Sedikitnya 14 taman nasional di Indonesia dilaporkan mengalami kebakaran sepanjang 2026. Lembaga pemerhati lingkungan Walhi menyebut rangkaian kejadian itu sebagai yang terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Namun perhatian publik belakangan terpusat pada Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur, yang titik apinya masih menyisakan persoalan hingga Senin (26/10). Kebakaran di kawasan gambut disebut jauh lebih sulit dipadamkan karena bara api dapat kembali menyala beberapa jam setelah disiram.
Manager Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menilai masifnya kebakaran di taman nasional menunjukkan gagalnya peran Satuan Tugas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang dipimpin Hashim Djojohadikusumo.
“Jadi asumsi atau kekhawatiran kami di Walhi sejak awal bahwa Satgas Taman Nasional ini dibentuk hanya berorientasi untuk mendapatkan uang dengan klaim menjaga taman nasional, akhirnya terbukti,” ujar Uli.
BBC News Indonesia sudah menghubungi Wakil Ketua Satgas, Raja Juli Antoni, namun tidak ada tanggapan.
Kebakaran Way Kambas: dua wilayah, dua tantangan berbeda
Humas Balai Taman Nasional Way Kambas, Riri Fitriandi, menjelaskan bahwa kebakaran yang terjadi sejak Agustus 2026 berada di lokasi berbeda dengan kebakaran yang kembali muncul pada September dan Oktober.
Menurut Riri, kebakaran Agustus terjadi di wilayah selatan TNWK. Sementara kebakaran yang mulai terdeteksi sekitar 19 September berada di wilayah utara, tepatnya kawasan Cabang, yang memiliki lahan gambut dan belum sepenuhnya padam.
“Yang Agustus itu kan di wilayah selatan. Yang sempat viral itu. Terus dari September kemarin itu di wilayah utara. Yang mulai tanggal 19 September kalau enggak salah, 19 September itu di utara, di wilayah Cabang,” kata Riri saat dihubungi melalui sambungan telepon dari Bandar Lampung, Senin (26/10).
“Yang wilayahnya gambut sampai sekarang juga belum padam total karena gambut, ya susah. Kita juga terbatas,” tambahnya.
Upaya pemadaman di wilayah Cabang masih terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, hingga masyarakat. Sekitar 350 personel disebut terlibat dalam penanganan kebakaran di lokasi tersebut.
- Kebakaran Agustus 2026 terjadi di wilayah selatan TNWK, sedangkan kebakaran sejak 19 September berada di kawasan gambut wilayah utara (Cabang).
- Sekitar 350 personel dari TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat terlibat dalam penanganan.
- Luas TNWK mencapai sekitar 125.000 hektare, sehingga pemadaman membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Di tengah penanganan yang belum tuntas di wilayah utara, titik api baru muncul di kawasan perbatasan TNWK dengan PT Great Giant Pineapple (GGP), tepatnya di sekitar Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder.
Warga Desa Pelabuhan Ratu IX, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Iksan Sanjaya, bercerita titik api di dekat kawasan PT GGP mulai muncul pada Kamis, 22 Oktober 2026.
Menurut Iksan, kebakaran diduga dipicu kondisi vegetasi berupa semak-semak dan alang-alang yang mudah terbakar. Pada titik kebakaran terbesar, tinggi api diperkirakan mencapai empat meter.
“Kalau titik api yang di dekat PT GGP ini mulai muncul tanggal 22 Oktober 2026, itu hari Kamis. Dan titik api yang paling besar bisa sampai empat meter tingginya, karena memang semak-semak alang-alang,” kata Iksan saat dihubungi secara terpisah dari Bandar Lampung.
Iksan berkata, kebakaran di kawasan Rawa Bunder kali ini meluas hingga wilayah Susukan, bahkan menyeberangi sungai yang biasanya menjadi batas alami rambatan api.
Pada kejadian kebakaran sebelumnya, api disebut berhenti di sungai tersebut. Namun kondisi berbeda terjadi tahun ini karena sungai mengering setelah periode kemarau panjang.
“Dulu pernah terjadi kebakaran di situ, tetapi terputus di sungai. Tahun ini, karena kemaraunya panjang dan sungai itu kering, api menyeberang lewat sungai,” ujar Iksan.
Meski api mendekati pagar pembatas TNWK, Iksan menyebut kebakaran tidak sampai menjalar ke permukiman warga. Area terdampak berada di sekitar perbatasan kawasan taman nasional dan perkebunan.
