Edukasi

Tokoh Masyarakat Tegalrejo: Tambang Ditolak Warga, Mata Air dan Jalan Jadi Taruhannya

Rembang_HARIANESIA.COM- Peringatan Hari Tani Nasional 2026 dimanfaatkan warga Desa Tegalrejo untuk kembali menyuarakan penolakan terhadap aktivitas pertambangan yang berlangsung di wilayah mereka. Penolakan tersebut didasari kekhawatiran atas dampak lingkungan, dugaan belum adanya perizinan yang lengkap, hingga kerusakan infrastruktur yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Menurut tokoh masyarakat Desa Tegalrejo, Mbah Kosim, Selasa 15/09/2026 mayoritas warga tidak menghendaki keberadaan aktivitas pertambangan di desanya.

Ia menyebut sekitar 80 persen masyarakat menyatakan sikap menolak karena menilai manfaat yang diterima tidak sebanding dengan potensi kerugian jangka panjang yang akan ditanggung warga.
“Kurang lebih 80 persen warga menolak kegiatan pertambangan di Tegalrejo. Kami ingin tanah dan lingkungan tetap terjaga untuk anak cucu, bukan justru rusak akibat aktivitas tambang,” ujar Mbah Kosin saat menyampaikan aspirasi dalam momentum Hari Tani Nasional.

Selain penolakan warga, Mbah Kosim juga mempertanyakan legalitas kegiatan pertambangan tersebut. Menurutnya, terdapat dugaan aktivitas yang berlangsung belum mengantongi izin sebagaimana ketentuan yang berlaku. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan secara menyeluruh agar tidak terjadi pelanggaran terhadap aturan pertambangan maupun lingkungan hidup.

Ia menambahkan, kekhawatiran terbesar masyarakat adalah potensi kerusakan lingkungan yang dapat mengganggu keberadaan sumber-sumber mata air di Desa Tegalrejo. Warga menilai keberlangsungan mata air memiliki peran vital bagi kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Tidak hanya itu, aktivitas kendaraan pengangkut material tambang yang melintas di jalan provinsi juga disebut mulai menimbulkan persoalan baru. Intensitas kendaraan bertonase besar dikhawatirkan mempercepat kerusakan badan jalan, sehingga berdampak pada keselamatan pengguna jalan serta menambah beban anggaran pemerintah untuk perbaikan infrastruktur.

Melalui peringatan Hari Tani Nasional, warga Desa Tegalrejo berharap pemerintah tidak mengabaikan suara masyarakat. Mereka meminta seluruh aktivitas pertambangan dievaluasi, legalitasnya dipastikan sesuai ketentuan, serta kelestarian lingkungan dan kepentingan petani menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan kebijakan.(DW)

Exit mobile version