Dua warga di lokasi terpisah di Sumatra dan Kalimantan diduga meninggal dunia akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga kini belum ada laporan resmi jumlah korban meninggal akibat asap karhutla, sementara indeks kualitas udara di sejumlah titik di kedua pulau itu berada pada fase membahayakan bagi kesehatan.
Kasus kematian itu mencuat bersamaan dengan sorotan aktor sekaligus pegiat lingkungan Leonardo DiCaprio, yang melalui akun Instagram @leonardodicaprio mengunggah video pendek terkait karhutla di Indonesia pada Sabtu (03/10). Ia menyebut lebih dari lima juta orang telah terdampak asap karhutla.
Sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan dilaporkan berada pada level tertinggi “sangat berbahaya bagi kesehatan” dalam beberapa hari terakhir. Warga terdampak mengeluhkan mata pedih seperti disiram pasir, hidung dan tenggorokan berlendir atau kering dan gatal.
Bagi kelompok rentan, seperti warga dengan penyakit bawaan, kondisi ini jauh lebih berbahaya. Sebuah riset menunjukkan paparan partikel berbahaya dari asap yang intens berkaitan dengan sekitar 33.100 kematian prematur orang dewasa dan 2.900 bayi.
Organisasi masyarakat sipil melaporkan pola karhutla yang berulang bukan semata faktor cuaca, melainkan “akumulasi krisis” akibat lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut. Analisis citra satelit yang dikelola menunjukkan hampir sepertiga titik sumber asap berada di wilayah konsesi perusahaan.
Di sisi lain, pemerintah dan aparat penegak hukum mengklaim telah mengusut pembakaran lahan dan hutan yang dilakukan perorangan maupun korporasi.
Kisah pengemudi ojol di Palembang
Bendera kuning terpancang di sekitar Jalan Mataram di Kertapati, Palembang, Sumatra Selatan. Simbol itu menjadi penanda kepergian pengemudi ojek online, Hardiansyah, setelah mengeluh sesak napas dan asmanya kambuh saat bangun pagi, Jumat (02/10).
Istrinya, Rika Yunita Sari, menceritakan ulang hari kelam keluarganya itu. Sekitar pukul 07.00 WIB, Hardiansyah baru saja membuka mata. Namun Rika melihat ketidakwajaran dari suara napas suaminya yang punya riwayat penyakit asma.
“Tidak sempat lagi kasih obat. Sudah panik dan langsung ke RS Bari Palembang,” kata perempuan 39 tahun saat ditemui di kediamannya, Senin (05/10). Di hari itu, ia yakin asap karhutla benar-benar sudah membekap di dalam rumah.
Jarak rumah sakit memerlukan waktu tempuh sekitar 30 menit. Tapi pagi itu lalu lintas padat, sehingga waktu perjalanan makin bertambah. Rika melihat napas suaminya semakin tersenggal-senggal.
Setibanya di RS Bari Palembang, pria 41 tahun ini sempat mendapat pemeriksaan. Tapi sekitar pukul 08.30 WIB, tim medis menyatakan nyawa Hardiansyah tak tertolong. Ia meninggalkan istri, satu orang putra berumur 18 tahun dan putri berusia 14 tahun.
| Nama | Hardiansyah |
|---|---|
| Usia | 41 tahun |
| Profesi | Pengemudi ojek online |
| Riwayat | Asma sejak lahir |
| Waktu meninggal | Jumat (02/10), sekitar pukul 08.30 WIB |
| Tempat | RS Bari Palembang |
Rika mengaku suaminya punya riwayat asma sejak lahir. Kondisi kabut asap membuatnya berkali-kali kesulitan bernapas, batuk, dan tenggorokan terasa gatal. Kondisi asmanya sempat memburuk pada 15 September 2026 seiring kabut asap pekat di Kota Palembang, meski saat itu kondisinya bisa teratasi dengan konsumsi obat dan inhaler dari dokter.
Hardiansyah adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab, kata Rika. Namun kadang ia mengabaikan kondisi kesehatannya demi nafkah keluarga. Meski kabut asap sedang pekat, ia tetap tancap gas mencari orderan penumpang.
“Suami memang tulang punggung keluarga, hanya dia yang bekerja,” katanya.