Hujan turun, tapi bara api tetap diwaspadai
Berdasarkan pemantauan TNWK, kebakaran di sekitar Resort Susukan Baru dan Resort Rawa Bunder telah berhasil dipadamkan setelah petugas melakukan penanganan, dibantu hujan yang turun di kawasan tersebut. Petugas masih melakukan penyiraman dan pemantauan untuk mencegah munculnya kembali titik api.
“Kalau yang di sini sudah mati, tetapi terus dipantau dan terus mop-up, dibasahi terus karena takut juga,” sebut Riri.
Dalam penanganan di kawasan perbatasan tersebut, PT GGP diklaim turut membantu menyediakan sumber air dan sarana pemadaman. Riri mengatakan dirinya melihat dua mobil tangki di lokasi ketika ikut berada di lapangan pada malam 24 Oktober 2026, meski belum memperoleh informasi mengenai jumlah keseluruhan kendaraan dan personel perusahaan yang terlibat.
Pantauannya, titik api di sekitar perbatasan tersebut telah padam pada Minggu sore, 25 Oktober 2026. Meski demikian, penyiraman tetap dilakukan untuk memastikan bara tidak kembali menyala.
Kondisi berbeda masih terjadi di kawasan gambut wilayah Cabang. Di lokasi ini, asap dapat kembali muncul beberapa jam setelah area yang terbakar disiram.
“Gambut, namanya gambut, sudah disiram hidup lagi. Gambut kayaknya sudah mati, ternyata siang berasap lagi,” sambungnya.
Menurut dia, kepulan asap putih yang kembali muncul menjadi salah satu tanda proses pemadaman belum benar-benar tuntas. Petugas harus terus membasahi area tersebut dan memadamkan bara yang kembali muncul.
Hingga Senin (26/10), Riri menyebut penanganan masih berfokus pada dua lokasi, yakni kawasan gambut di wilayah utara (Cabang) dan lokasi kebakaran di bagian tengah TNWK yang berada di sekitar perbatasan dengan PT GGP. Namun ia belum memperoleh data mengenai total luas kawasan taman nasional yang terbakar.
“Kalau titik sih, kalau saya masih menyebutnya dua titik, ya. Di utara sama yang di sini, di bagian tengah,” ujar Riri.
Ia mengklaim belum ada laporan mengenai gajah yang ditemukan terdampak, kendati kawasan yang terbakar berada di sekitar jalur lintasan gajah liar. Menurutnya, gajah liar memiliki insting untuk menghindari kebakaran.
Berapa banyak taman nasional yang terbakar pada 2026?
Sedikitnya 14 taman nasional di Indonesia dilaporkan mengalami kebakaran sepanjang 2026, dengan sebaran dari Sumatra hingga Papua. Berikut catatan luas dan konteks masing-masing kawasan berdasarkan data yang dihimpun.
| Taman Nasional | Luas terdampak dan catatan |
|---|---|
| Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur | 3.531 hektare (1 Januari–akhir September 2026); setidaknya enam relawan meninggal |
| Kerinci Seblat, Jambi | Total karhutla 1.776 hektare; pendakian ditutup sejak 1 September 2026 |
| Gunung Ciremai, Jawa Barat | Sekitar 30–60 hektare, Oktober 2026 |
| Tambora, Nusa Tenggara Barat | 1.956 hektare per Oktober 2026 |
| Manusela, Maluku | Sekitar 26 hektare di Pasahari; berlangsung sejak 29 Juli 2026 |
| Bukit Baka Bukit Raya, Kalimantan Tengah | 121 hektare pada Agustus 2026, plus sekitar 15 hektare di titik lain |
| Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat | Perkiraan 20 hektare |
| Rawa Aopa Watumohai, Sulawesi Tenggara | Sedikitnya 192 hektare, awal September 2026 |
| Manure Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti, Sumba Tengah | 1,96 hektare, akhir Agustus 2026 |
| Way Kambas, Lampung | 40–100 hektare (Agustus); sekitar 100 hektare (Oktober) |
| Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan | Hampir 26 hektare, September–Oktober 2026 |
| Tanjung Puting, Kalimantan Tengah | Sekitar 1.234 hektare per 20 Oktober (data BNPB) |
| Wasur, Papua Selatan | 8.708 hektare, Januari–Agustus 2026 |
| Lorentz, Papua | 6.532 hektare per Agustus 2026 |
Kebakaran di TNBTS disebut menjadi salah satu peristiwa karhutla paling mematikan lantaran setidaknya enam orang relawan meninggal dunia. Merujuk keterangan Kementerian Kehutanan, kebakaran di kawasan itu mulai terjadi sejak Agustus 2026.
