Di Stadion Tunas Jaya Kampung Melayu, lima lelaki yang tak lagi muda membuktikan satu hal: usia boleh menua, tapi mental juara Selapajang tak pernah pensiun. Petrus Herman: “Ini untuk Selapajang
TANGERANG_Sore itu angin di Stadion Tunas Jaya, Kampung Melayu, bertiup pelan. Rumput lapangan tidak terlalu hijau, langit sedikit pucat, tapi sorak di pinggir lapangan terdengar nyaring. Di tengah lapangan, sebuah trofi emas setinggi lutut berdiri. Di sekelilingnya, empat lelaki berjongkok, satu berdiri di belakang. Jari mereka semua menunjuk ke arah yang sama: piala.
Mereka adalah Old Star Selapajang. Nama yang lama tak terdengar di turnamen-turnamen lokal Tangerang. Vakum cukup lama, banyak yang mengira mereka telah bubar. Sabtu sore kemarin, mereka menjawab semua keraguan itu dengan cara paling sederhana: menang 1-0 di final dan menjadi juara.
FINAL YANG TIDAK RAMAH USIA
Lawan mereka jauh lebih muda. Lari lebih kencang, stamina lebih panjang. Di atas kertas, Old Star Selapajang tidak diunggulkan. Jersey mereka putih dengan corak hitam abstrak, logo kecil di dada kiri, celana hitam, kaus kaki panjang. Satu di antaranya, sang kiper, mengenakan pink menyala dengan sepatu merah. Usia mereka tidak lagi 20-an.
Tapi sepak bola tidak selalu soal siapa yang paling cepat. Di Stadion Tunas Jaya, Old Star Selapajang bermain dengan barang yang tak bisa dibeli di toko olahraga: pengalaman dan chemistry.
Gol tunggal tercipta. Bukan gol indah ala final Liga Champions, tapi gol yang lahir dari ketenangan. Skor 1-0 itu mereka kunci rapat hingga peluit panjang. Ketika wasit meniup peluit, yang terjadi bukan selebrasi berlebihan. Hanya tatapan lega, senyum, dan pose bersama trofi yang sudah menunggu.
SUARA DARI LAPANGAN: PETRUS HERMAN
Di antara lima pemain itu, ada Petrus Herman. Pemain yang oleh rekan-rekannya disebut sebagai penjaga ruh tim. Topi tidak ia kenakan hari itu, hanya jersey Old Star Selapajang yang basah oleh keringat.
Kepada Hariesia.com, Petrus berbicara pelan tapi tegas usai mengangkat trofi bersama rekannya.
> “Puji Tuhan. Ini untuk Selapajang. Baru berlaga lagi setelah lama vakum, langsung juara di Tunas Jaya, Kampung Melayu, skor 1-0. Orang lihat cuma piala, tapi bagi kami ini tentang kekompakan. Tentang rasa keluarga di Old Star Selapajang. Kami mungkin tidak muda lagi, tapi mental juara kami masih ada,” kata Petrus Herman.
Ia mengakui persiapan timnya minimalis.
“Latihan cuma beberapa kali. Kami tidak punya program fisik seperti tim muda. Yang kami punya cuma saling kenal. Sudah bertahun-tahun main bareng di Selapajang. Jadi tanpa banyak omong, sudah tahu kawan mau ke mana. Kami main enjoy saja, tanpa beban. Tuhan kasih juara,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi di situlah kunci Old Star Selapajang. Mereka tidak bermain untuk membuktikan siapa yang terhebat. Mereka bermain untuk membuktikan bahwa mereka masih ada.
*LEBIH DARI SEKADAR TROFI*
Trofi emas dengan pita merah putih yang mereka bawa pulang sore itu bukan sekadar pajangan. Di alasnya tertulis nama turnamen. Kecil, tapi bagi warga Selapajang, itu penanda kebangkitan.
Di pinggir lapangan, beberapa warga yang datang menonton ikut berfoto. Anak-anak kecil menghampiri. Old Star Selapajang yang dulu jadi tontonan bapak-bapak di kampung, kini kembali jadi cerita.
Kemenangan 1-0 di Stadion Tunas Jaya ini bukan akhir. Bagi Petrus Herman dan kawan-kawan, ini adalah pembuka jalan. Sebuah pernyataan bahwa Old Star Selapajang belum selesai.
Senja di Kampung Melayu turun perlahan. Trofi dibawa pulang. Debu vakum yang lama menempel di nama Old Star Selapajang, sore itu resmi terhapus.
(DW)
