Nasdaq?

Pelemahan Alphabet menyumbang sebagian besar dari potensi penghapusan nilai pasar lebih dari US$ 660 miliar pada indeks Nasdaq-100, jika pelemahan saat ini bertahan.

Apa yang dilakukan The Fed terhadap suku bunga?

The Fed mempertahankan suku bunga sesuai perkiraan pada Rabu dan memilih menunda perubahan biaya pinjaman hingga setelah pemilihan paruh waktu AS pekan depan.

Sumber: Kontan

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600
Wall Street Menguat Selasa 27 Oktober 2026 — Ilustrasi pergerakan indeks saham Wall Street dengan grafik naik dan sorotan saham teknologi
Bisnis

Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (27/10/2026), didorong kebangkitan saham teknologi di tengah meningkatnya optimisme terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta berlanjutnya musim laporan keuangan kuartal III-2026. Melansir Reuters, indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan kenaikan 1,18% atau 308,43 poin ke level 26.477,81. Indeks S&P 500 naik 0,60% atau 45,83…