Di TNKS, Balai Besar TNKS mengklaim akumulasi luas lahan yang benar-benar terbakar di dalam zona konservasi tergolong sangat kecil. Penutupan pendakian mencakup jalur Gunung Kerinci dan Gunung Tujuh di Kabupaten Kerinci, serta Gunung Masurai di Kabupaten Merangin.
Pada TN Gunung Ciremai, titik awal kebakaran berada di wilayah Kabupaten Kuningan yang menjadi area dengan sebaran terdampak paling besar. Pada hari berikutnya, terdapat indikasi perambatan api yang mengarah ke wilayah Kabupaten Majalengka.
Balai TN Tambora mencatat setidaknya tiga kejadian kebakaran pada 1–4 September 2026, masing-masing di Resor Kawinda Toi, Jalur Semen dan Kadondo, serta Jalur Pintu Walet Timur Oi Hodo. Dugaan awal menyebut kebakaran di dua jalur terakhir berkaitan dengan rambatan api dari kegiatan pembersihan lahan masyarakat.
Kebakaran di Pulau Seram, Maluku, disebut berlangsung selama berbulan-bulan hingga merambat ke kawasan taman nasional. Peristiwa itu juga diklaim berkaitan dengan munculnya kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Maluku, termasuk Kota Ambon, sampai mengganggu jarak pandang dan aktivitas penerbangan. Pihak balai menduga ada unsur kesengajaan, tapi penyebabnya masih diselidiki.
Akibat peningkatan risiko karhutla, Kementerian Kehutanan menutup sementara aktivitas wisata pendakian di TN Bukit Baka Bukit Raya sejak September 2026. Sementara di TN Rawa Aopa Watumohai, karhutla tahun ini disebut sebagai yang terbesar dan diduga terkait praktik perburuan rusa, dengan lahan rawan terbakar sebagian besar berupa padang sabana, semak, dan lahan gambut.
Kepala Balai TN Bantimurung-Bulusaraung menyebut salah satu penyebab utama meluasnya kebakaran adalah lokasi titik api yang berada di kawasan puncak dan celah-celah karst yang sulit dijangkau petugas. Di TN Tanjung Puting, salah satu upaya pemadaman yang dilakukan adalah mengintensifkan operasi modifikasi cuaca.
TN Wasur didominasi ekosistem sabana dan pohon eukaliptus yang sangat mudah tersulut api, selain juga didorong musim kemarau dan fenomena El Niño yang mempercepat pengeringan vegetasi. Adapun TN Lorentz tercatat sebagai taman nasional terluas kedua yang terdampak karhutla.
Mengapa disebut yang terbesar?
Uli Arta Siagian menyebut karhutla di taman nasional Indonesia sepanjang 2026 menjadi yang terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2019 dan 2023, periode karhutla terbesar lainnya, kebakaran hanya melanda beberapa taman nasional, salah satunya TNBTS.
“Sebelum itu, enggak pernah semasif ini. Termasuk Taman Nasional Tanjung Puting sebelumnya tidak pernah terbakar, kemudian Way Kambas juga sebelumnya sempat turun kebakaran lahannya,” ucap Uli kepada BBC News Indonesia, Senin (26/10).
Ia menyebut beberapa penyebab karhutla di taman nasional sangat masif. Pertama, minimnya jumlah pengawas hutan dibandingkan luasan wilayah, yang menurut klaimnya terjadi di hampir semua taman nasional.
Pemerintah dinilai tidak memanfaatkan teknologi untuk menjawab kekurangan personel di lapangan, seperti yang dilakukan Brasil. Di Brasil, pemerintahnya memasang menara dengan kamera beresolusi tinggi menggunakan algoritma untuk mendeteksi tanda awal asap hampir secara real time, lalu mengirim peringatan langsung kepada tim pemantau. Brasil juga mengembangkan aplikasi yang menggabungkan informasi lokasi, kejadian kebakaran, pergerakan tim, dan catatan operasi.
“Sementara Indonesia punya 57 taman nasional, punya kawasan hutan lainnya dengan fungsi lindung, dan hutan produksi, serta konservasi. Tapi aparat yang menjaga itu atau polisi hutannya enggak banyak.”
“Kondisi itu menunjukkan bahwa gap antara jumlah pengawas dengan luas wilayah yang harus diawasi. Sebenarnya gap ini bisa dijawab dengan teknologi gitu,” tegasnya.
Kedua, tidak dimaksimalkannya peran masyarakat di sekitar kawasan taman nasional lantaran tak adanya pengakuan dari pemerintah. Padahal menurut Uli, peran masyarakat bisa menjadi ujung tombak dalam melindungi hutan termasuk taman nasional.
