KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek emiten produsen dan distributor alat berat seperti PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Intraco Penta Tbk (INTA), PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX), dan PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) berpeluang membaik pada 2027, meski sepanjang sisa 2026 permintaan diperkirakan masih lemah.
Pemulihan terutama bergantung pada dua syarat: harga batubara yang bertahan di level tinggi dan kepastian Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan.
Selama keduanya belum terpenuhi, perusahaan tambang diprediksi masih menahan belanja alat berat baru dan memilih mengoptimalkan armada yang sudah dimiliki.
Harga batubara pada 2 Oktober 2026 ditutup di US$ 149,4 per ton, naik 1,5% dan menjadi level tertinggi sejak 10 September 2026. Kenaikan itu antara lain didorong kebutuhan batubara India di tengah kekurangan pasokan listrik.
Impor batubara dan lignit China pada Januari-Agustus 2026 mencapai 310,19 juta ton, naik 3,4% secara tahunan. Namun, kenaikan harga dan permintaan impor itu belum tentu langsung mendongkrak penjualan unit baru pada sisa 2026.
Mengapa penjualan unit baru belum ikut naik
Analis Republik Investor Muhammad Syaiful Ridwan menilai, dampak kenaikan harga batubara terhadap penjualan alat berat masih terbatas dalam jangka pendek. Pemulihan permintaan diperkirakan membutuhkan waktu karena pelanggan masih mengoptimalkan armada yang telah dimiliki.
Menurut Syaiful, pemulihan aktivitas pertambangan biasanya tidak langsung diikuti pembelian alat berat baru. Kontraktor cenderung mengaktifkan kembali unit yang menganggur sebelum menambah armada.
Karena itu, kenaikan utilisasi lebih dahulu berdampak terhadap kebutuhan suku cadang dan jasa purna jual, bukan penjualan unit.
- Harga batubara 2 Oktober 2026 ditutup US$ 149,4 per ton, naik 1,5%.
- Impor batubara dan lignit China Januari-Agustus 2026 mencapai 310,19 juta ton, naik 3,4% tahunan.
- RKAB batubara 2026 dirancang sekitar 600 juta ton, lebih rendah dari 1,2 miliar ton pada 2025.
“Dampaknya ke sisa 2026 kemungkinan kecil. Efek yang lebih nyata baru terasa di 2027,” ujar Syaiful kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie juga menilai, kenaikan harga batubara dan permintaan impor dapat memperbaiki margin penambang, meningkatkan utilisasi armada, serta memulihkan kemampuan belanja modal.
Namun, pembelian unit baru membutuhkan waktu lebih panjang karena penambang biasanya menunggu kepastian keberlanjutan harga komoditas dan jadwal pengiriman alat.
“Karena 2026 tinggal beberapa bulan, kontribusi ke penjualan unit tahun ini kami nilai terbatas, dan efek yang lebih besar berpotensi baru terlihat pada 2027 jika harga bertahan.”
— Adrian Djie, Kiwoom Sekuritas Indonesia
RKAB jadi penentu utama
Selain harga komoditas, kepastian RKAB menjadi faktor penting bagi pemulihan industri. RKAB batubara 2026 dirancang sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 sebesar 1,2 miliar ton.
Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) juga melaporkan pemangkasan produksi sejumlah anggota berkisar 40%-70%. Pembatasan produksi membuat perusahaan tambang cenderung menahan belanja modal untuk alat berat.
Meski begitu, terdapat sinyal pelonggaran kuota bagi sebagian perusahaan. RKAB UNTR, misalnya, meningkat dari sekitar 7,4 juta ton pada pertengahan Juli menjadi 12,4 juta ton pada Agustus 2026.
Adrian menilai, ketidakpastian RKAB masih menjadi risiko nyata karena menentukan kuota produksi perusahaan tambang. Selama persetujuan belum jelas, penambang berpotensi menunda pembelian unit baru dan memprioritaskan belanja yang mendesak.
“Kami melihat prospek moderat-positif. Hingga akhir 2026 kinerja masih ditopang purna jual, lalu membaik pada 2027 apabila harga batubara bertahan dan RKAB lebih jelas,” ujar Adrian.
Tekanan pada kinerja UNTR
Di tengah kondisi tersebut, kontribusi sektor pertambangan terhadap penjualan alat berat UNTR masih mengalami tekanan.
Hingga Mei 2026, porsi penjualan Komatsu UNTR ke sektor pertambangan tercatat 43%, turun dari 65% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, kontribusi agribisnis naik menjadi 24% dari 13%, sedangkan konstruksi meningkat menjadi 19% dari 12%.