Hardiansyah sudah lebih dari lima tahun bekerja sebagai pengemudi ojol. Ia mengemudikan mobil dan sepeda motor secara bergantian. Saat kabut asap menebal, pesanan penumpang sepeda motor jauh lebih banyak masuk ke akunnya.
“Tetap bawa obat dan pakai masker kalau bawa motor, tapi kalau bawa mobil tidak pakai masker,” ucapnya.
Dengan mata berkaca-kaca, Rika bercerita kesan hari-hari terakhir bersama suaminya. Dia bilang, Hardiansyah banyak menunjukkan perhatian ke keluarga, tapi saat itu ia tak menangkap hal itu sebagai sebuah tanda perpisahan.
“Saya hanya ibu rumah tangga saja, sudah lama berhenti bekerja. Sekarang rencana ke depan belum terpikir, tapi mau tidak mau harus bekerja lagi,” kata lulusan pendidikan bidan ini.
Pada Jumat sore setelah azan Ashar, jenazah Hardiansyah langsung dikebumikan di pemakaman dekat rumahnya. Berita kematiannya viral di media sosial, dan sebagian warganet meyakini kematian pengemudi ojol itu berkaitan langsung dengan asap karhutla.
Pemerintah belum bisa menyimpulkan penyebab
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan penyebab kematian Hardiansyah tak bisa disimpulkan semata karena asap. Harus melalui prosedural medis seperti autopsi, katanya.
“Please ya… kalau untuk yang meninggal, saya tidak bisa membenarkan atau menolak. Sebab penyebab meninggal harus hasil autopsi, tidak bisa diprediksi,” katanya singkat.
Kabar duka yang viral ini belum diketahui Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) dr. Farida Aryani. Belum ada laporan yang masuk ke Dinkes Sumsel, katanya.
“Belum tahu juga meninggal dunia karena apa. Karena ISPA itu banyak penyebabnya, bisa karena bakteri seperti TB, influenza, kondisi gizi memburuk, iritasi tenggorokan, sakit mata dan lainnya. Banyak faktor penyebabnya,” ungkapnya.
Namun untuk kasus komorbid, lanjut Farida, ia merekomendasikan pasien harus langsung ditangani rumah sakit. Jika pasien punya kartu BPJS Kesehatan, akan langsung dilayani rumah sakit pemerintah. Jika tidak, Dinkes Sumsel akan membantu melalui program layanan gratis.
Asap karhutla di Sumsel berdampak hampir di seluruh kabupaten/kota. Data Sipongi Kemenhut menunjukkan jumlah titik panas sebanyak 2.041 per 6 Oktober 2026. Asap terbanyak berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Musi Banyuasin (Muba).
Data kualitas udara versi Kementerian Lingkungan Hidup pukul 15.00 WIB di tanggal yang sama menunjukkan asap di Sumsel masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya. Khusus Palembang menduduki posisi tertinggi dengan nilai ISPU 832, yang berarti berbahaya.
Di tengah situasi ini, ratusan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di kantor Pemprov Sumsel pada Senin (05/10). Mereka menuntut pemerintah segera mengatasi karhutla dan dampaknya. Tuntutan yang sama dilontarkan Rika Yunita Sari, yang ingin tak ada lagi korban lain, terutama kelompok rentan seperti anak dan lansia.
Guru di Banjarmasin meninggal setelah sesak napas
Seorang guru sekolah dasar (SD) di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas di tengah kabut asap yang menyelimuti kota pada akhir September. Ia punya riwayat asma yang, menurut keluarganya, semakin sering kambuh selama periode tersebut.
“Tolong jagakan anak ulun (saya).”
Itu pesan terakhir Lisna, guru SDN Tanjung Pagar 3, kepada ibunya, Marhamah, Sabtu malam (26/09). Siang harinya, Lisna masih ngobrol seperti biasa. “Habis magrib, masih sehat,” kata Marhamah.
Sekira pukul 21.00 WITA, Lisna mulai mengeluhkan sakit di dada. Napasnya kembang-kempis.
Keluhan itu bukan sesuatu yang sama sekali baru bagi keluarganya. Lisna punya riwayat asma dan sudah terbiasa menggunakan nebulizer ketika penyakitnya kambuh. Malam itu, ia kembali meminta bantuan ibunya.
