“Jangan Lagi Jadi Penonton di Atas Emas & Gas Sendiri”
Manokwari_HARIANESIA.COM_Eduard Orocomna, S.T., Anggota Majelis Rakyat Papua Barat (MRPB) Pokja Adat Teluk Bintuni, menegaskan kekayaan alam Kabupaten Teluk Bintuni yang melimpah harus menjadi sumber kehidupan bagi seluruh masyarakat adat dan penduduk setempat.
“Kabupaten kita terluas di Papua Barat, 18.637 km². Punya Tangguh LNG, pusat energi nasional. Punya 236 ribu hektare mangrove, paru-paru dunia. Ada udang, ikan, kepiting. Tapi rakyat masih tanya: mana makmurnya?” tegas Eduard, dalam keteranganya yang diterima redaksi Rabu (15/7/2026).
Kekayaan Bintuni: Dari Gas Hingga Mangrove
Eduard memaparkan, Teluk Bintuni adalah rumah bagi proyek gas alam cair Tangguh LNG yang vital bagi Indonesia. Di saat bersamaan, wilayah ini memiliki ekosistem hutan mangrove seluas lebih dari 236.000 hektare, salah satu terluas di dunia dan krusial sebagai penyimpan karbon untuk mitigasi iklim global.
Lebih Lanjut Eduard menegaskan “Selain migas, Teluk Bintuni kaya hasil laut bernilai tinggi. Potensi ekowisata mangrove berbasis komunitas juga terus didorong pemerintah daerah.
Wilayah ini dihuni 84.777 jiwa dengan kepadatan 4,4 jiwa per km². Tujuh suku asli menjaga tradisi dan alam: Sebyar, Wamesa, Kuri, Irarutu, Moskona, Sough, dan Sumuri tandasnya.
Harapan MRPB: OAP Kelola SDA, Pendidikan Jadi Kunci
Menurut Eduard, semua kekayaan itu harus berujung pada satu hal: masyarakat adat yang makmur, bermartabat, dan berpendidikan tinggi.
“Harapan saya, anak-anak 7 suku harus sekolah sampai doktor. Biar mereka yang bangun dan kelola gas, mangrove, ikan, udang di tanah sendiri. Jangan lagi kita jadi penonton di atas emas dan gas sendiri,” ujarnya.
MRPB mendorong Pemkab Bintuni agar:
1. Prioritaskan beasiswa pendidikan tinggi untuk anak adat 7 suku, khusus jurusan energi, kelautan, kehutanan, dan ekonomi hijau.
2. Libatkan lembaga adat dalam perencanaan proyek SDA, termasuk Tangguh LNG dan ekowisata.
3. Pastikan DBH Migas dan Dana Otsus sampai ke kampung adat untuk pendidikan, kesehatan, dan ekonomi produktif.
4. Bangun SDM lokal agar bisa kerja di Tangguh LNG dan kelola ekowisata mangrove, bukan hanya jadi buruh kasar.
“Pendidikan tinggi adalah kunci. Kalau anak adat pintar, SDA melimpah ini baru jadi berkat. Bukan kutuk,” tutup Eduard.
(DW)