“Logika sederhananya begini, ngapain sih negara menguasai begitu banyak hutan, taman nasional, tapi tidak bisa menjaga? Padahal sebenarnya ketika taman nasional di bawah penjagaan masyarakat, entah itu wilayah adat atau wilayah kelola, taman nasionalnya terjaga. Kenapa tidak diakui keberadaan mereka?” ungkapnya.
“Karena enggak ada korelasi yang erat antara adanya Satgas dengan perlindungan taman nasional. Justru setelah adanya Satgas, banyak taman nasional yang terbakar.”
— Uli Arta Siagian, Walhi Nasional
Ketiga, minimnya peran Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang dibentuk Presiden Prabowo. Satgas yang diketahui diketuai adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo, itu sedianya bertujuan mendapatkan pendanaan alternatif tanpa menjadikan kawasan konservasi sebagai ajang komersialisasi masif.
Sayangnya, Uli menilai Satgas telah gagal menjaga wilayah taman nasional dengan begitu masifnya kejadian kebakaran. Ia bahkan mencurigai dana yang diperoleh dari klaim menjaga taman nasional “tidak sampai ke bawah”.
“Artinya kan ini kegagalan yang berlipat-lipat ya. Jadi sebenarnya tugas Satgas Taman Nasional ini selain pencarian dana, apa?” sambungnya.
“Tidak ada jaminan uang itu dipakai untuk benar-benar menjaga dan melindungi wilayah tersebut. Kami membacanya Satgas ini lebih kental dimensi profit oriented.”
Itu sebabnya ia menilai Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional sebaiknya dibubarkan.
Apa dampak kebakaran di taman nasional?
Walhi Nasional mendesak kepolisian turut menyelidiki insiden kebakaran di taman nasional, tidak hanya di kawasan konsesi. Merujuk pada Undang-Undang Kehutanan serta Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, ketika terjadi kebakaran di satu wilayah—baik konsesi maupun kawasan hutan di bawah kendali negara—maka melekat tanggung jawab di dalamnya.
Artinya, pemilik konsesi atau kementerian yang diberikan kewenangan menjaga kawasan harus dimintai pertanggungjawabannya.
“Jadi mau ada faktor sengaja atau tidak sengaja, kita harus melihat tanggung jawabnya. Kalau ada faktor tidak sengaja, berarti mereka tidak menjalankan fungsi-fungsi pengawasan taman nasional,” papar Uli.
Dalam peristiwa kebakaran di TNWK, hingga saat ini belum ada satwa yang dilaporkan terdampak. Tapi menurut Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Irfan Tri Musri, ketika habitat gajah mengalami perubahan, penyusutan, bahkan kehilangan tutupan lahan, ada potensi gajah kehilangan wilayah jelajah.
“Kedua, ada potensi gajah kehilangan sumber pakan, dan memicu interaksi gajah di luar taman nasional,” jelasnya kepada BBC News Indonesia, Senin (26/10).
Hal lain yang juga dicermati, terbakarnya taman nasional dapat membunuh satwa secara langsung. Satwa yang selamat pun bisa kehilangan tempat berlindung, sumber makanan, tempat berkembang biak, dan akses menuju sumber air.
Akibatnya, satwa terpaksa berpindah ke hutan lain, perkebunan, atau permukiman. Perpindahan ini meningkatkan risiko konflik dengan manusia, termasuk ketika satwa mencari makanan di kebun.
Dalam jangka panjang, saat habitat rusak dan sumber makanan berkurang, satwa yang populasinya sudah kecil atau memiliki wilayah jelajah terbatas bisa menghadapi risiko lebih besar, yakni kepunahan.
Jurnalis Robertus di Lampung berkontribusi untuk laporan ini.
Pertanyaan Umum
Berapa taman nasional yang terbakar sepanjang 2026?
Sedikitnya 14 taman nasional dilaporkan mengalami kebakaran sepanjang 2026, mulai dari Bromo Tengger Semeru hingga Lorentz di Papua.
Mengapa kebakaran di Way Kambas sulit dipadamkan?
Sebagian titik api berada di lahan gambut wilayah Cabang, tempat bara dapat kembali menyala dan asap muncul lagi beberapa jam setelah disiram. Kawasan itu juga belum padam total hingga Senin (26/10).
Apa penyebab masifnya kebakaran menurut Walhi?
Walhi menyoroti minimnya jumlah pengawas hutan dibanding luas wilayah, tidak dimaksimalkannya peran masyarakat sekitar kawasan, serta kinerja Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang dinilai gagal menjaga kawasan.
Sumber: BBC News Indonesia
