Filep Mayor: Bandara Marinda Butuh Studi Kelayakan Komprehensif agar Setara Bali dan Labuan Bajo
SORONG_HARIANESIA.COM– Perdebatan soal penetapan tarif baru di Papua Barat Daya dan Raja Ampat beberapa hari terakhir memantik refleksi lebih dalam. Bagi intelektual Raja Ampat, Filep YS Mayor, SE, Si, persoalan itu tidak bisa dilihat parsial.
“Sudah saatnya kita melihat dari perspektif yang lebih besar dan lebih strategis,” ujar Filep dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (27/8/2026).
Lebih dari 22 tahun Raja Ampat dikenal dunia sebagai salah satu destinasi wisata bahari terbaik di planet ini. Namun menurutnya, ada ironi besar yang belum terjawab: konektivitas udara yang belum sebanding dengan status Raja Ampat sebagai destinasi kelas dunia.
PERTANYAAN KRITIS
“Mengapa Bali dan Labuan Bajo mampu mengembangkan kapasitas bandaranya untuk menerima penerbangan dengan pesawat yang lebih besar dan wisatawan dari berbagai penjuru dunia, sementara Raja Ampat belum mampu melakukan lompatan yang sama?” tanya Filep.
Ia menegaskan ini bukan soal membanding-bandingkan daerah, melainkan soal visi pembangunan.
“Kita tidak boleh terus-menerus berpikir dalam skala kebutuhan hari ini, sementara potensi Raja Ampat berada pada skala dunia,” tegasnya.
DORONG STUDI KELAYAKAN BANDARA MARINDA
Karena itu, Filep mendesak Dinas Perhubungan Provinsi Papua Barat Daya bersama Dinas Perhubungan Kabupaten Raja Ampat untuk berani mendorong _Studi Kelayakan_ yang komprehensif terhadap Bandara Marinda Raja Ampat.
Studi itu, menurutnya, harus mencakup 8 poin utama:
– Pengembangan runway, apron, dan taxiway
– Modernisasi terminal penumpang
– Sistem navigasi dan keselamatan penerbangan
– Fasilitas PKP-PK dan penunjang penerbangan
– Infrastruktur energi dan ketersediaan bahan bakar
– Proyeksi pertumbuhan penumpang dan wisatawan 10, 20 hingga 30 tahun ke depan
– Potensi pembukaan konektivitas penerbangan yang lebih luas, termasuk internasional sesuai ketentuan
“JANGAN HANYA MENGHITUNG RAJA AMPAT HARI INI. HITUNG RAJA AMPAT 10, 20, BAHKAN 30 TAHUN KE DEPAN!” serunya.
BANDARA ADALAH PINTU MASUK PERTUMBUHAN
Filep mengingatkan, bandara bukan sekadar tempat pesawat mendarat. Bandara adalah pintu masuk investasi, pariwisata, lapangan kerja, UMKM, PAD, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Wisatawan domestik maupun mancanegara harus punya pilihan konektivitas yang lebih efisien untuk langsung menuju Raja Ampat, bukan terus-menerus menghadapi perjalanan yang panjang, mahal, dan tidak efisien,” katanya.
Raja Ampat, lanjutnya, sudah memiliki laut yang mendunia, keindahan alam luar biasa, dan kekayaan budaya. Kini tantangannya adalah keberanian membangun infrastruktur sebesar potensi yang dimiliki.
“Apakah kita berani membangun infrastruktur sebesar potensi yang kita miliki? Jangan sampai Raja Ampat hanya dikenal dunia karena keindahannya, tetapi tertinggal karena konektivitasnya,” ujar Filep.
Ia menutup dengan seruan: dibutuhkan keberanian politik, perencanaan berbasis kajian, investasi infrastruktur, dan visi pembangunan jangka panjang.
“Saatnya berpikir besar. Saatnya merencanakan dengan visi besar. Saatnya membangun dengan standar dunia. Karena Raja Ampat bukan hanya tujuan wisata. RAJA AMPAT ADALAH ASET STRATEGIS INDONESIA UNTUK DUNIA.”
Dwi
Tentang Narasumber:
Filep Y. S. Mayor, SE. M.Si.
Intelektual Raja Ampat




















