Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Filter Pancasila Lawan Hoaks dan Deepfake! DPR RI: Jangan Jadi Budak Algoritma

×

Filter Pancasila Lawan Hoaks dan Deepfake! DPR RI: Jangan Jadi Budak Algoritma

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Webinar Komdigi-DPR RI ungkap tantangan ideologi di era digital, dari ujaran kebencian hingga polarisasi. Ini 5 Kompas Etika Digital yang wajib dipakai sebelum share

Jakarta_HARIANESIA.COM- Pancasila harus menjadi kompas etika di era digital, bukan sekadar hafalan seremonial. Jangan sampai masyarakat jadi budak algoritma. Pesan tegas ini disampaikan Anggota DPR RI Banyu Biru Djarot dalam Webinar Kolaborasi Komdigi dan DPR RI, Senin (22/09/2026).

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Webinar bertema Penguatan Ideologi Pancasila ini menghadirkan Dekan FISIP Untag ’45 Banyuwangi Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto, S.T., M.Si., CPGPA dan pakar pendidikan Dr. Anton Zulkarnain Sianipar, M.Pd.

Baca Juga :  Raker Dengan Camat, Komisi I Inventarisir Masalah di Wilayah

“Perkembangan teknologi membawa tantangan ideologi lewat algoritma, disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi. Gotong royong di era digital harus diwujudkan lewat kolaborasi dan literasi, serta pemerataan konektivitas hingga desa sesuai sila kelima,” ujar Banyu Biru Djarot.

Sementara Dr. Hary Priyanto menegaskan Pancasila adalah fundamen kebangsaan bersama UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Ia mengingatkan tantangan bangsa mulai dari lemahnya penghayatan agama, fanatisme kedaerahan, minim keteladanan pemimpin, hingga tekanan globalisasi.

Menurut Hary, membumikan Pancasila harus lewat internalisasi, bukan konsep saja. Ia mengulas sejarah lahirnya Pancasila dari pidato Soekarno 1 Juni 1945, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, hingga penetapan di Pembukaan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945.

Baca Juga :  HUT ke-6 FORSIREDI, H. Edi Masturo Tegaskan Pentingnya Pendidikan Mental dan Karakter Anak Sejak Dini

Puncak paparan disampaikan Dr. Anton Zulkarnain Sianipar. Ia mengenalkan Pancasila sebagai 5 Kompas Etika Digital: Ketuhanan untuk etika dan toleransi, Kemanusiaan untuk empati dan perlindungan privasi, Persatuan untuk mencegah polarisasi, Kerakyatan untuk dialog sehat, dan Keadilan untuk pemerataan akses teknologi.

Anton juga mengenalkan Filter Pancasila sebelum membagikan informasi: cek sumber, fakta, konteks, emosi, dan dampaknya bagi persatuan bangsa.

Ia mengingatkan, AI memberi peluang untuk pendidikan dan produktivitas, tapi juga berisiko deepfake, bias, plagiarisme, dan kebocoran data.

Baca Juga :  Dunia Maya dan Media Sosial Ramai Posting Peringatan Darurat Garuda Biru

“Teknologi menentukan seberapa cepat kita bergerak, Pancasila menentukan ke arah mana kita bergerak,” tutup Anton. Ia mendorong generasi muda naik kelas dari consumer menjadi _creator, collaborator, hingga digital citizen_ yang kritis dan beretika untuk menuju Indonesia Emas 2045.

(M.CHAIRUL)

 

Narasumber:
– Banyu Biru Djarot – Anggota DPR RI
– Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto, S.T., M.Si., CPGPA – Dekan FISIP Untag ’45 Banyuwangi
– Dr. Anton Zulkarnain Sianipar, M.Pd

Penyelenggara: Webinar Kolaborasi Komdigi – DPR RI | 22 September 2026

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600