“Ma, uapkan ulun Ma. Sakit dada ulun. Napasnya sesak,” kata Marhamah menirukan keluhan anaknya.
Ia kemudian memasangkan nebulizer. Satu botol obat dihabiskan, tetapi sesaknya belum mereda. Lisna lalu meminta ayahnya membelikan satu botol lagi. Tasrifin pergi mencari obat, sementara keluarga mulai bersiap membawa Lisna ke rumah sakit dengan meminjam mobil tetangga.
Mereka saling memeluk. Lisna kemudian menyampaikan pesan kepada ibunya, bukan tentang dirinya, melainkan tentang anak perempuan yang akan ditinggalkannya.
“Ma, padahkan lawan Abah, lawan Aa (bilang ke Abah dan Kakak), tolong jagakan anak ulun.”
Lisna kemudian dibawa ke RSUD Ansari Saleh Banjarmasin. Menurut keluarga, sebelum sempat menjalani pemeriksaan lebih lanjut, Lisna dinyatakan meninggal dunia. Kepergiannya merupakan kisah pilu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh keluarga.
Marhamah mengatakan putrinya sering bolak-balik ke sekolah selama periode asap karhutla. Dari rumahnya di Sungai Andai, Banjarmasin Utara, ia perlu waktu setengah jam ke sekolah. Perjalanan itu melewati sejumlah kawasan yang pada September diselimuti kabut asap.
“Mulai sini kan (Sungai Andai) sudah kabut asap. Lalu ke sekolah di Tanjung Pagar,” katanya.
Marhamah bilang, serangan asma Lisna jauh lebih sering dibandingkan biasanya. Nebulizer yang sebelumnya hanya digunakan kira-kira sebulan sekali, terutama ketika Lisna kelelahan, saat itu hampir setiap hari digunakan.
“Tahun ini yang parah. Kalau tahun-tahun sebelumnya tidak separah ini,” ujar Marhamah.
Lisna juga beberapa kali izin tidak ke sekolah saat sesaknya muncul di pagi hari. Sekolah mengetahui kondisi kesehatannya dan memahami kekhawatiran keluarga. “Sekolah mengerti saja,” jelasnya.
Kepala SDN Tanjung Pagar 3, Zainal Abidin Asmari mengonfirmasi Lisna secara khusus melaporkan kondisi asmanya pada 21 September. Zainal kemudian meminta Lisna tidak datang ke sekolah.
“Senin itu sudah melapor yang bersangkutan bahwa ada asma. Ya sudah, kata saya, tidak usah turun dulu,” katanya.
Namun sejak itu, Lisna tak pernah datang ke sekolah. Sampai akhirnya kabar duka mendahuluinya. Bagaimanapun, Zainal tidak dapat memastikan apakah kabut asap berkaitan langsung dengan kematian guru Lisna.
Kisah Lisna berlangsung bersamaan dengan perubahan kebijakan sekolah di Banjarmasin selama periode kualitas udara memburuk. Pemkot Banjarmasin mulai memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) pada 7 September.
Kebijakan itu sempat dihentikan dan diganti dengan pembelajaran tatap muka terbatas pada 14 September setelah pemerintah menyatakan kualitas udara membaik. Ketika kondisi kembali memburuk, PJJ diberlakukan lagi.
Pada masa itu, murid belajar dari rumah sementara guru masih datang ke sekolah. Beberapa hari setelah Lisna meninggal, kebijakan kembali diperluas. Kebijakan guru bekerja dari rumah diberlakukan.
Marhamah berharap pengalaman yang dialami anaknya menjadi pertimbangan bagi pemerintah ketika mengambil kebijakan serupa pada masa mendatang. Ia terutama memikirkan guru-guru lain yang memiliki kondisi kesehatan seperti Lisna.
“Mudahan pemerintah bijaksana menanggapi yang seperti ini. Kayak apa ke depannya guru-guru yang lain? Jangan hanya anak murid yang diminta PJJ. Mudah-mudahan ada kebijaksanaan,” harap Marhamah.
Temuan riset soal kematian dini akibat asap
Sejauh ini belum ada pencatatan resmi kematian warga yang diduga berkaitan dengan asap karhutla. Tapi sebuah penelitian menunjukkan asap karhutla di Sumatra dan Kalimantan yang mengandung partikel halus berkaitan dengan kematian dini.
