Ketua Kompakdesi Jabar yang Juga Kabid Hukum Politik Advokasi Fatayat NU Garut Itu Menegaskan Desa Adalah Pusat Peradaban Baru
GARUT_Jika Fatayat NU adalah kawah candradimuka untuk mencetak pemimpin perempuan Nahdliyin, maka Latihan Kader Dasar (LKD) 2026 PC Fatayat NU Kabupaten Garut yang digelar 31 Oktober – 1 November 2026 di Balai Diklat Kependudukan dan Keluarga Berencana Garut, adalah panggung pembuktiannya.
Dan di panggung itu, satu nama mencuri perhatian: Yanti Susilawati, S.ST, Bd, MM.
Perempuan yang dikenal sebagai bidan desa ini kini memegang dua jabatan strategis sekaligus. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kompakdesi Provinsi Jawa Barat dan Ketua Bidang Hukum, Politik dan Advokasi Fatayat NU Kabupaten Garut.
Manuver Yanti adalah studi kasus menarik tentang bagaimana kekuatan akar rumput desa mulai menembus tembok politik perempuan.
“Siap menembus batas, belajar bersama, dan menguatkan barisan perjuangan? PC Fatayat NU Kabupaten Garut mempersembahkan Latihan Kader Dasar (LKD) 2026 dengan tagline Berdaya, Berdampak, Mendunia,” ujar Yanti kepada awak media di Garut, Jumat (31/10/2026).
*DIAGNOSA BIDAN DESA*
Sebagai bidan desa, Yanti bukan politisi karbitan. Ia melihat masalah dari bawah: stunting yang masih tinggi, kesehatan ibu dan anak yang rapuh, dan yang paling ia soroti – perempuan desa yang hanya menjadi objek pembangunan.
Data BKKBN yang menjadi mitra LKD kali ini menunjukkan, partisipasi perempuan dalam Musyawarah Desa masih di bawah 30 persen di Jawa Barat.
Itu yang ingin ia bongkar lewat LKD.
“Harapan saya sebagai Ketua DPD Kompakdesi Jabar dan Ketua Bidang Hukum, Politik dan Advokasi Fatayat NU Garut, kita butuh kader yang tidak hanya paham keorganisasian, tapi juga paham advokasi. Perempuan harus berani bersuara di ruang-ruang politik dan hukum untuk membela kepentingan masyarakat desa. Jika perempuannya berdaya, maka desanya akan berdampak,” tegas Yanti, kalimat yang ia ulang dua kali dalam wawancara.
*JEMBATAN KOMPAKDESI – FATAYAT*
Analisis Tempo: posisi ganda Yanti adalah jembatan. KOMPAKDESI memiliki jaringan struktur desa hingga ke tingkat RT/RW. Fatayat NU memiliki jaringan ideologi dan kader militan yang mengakar.
Ketika keduanya dikolaborasikan, maka yang lahir bukan sekadar kader yang pintar berorganisasi, tapi kader yang mampu melakukan advokasi hukum dan politik.
“KOMPAKDESI hadir untuk memastikan pembangunan tidak hanya berpusat di kota. Dan Fatayat NU adalah rumah besar bagi perempuan-perempuan hebat yang akan mengawal itu. Kolaborasi ini yang ingin saya bangun,” jelasnya.
*ALL OUT*
Keseriusan Yanti bukan retorika. Dari status pribadinya, ia menulis: “Bismillah prepare sabtu dan minggu gak boleh diganggu.”
Kalimat pendek, tapi menunjukkan totalitas. Ia akan all out mengawal kaderisasi ini.
“Ini adalah investasi peradaban,” pungkasnya.
Bagi Yanti, LKD bukan sekadar pelatihan 2 hari. Ini adalah titik awal untuk menjawab pertanyaan besar: mampukah perempuan desa di Jawa Barat menjadi subjek utama pembangunan?
“Tekad saya adalah menjadikan desa sebagai pusat peradaban. Dan itu tidak akan terwujud tanpa perempuan-perempuan hebat dari Fatayat NU yang berdaya, berdampak, dan mendunia,” tutupnya.
(DW)




