Penjualan alat berat berukuran besar atau big machine juga turun 49% menjadi 436 unit sepanjang Januari-Agustus 2026. Padahal, nilai penjualan per unit alat berat besar dapat mencapai 10-15 kali lipat dibandingkan unit kecil, sehingga penurunan volumenya berpotensi memberikan dampak lebih besar terhadap pendapatan.
Meski begitu, Syaiful melihat tanda awal pemulihan aktivitas tambang. Volume pemindahan lapisan penutup atau overburden removal UNTR pada Agustus 2026 mencapai 98,4 juta bank cubic meter (bcm), naik 9% dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan aktivitas ini berpotensi menjadi sinyal awal sebelum penambang kembali meningkatkan pembelian alat berat.
| Penjualan Komatsu UNTR | 2.689 unit (Januari-Agustus 2026) |
|---|---|
| Perubahan tahunan | Turun 21% |
| Target 2026 | 4.000 unit |
| Pencapaian target | 67% |
Dari sisi kinerja, UNTR membukukan laba bersih Rp 956 miliar pada semester I 2026, turun 88% secara tahunan. Penurunan ini antara lain dipengaruhi pencatatan penurunan nilai atau impairment sekitar Rp 2,76 triliun terkait bisnis panas bumi.
Kinerja KOBX, HEXA, dan INTA
KOBX menunjukkan momentum penjualan yang lebih baik. Pendapatan pada kuartal II 2026 mencapai Rp 1,02 triliun, tumbuh 13,2% secara tahunan, sementara penjualan unit meningkat 47%. Namun, kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas masih perlu dicermati mengingat riwayat kerugian pada periode sebelumnya.
Adapun HEXA membukukan laba bersih US$ 15,98 juta pada tahun buku April 2025-Maret 2026, turun 48,54%. Perusahaan menargetkan penjualan US$ 583 juta, sedangkan realisasi pada kuartal I tahun buku berjalan mencapai US$ 113,8 juta.
Di sisi lain, INTA mencatat pendapatan Rp 422,86 miliar pada semester I 2026, turun 11,21% secara tahunan. Perusahaan juga membukukan rugi bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 41,63 miliar.
Strategi diversifikasi masing-masing emiten
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor pertambangan, masing-masing emiten mengandalkan strategi berbeda.
UNTR memiliki eksposur pada rantai bisnis pertambangan melalui kontraktor tambang dan distribusi alat berat, sekaligus menjalankan diversifikasi ke komoditas emas dan nikel. KOBX memperluas penetrasi alat berat asal China yang lebih kompetitif, termasuk dump truck hybrid.
Sementara itu, HEXA memiliki eksposur ke sektor agribisnis yang menjadi salah satu kontributor utama bisnisnya. INTA mendorong bisnis penyewaan alat berat untuk memperkuat pendapatan berulang di tengah keterbatasan belanja modal pelanggan.
Rekomendasi saham
Dari sisi rekomendasi saham, Syaiful memilih UNTR dengan target harga Rp 26.675 per saham. Menurut dia, UNTR berpotensi menjadi penerima manfaat langsung apabila aktivitas pertambangan dan kuota produksi kembali meningkat, berkat eksposurnya pada distribusi alat berat dan jasa kontraktor tambang.
Sementara itu, Adrian merekomendasikan beli saham UNTR dengan target harga Rp 28.000 per saham. Ia menilai prospek perusahaan berpotensi membaik seiring pemulihan aktivitas pertambangan, dengan catatan harga batubara tetap terjaga dan kepastian RKAB meningkat.
Pertanyaan Umum
Kapan pemulihan penjualan alat berat diperkirakan terjadi?
Analis memperkirakan efek yang lebih nyata baru terasa pada 2027, apabila harga batubara bertahan dan kepastian RKAB meningkat. Sepanjang sisa 2026, kontribusi ke penjualan unit dinilai terbatas.
Mengapa kenaikan harga batubara belum langsung mendongkrak penjualan unit baru?
Kontraktor cenderung mengaktifkan kembali unit yang menganggur sebelum menambah armada. Kenaikan utilisasi lebih dahulu berdampak pada kebutuhan suku cadang dan jasa purna jual.
Apa risiko utama bagi prospek emiten alat berat?
Ketidakpastian RKAB menjadi risiko nyata karena menentukan kuota produksi perusahaan tambang. Selama persetujuan belum jelas, penambang berpotensi menunda pembelian unit baru.
Sumber: Kontan