Studi yang diterbitkan jurnal Environmental Health pada 2022 menunjukkan asap karhutla dapat menyebabkan beban kesehatan yang sangat besar. Jurnal yang ditulis peneliti dari Wageningen University and Research Centre, Lars Hein dkk., menyebutkan rata-rata setiap tahun asap karhutla di Sumatra dan Kalimantan berkontribusi pada sekitar 33.100 kematian dini orang dewasa, 2.900 kematian bayi, 4.390 rawat inap akibat penyakit pernapasan, serta 635.000 kasus serangan asma berat pada anak. Angka kematian ini adalah estimasi permodelan, bukan hasil pencatatan langsung.
Salah satu poin terpenting dari riset bertajuk Dampak Kesehatan Kebakaran Gambut di Indonesia menyebutkan dampak kesehatan dari asap karhutla tidak hanya terjadi pada periode kehadiran kabut asap yang pekat. Penelitinya berargumen kebakaran berulang tiap tahun meningkatkan paparan PM2.5 jangka panjang.
PM2.5 — partikel sangat halus yang bisa masuk jauh ke paru-paru dan aliran darah.
Paparan jangka panjang diketahui memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap mortalitas dibanding episode singkat polusi ekstrem.
Sorotan Leonardo DiCaprio
Leonardo DiCaprio lewat akun Instagram @leonardodicaprio mengunggah video pendek terkait karhutla di Indonesia, Sabtu (03/10). Video ini dimulai dengan sorotan seekor orangutan bergelayutan, terjebak di atas pohon dengan asap kebakaran yang mengambang di sekitarnya.
“Darurat: Kalimantan sedang kebakaran, lebih dari setengah populasi dunia orangutan Kalimantan dalam bahaya,” tulis video tersebut.
“Orangutan Kalimantan terlihat melarikan diri dari hutan yang terbakar seiring hilangnya habitat mereka. Orangutan ini diselamatkan BKSDA di Kalimantan Tengah dengan dukungan BOS Foundation, dan kini berada dalam perawatan dokter hewan,” tulis DiCaprio dalam takarir.
Peraih Piala Oscar itu bukan hanya menyinggung dampak kebakaran pada satwa liar, tapi juga pada warga. Ia menyebut lebih dari lima juta orang telah terpapar asap kebakaran hutan.
Per Senin (05/10), unggahan ini mendapat 245.000 suka dan 16.300 kali dibagikan. Kolom komentarnya ditutup, tapi banyak media nasional mengunggah kembali video tersebut.
Banyak kritik dari warganet atas penanganan karhutla, termasuk mempertanyakan apakah Indonesia masih layak menjadi paru-paru dunia. Dalam ulasan yang ditulis Kompas.com, pemeran utama film Titanic ini bukan pertama kali memberi perhatian pada hutan Indonesia.
Ia pernah menghabiskan akhir pekan di Taman Nasional Gunung Leuser, Sumatra, bersama aktor Adrien Brody dan Fisher Stevens, dan bertemu tiga orangutan Sumatra di stasiun penelitian taman nasional tersebut. Kunjungan itu berlangsung satu dekade lalu. Yayasan miliknya disebut menyumbangkan Rp269 miliar (kurs terkini) untuk pemulihan lingkungan Pulau Sumatra.
Pada Juni 2019, DiCaprio juga mengunggah foto orangutan dan menyoroti hilangnya populasi satwa dilindungi ini di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya akibat penebangan hutan dan perburuan liar.
Pantau Gambut: separuh lahan terbakar jadi kebun sawit dan akasia
Juru Kampanye Senior Pantau Gambut, Putra Saptian merespons keprihatinan DiCaprio. Menurutnya, karhutla yang berulang bukan hanya berdampak pada satwa dan manusia, tapi juga kebudayaan masyarakat setempat. Karhutla merusak hubungan timbal balik antara alam dengan masyarakat adat, kebudayaan, bahasa, interaksi sosial, dan identitas spiritual.
“Bukan hanya kehilangan sumber pangan, tetapi ini akan berkaitan dengan rusaknya sumber penghidupan dan juga kebudayaan yang ada pada area ekosistem gambut yang rusak,” katanya.
