PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat penurunan laba operasional inti dari layanan ride-hailing pada kuartal III 2026. EBITDA yang disesuaikan dari layanan Gojek itu turun 16% secara tahunan menjadi Rp159 miliar, dengan margin menyusut 50 basis poin menjadi 2,5%.
GoTo menyebut penyebab utamanya adalah pemberlakuan aturan komisi 8% untuk layanan transportasi roda dua sejak Juli 2026. Aturan itu langsung memukul GoRide, layanan ojek daring andalan perusahaan.
“Penurunan ini disebabkan oleh penerapan komisi 8%. Dampak dari penerapan komisi 8% terhadap layanan GoRide tercatat sebesar Rp150 miliar untuk kuartal ini,” kata GoTo dalam rilis resmi, dikutip Kamis (29/10).
Perusahaan memperkirakan dampak aturan tersebut bisa mencapai Rp300 miliar sepanjang tahun ini.
Kuartal III 2026 adalah kuartal penuh pertama GoTo beroperasi dengan komisi 8%, sehingga angkanya menjadi gambaran awal seberapa besar aturan baru menggerus bisnis ojek daring.
Layanan pengiriman justru tumbuh
Di sisi lain, segmen on-demand delivery yang belum dikenai aturan komisi 8% masih mencatatkan kenaikan. EBITDA yang disesuaikan di segmen pengiriman barang dan makanan naik 20% secara tahunan menjadi Rp227 miliar, dengan margin naik 33 basis poin menjadi 2,1%.
GoTo menilai kenaikan itu ditopang perluasan jangkauan produk mass market, di mana transaksi bernilai kecil memiliki frekuensi tinggi. Kinerja segmen inilah yang menopang laba operasional inti Gojek menjadi Rp347 miliar, atau naik 3% secara tahunan.
Jumlah pesanan yang diselesaikan di seluruh layanan Gojek tumbuh 9% secara tahunan pada kuartal III 2026. Pertumbuhan itu disebut ditopang segmen mass market yang lebih luas.
Meski begitu, nilai transaksi bruto (GTV) Gojek hanya naik 1% secara tahunan menjadi Rp16,9 triliun. GoTo menjelaskan kenaikan tipis ini terjadi karena nilai pesanan produk lebih rendah, sekaligus akibat penyesuaian harga layanan GoRide menyusul penerapan komisi 8%.
Ride-hailing: EBITDA disesuaikan Rp159 miliar, turun 16% yoy; margin 2,5%.
On-demand delivery: EBITDA disesuaikan Rp227 miliar, naik 20% yoy; margin 2,1%.
Laba bersih grup berbalik positif
Secara keseluruhan, grup GoTo membukukan laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III 2026. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, perusahaan masih merugi Rp255 miliar.
Laba bersih tersebut naik sekitar 75% dibanding kuartal II 2026. GoTo juga berencana menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk tahun 2026 menjadi Rp3,5 triliun sampai Rp3,7 triliun.
“Hasil ini dicapai di tengah berbagai tantangan dalam beberapa bulan terakhir. Ini adalah kuartal penuh pertama sejak komisi 8% mulai diterapkan di layanan GoRide, dan dampaknya cukup signifikan,” kata Direktur Utama GoTo Hans Patuwo dalam rilis resmi, dikutip Kamis (29/10).
Latar aturan komisi 8%
Aturan pembatasan potongan maksimal 8% dari sebelumnya 20% tercantum dalam Perpres Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Ekosistem Transportasi Berbasis Platform Sosial, yang dikenal sebagai “Perpres Ojol”.
Pasal 12 aturan itu menyebutkan biaya layanan aplikasi platform ojol dikenakan maksimal 8% dari biaya jasa, baik untuk transportasi orang maupun pengantaran barang dan makanan. Perpres meminta aturan ini diterapkan pada sistem platform paling lambat 31 Desember 2026.
Namun DPR RI menetapkan komisi 8% untuk layanan transportasi penumpang roda dua, khususnya di platform Gojek dan Grab, berlaku sejak 1 Juli 2026. Untuk Gojek, layanan yang dibatasi adalah GoRide; untuk Grab, layanan yang diatur adalah GrabBike.
- EBITDA disesuaikan GoRide turun 16% yoy menjadi Rp159 miliar pada kuartal III 2026.
- Dampak komisi 8% terhadap GoRide Rp150 miliar pada kuartal ini, dengan estimasi Rp300 miliar sepanjang tahun.
- Laba bersih grup GoTo Rp441 miliar, berbalik dari rugi Rp255 miliar pada kuartal III 2025.
Pertanyaan Umum
Berapa laba operasional inti Gojek pada kuartal III 2026?
Laba operasional inti Gojek mencapai Rp347 miliar, naik 3% secara tahunan, ditopang kenaikan kinerja segmen on-demand delivery.
Mengapa EBITDA layanan ride-hailing GoTo turun?
Penurunan disebabkan penerapan komisi 8% untuk layanan transportasi roda dua sejak Juli 2026, yang berdampak langsung pada GoRide.
Berapa target EBITDA yang disesuaikan GoTo untuk 2026?
GoTo akan menaikkan target EBITDA yang disesuaikan tahun 2026 menjadi Rp3,5 triliun sampai Rp3,7 triliun.
Sumber: Katadata




















