JAYAPURA_HARIANESIA.COM— Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman menegaskan bahwa media massa memiliki peran strategis sebagai kekuatan informasi yang membentuk opini publik, membuka kesadaran, dan mendorong perubahan sosial.
Pernyataan ini disampaikan dalam seri kelima refleksi publiknya bertajuk “Media Massa Membentuk Opini Publik”, Ita Wakhu Purom, 20 Mei 2026.
“Media massa bersuara melalui informasi, fakta, dan pemberitaan yang membentuk kesadaran publik serta mendorong perubahan,” ujar Dr. Yoman.
3 fungsi utama media massa di era informasi
Menurut Dr. Yoman, ada tiga fungsi utama yang harus dijalankan media massa di tengah derasnya arus informasi saat ini:
Pertama.
Media massa menyebarkan informasi dan memperluas jangkauan kesadaran publik. Media menjadi jembatan antara peristiwa dengan masyarakat luas.
kedua, media massa membentuk opini, diskusi, dan respons masyarakat. Siapa yang menguasai arus informasi, dia akan sangat memengaruhi cara publik memahami kenyataan.
ketiga, media dapat menjadi alat kontrol sosial, keadilan, dan perubahan. Lewat pemberitaan yang kritis dan berimbang, media mampu mengoreksi kebijakan, menyuarakan yang tertindas, dan mendorong perbaikan.
“Media bukan hanya menyampaikan berita. Ia membentuk opini, memperluas kesadaran, membuka ruang diskusi, dan menjadi alat kontrol sosial,” tegasnya.
“Empat kekuatan yang ditakuti penguasa”
Dr. Yoman juga mengingatkan bahwa ada “Empat Kekuatan yang Ditakuti Penguasa”, yaitu: 1. buku, 2. film, 3. media massa, 4. aksi demo.
“Keempatnya punya daya untuk membangun kesadaran kritis, mengorganisir rakyat, dan menuntut keadilan. Karena itu sering menjadi sasaran tekanan,” jelasnya.
Ia mencontohkan situasi yang dihadapi insan pers di Papua. Seperti peristiwa _Teror Media Jubi_ dan kasus hukum _30M Molotov Victor Mambor S/PID.PRA/2024/PN JAP_ yang dikawal oleh aksi _”Jurnalis Untuk Keadilan”.
“Ini menunjukkan bahwa ketika media menjalankan fungsinya dengan benar, maka akan ada upaya untuk membungkam. Tapi justru disitulah pentingnya media tetap berdiri di atas prinsip,” katanya.
4 prinsip yang harus dijaga dan ajakan literasi media
Di tengah tantangan itu, Dr. Yoman menekankan empat prinsip dasar yang wajib dijaga insan pers dan pengelola media: fakta, keberimbangan, tanggung jawab, dan keberanian menyuarakan kemanusiaan.
“Di tengah banjir informasi dan disinformasi, prinsip itu menjadi kompas. Agar media tidak terjebak pada kepentingan sempit,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat menjadi pembaca yang kritis dengan 4 langkah: memeriksa sumber berita, membaca konteks secara utuh, membedakan antara fakta dan opini, serta tidak menyebarluaskan informasi yang belum terverifikasi.
“Literasi media bukan lagi pilihan. Ini kebutuhan agar publik tidak mudah diarahkan oleh narasi yang menyesatkan,” katanya.
Di akhir refleksinya, Dr. Yoman melemparkan pertanyaan reflektif: apakah media hari ini lebih banyak berfungsi membentuk opini, atau justru membantu masyarakat menemukan kebenaran?
Pernyataan ini merupakan bagian dari seri edukasi publik yang secara rutin disampaikan Dr. Socratez Yoman terkait isu Papua, demokrasi, keadilan, dan kemanusiaan.
(DW)




