Analisis Pantau Gambut pada kasus karhutla periode 2015-2025 mengungkap lebih dari setengah atau 54% dari seluruh luasan hutan dan lahan yang terbakar telah berubah menjadi kebun sawit dan akasia. Sebanyak 41% berubah menjadi semak belukar, dan hanya 3% lahan yang benar-benar kembali menjadi hutan.
Menurut Putra, karhutla yang berulang tak lepas dari perubahan ekosistem gambut seiring dengan pemberian izin usaha. Pantau Gambut melaporkan terdapat 936 izin perusahaan yang menguasai 8,3 juta hektare atau sepertiga total kesatuan hidrologis gambut di berbagai wilayah Indonesia.
Konsesi ini meliputi Hak Guna Usaha (HGU) sawit, Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), Hutan Alam (HA), hingga Reklamasi Ekosistem (RE). Putra bilang, pembangunan kanal di kawasan konsesi berkontribusi pada pengeringan gambut yang dapat meningkatkan risiko kebakaran.
Berbagai kajian menunjukkan kanal di lahan gambut lazim digunakan untuk keperluan drainase dan pengaturan muka air pada perkebunan sawit maupun hutan tanaman industri seperti akasia.
“Bagi kita sebenarnya kebakaran hutan yang terjadi saat ini tidak bisa hanya dikaitkan dengan konteks musim kemarau. Dalam riset kita, kebakaran hutan yang terjadi saat ini merupakan bagian dari akumulasi krisis yang terjadi akibat lemahnya perlindungan dan tata kelola ekosistem gambut di Indonesia,” katanya.
Dalam temuan lainnya, Greenpeace Indonesia melaporkan telah menangkap 6.811 titik sumber asap yang tersebar di Indonesia melalui citra satelit, selama periode 8 Agustus hingga 1 Oktober 2026. Titik sumber asap ini terbanyak di Kalimantan Tengah (1.728), Papua Selatan (1.413), Kalimantan Barat (1.240), Sumatra Selatan (953) dan sisanya di Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi serta Riau.
“Mungkin jarang dibicarakan, selama ini Pulau Kalimantan dan Sumatra, ternyata Papua menjadi episentrum baru,” kata Juru Kampanye Hutan Greenpeace Indonesia, Belgis Habiba.
Dari temuan ini, hampir sepertiga titik sumber asap berada di dalam 120 konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dan 233 konsesi perkebunan kelapa sawit. Selain itu, sebanyak 3.557 titik berada di dalam 141 kawasan kesatuan hidrologis gambut (KHG), serta 2.719 titik ditemukan berulang pada areal yang pernah terbakar pada periode 2015–2023.
“Data ini membuktikan keengganan pemerintah dalam menindak tegas para penjahat lingkungan yang terus beroperasi di wilayah rawan bencana. Krisis ini bahkan telah menembus batas-batas teritorial dan memicu ketegangan lintas negara,” tambah Belgis.
Klaim penegakan hukum dan sanksi karhutla
Kementerian Kehutanan baru-baru ini mengklaim telah memproses 46 subjek hukum terkait karhutla di 10 provinsi. Dari puluhan subjek hukum tersebut, sebanyak 17 dalam tahap penyelidikan, 27 penyidikan, dan dua perkara siap masuk persidangan.
Dari 27 subjek hukum pada tahap penyidikan, lima di antaranya merupakan korporasi dan 22 lainnya perorangan. Penanganan perkara tersebut tersebar di Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
“Pengawasan ini tidak berhenti pada penerbitan sanksi saja maupun pengenaan pidana, namun pelaksanaan kewajiban akan terus kita lakukan evaluasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku,” kata Direktur Pengawasan dan Pengenaan Sanksi Administratif Kementerian Kehutanan Adi Rizman, Selasa (29/09).
Dalam keterangan sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengklaim pihaknya telah mencabut lima izin perusahaan terkait karhutla. Keberadaan perusahaan ini tersebar di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
“Ini bagian dari perintah Bapak Presiden ya, penegakan hukum yang tidak pandang bulu, tidak hanya kepada yang kecil, tidak hanya tajam pada yang kecil, tapi juga tajam ke atas,” katanya, pertengahan September lalu.
Lima perusahaan yang diklaim izinnya dicabut yakni PT Wana Lestari Jaya, PT Prima Multi Buana, PT Pancaran Wana Nusa, PT Grace Putri Perdana dan PT Babugus Wahana Lestari. Menhut Raja Antoni menyebut total luas konsesi dari lima perusahaan tersebut mencapai 92.464 hektare.
Menhut mengklaim pencabutan izin tersebut berkaitan dengan pelanggaran yang dilakukan perusahaan. Ia menegaskan pemegang konsesi atau PBPH punya kewajiban menjaga kawasan serta memenuhi kewajiban yang melekat pada izin yang diberikan.
“Namun sekali lagi karena mereka mengabaikan, tidak peduli dengan hal itu,” katanya pertengahan September 2026. Hingga berita ini diterbitkan, kelima perusahaan belum mengeluarkan keterangan resmi terkait keputusan pencabutan izin tersebut.
Sebulan sebelumnya, Kemenhut membuat klaim telah menjatuhkan sanksi administrasi apa yang disebut “Paksaan Pemerintah” kepada enam perusahaan. Satu perusahaan di antaranya disanksi Paksaan Pemerintah sekaligus dibekukan izin usahanya karena area konsesi yang didudukinya mengalami kebakaran berulang.
Sanksi Paksaan Pemerintah yaitu perusahaan diwajibkan melakukan perbaikan sistem pengendalian kebakaran serta pemulihan pada areal yang terdampak.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengeklaim telah menindaklanjuti 57 perusahaan yang teridentifikasi memiliki area terbakar seluas 34.636 hektare melalui pidana, perdata dan sanksi administrasi. Hasil verifikasi lapangan KLH menunjukkan 17 dari 57 perusahaan memiliki riwayat kejadian karhutla berulang. Puluhan perusahaan ini tersebar di delapan provinsi di Pulau Kalimantan, termasuk Sumatra Selatan, Riau, dan Lampung.
Langkah hukum terkait karhutla juga dijalankan kepolisian. Korps Bhayangkara telah menetapkan 162 orang dan 95 perusahaan sebagai tersangka dalam kasus pidana karhutla.
“Kami telah menangani 219 perkara dalam kasus kebakaran hutan dan lahan. Penanganan perkara ini tersebar di 12 kepolisian daerah,” kata Direktur Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Polri, Brigadir Jenderal (Pol) Mohammad Irhammi, pertengahan September seperti dikutip Kompas.
Di waktu hampir bersamaan, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) secara resmi melaporkan 372 perusahaan yang terindikasi terlibat karhutla kepada tiga kementerian: Kemenhut, KLH, dan Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Dari laporan ini, WALHI mengonfirmasi sudah ada sejumlah perusahaan yang dicabut izinnya oleh Kemenhut. Tapi itu belum cukup.
“Pencabutan izin ini merupakan langkah penting untuk memastikan perusahaan menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya dalam menjaga areal kerja. Namun, langkah ini tidak boleh berhenti pada lima perusahaan ini saja,” kata Umi Ma’rufah, Pengkampanye Hutan dan Kebun WALHI Nasional.
Jurnalis Nefri Inge di Sumatra Selatan dan Donny Muslim di Kalimantan Selatan berkontribusi dalam artikel ini.
Pertanyaan Umum
Berapa jumlah korban meninggal akibat asap karhutla?
Hingga saat ini belum ada laporan resmi jumlah warga yang meninggal akibat asap karhutla. Dua kasus dugaan kematian akibat asap tercatat di Palembang dan Banjarmasin, namun penyebab pastinya masih menunggu prosedur medis seperti autopsi.
Mengapa kualitas udara di Sumatra dan Kalimantan disebut berbahaya?
Sejumlah titik terdampak karhutla di kedua pulau masuk level tertinggi “sangat berbahaya bagi kesehatan”. Khusus Palembang, nilai ISPU tercatat 832 per 6 Oktober 2026, yang berarti berbahaya. Warga mengeluhkan mata pedih, hidung serta tenggorokan berlendir atau kering dan gatal.
Siapa yang menyoroti karhutla Indonesia dari luar negeri?
Aktor sekaligus pegiat lingkungan Leonardo DiCaprio melalui akun Instagram @leonardodicaprio pada Sabtu (03/10). Ia menyebut lebih dari lima juta orang telah terpapar asap kebakaran hutan, dan menyoroti nasib orangutan Kalimantan yang kehilangan habitat.
Sumber: BBC News Indonesia
