Bisnis

Daftar Saham yang Diborong Asing saat IHSG Turun 3,09%

Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia
IHSG melemah 3,09 persen dalam sepekan ke level 6.241,89 pada Jumat (26/9/2026).

Aksi jual bersih pemodal asing membayangi laju pasar modal Indonesia sepanjang pekan keempat September 2026. Tekanan likuiditas tersebut memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tergelincir ke zona defensif seiring derasnya arus modal keluar dari emiten-emiten penggerak indeks.

Hingga penutupan perdagangan pada Jumat (26/9/2026), IHSG melemah 3,09 persen dalam sepekan dan terkunci di level 6.241,89. Penurunan ini mencerminkan minimnya daya beli domestik untuk mengimbangi pelepasan portofolio oleh investor institusi internasional.

Berdasarkan data transaksi Bursa Efek Indonesia, investor asing membukukan net sell senilai Rp 4,39 triliun di seluruh pasar. Gelombang pelepasan aset tersebut berlangsung konsisten hampir di seluruh sesi perdagangan mingguan.

Tekanan Beruntun pada Saham Berkapitalisasi Besar

Pergerakan indeks saham domestik menunjukkan pelemahan yang beruntun sepanjang lima hari bursa. Dari seluruh rangkaian sesi, IHSG hanya sanggup menguat dalam satu hari perdagangan, sementara empat hari sisanya didominasi tekanan jual tajam.

Pada sesi penutupan Jumat (26/9), investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 559,07 miliar di pasar reguler dan negosiasi. Beban jual yang konsisten hingga akhir pekan menahan peluang reli teknikal pada saham-saham unggulan.

Gelombang pelepasan portofolio terpusat pada emiten berkapitalisasi pasar jumbo, terutama emiten sektor perbankan konvensional yang selama ini menjadi penopang bobot IHSG. Likuiditas yang tinggi pada sektor perbankan menjadikannya pintu keluar utama bagi pengelola dana global saat memangkas eksposur di pasar negara berkembang.

Koreksi pada saham perbankan berkapitalisasi besar langsung memberi dampak signifikan terhadap penurunan poin indeks gabungan. Kondisi ini membuat pasar bergerak defensif seraya menguji batas penyangga psikologis berikutnya.

Akumulasi Selektif pada Saham Tambang dan Energi

Kendati pasar secara agregat mengalami tekanan, aliran dana nonresiden tidak sepenuhnya keluar dari seluruh instrumen ekuitas. Sejumlah emiten di sektor komoditas logam dan energi justru mencatatkan akumulasi beli bersih yang terukur.

Pelaku pasar global tampak mengalihkan sebagian likuiditas mereka ke saham-saham berbasis mineral industri dan emas sebagai instrumen lindung nilai. Emiten tambang logam mulia menjadi incaran utama untuk menjaga imbal hasil portofolio di tengah volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian makroekonomi.

Emiten logam emas dan tembaga, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), menempati urutan teratas perburuan asing dengan catatan beli bersih Rp 149,63 miliar sepekan. Tingginya minat akumulasi pada saham ini didorong oleh stabilitas harga komoditas logam dasar di pasar global.

Selain sektor logam, komoditas perkebunan dan energi batubara juga menyerap aliran modal masuk mingguan. Diversifikasi portofolio asing terlihat jelas lewat minat selektif pada emiten yang menawarkan valuasi wajar serta neraca keuangan yang solid.

Daftar Emiten Pembelian Bersih Asing Tertinggi

Pola pergerakan dana menunjukkan bahwa aksi jual asing tidak terdistribusi rata ke semua sektor bursa. Di tengah total penjualan bersih triliunan rupiah, sepuluh saham mencatat arus masuk dana asing paling dominan sepanjang pekan ini.

  • PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp 149,63 miliar di seluruh pasar.
  • PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengamankan aliran modal masuk dari investor asing senilai Rp 82,11 miliar.
  • PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan akumulasi beli bersih pemodal nonresiden sebesar Rp 79,98 miliar.
  • PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) membukukan perolehan dana asing mencapai Rp 67,23 miliar.
  • PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) menghimpun pembelian bersih investor asing senilai Rp 48,70 miliar.
  • PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) menyerap arus dana modal asing sebesar Rp 44,98 miliar.
  • PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) mengantongi pembelian bersih asing sebesar Rp 35,61 miliar.
  • PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan transaksi beli bersih dari luar negeri mencapai Rp 29,44 miliar.
  • PT Singaraja Putra Tbk (SINI) mengumpulkan akumulasi masuk pemodal asing senilai Rp 28,42 miliar.
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membukukan nilai beli bersih sebesar Rp 18,91 miliar.

Daya Tarik Sektor Retail dan Ekosistem Kendaraan Listrik

Di luar sektor tambang dan agribisnis, dana investor luar negeri juga melirik saham-saham yang berkaitan dengan konsumsi domestik serta transformasi industri hijau. Minat ini tercermin pada masuknya modal ke saham ritel gawai dan manufaktur transportasi ramah lingkungan.

Saham ERAA di sektor ritel teknologi komunikasi mengindikasikan optimisme terhadap daya beli produk konsumer menjelang akhir kuartal. Sementara itu, kehadiran VKTR dalam jajaran saham pilihan menggarisbawahi daya tarik proyek komersialisasi transportasi listrik yang sedang berjalan.

Masuknya BREN ke jajaran akumulasi juga menegaskan minat pemodal jangka panjang pada emiten penyedia energi panas bumi. Keberadaan emiten-emiten ini membuktikan bahwa strategi pemilihan saham individual menjadi fokus utama pelaku pasar saat indeks utama bergerak terkoreksi.

Fenomena ini memperlihatkan pemisahan tren antara penurunan indeks secara luas dan pergerakan fundamental spesifik emiten. Meskipun arus dana keluar atau capital outflow masih membayangi bursa secara umum, saham dengan katalis operasional tetap mampu menarik likuiditas institusional.

Minat pada komoditas nikel lewat INCO dan emas lewat BRMS sekaligus melengkapi strategi perburuan aset berbasis sumber daya alam. Portofolio pemodal global di bursa Indonesia kini terlihat lebih terkonsentrasi pada aset yang dapat berfungsi sebagai instrumen safe haven di tengah gejolak pasar kawasan.

Pertanyaan Umum

Berapa penurunan IHSG dan total penjualan bersih asing dalam sepekan terakhir?

IHSG mengalami pelemahan sebesar 3,09 persen hingga mendarat di posisi 6.241,89 pada perdagangan Jumat (26/9/2026). Bersamaan dengan koreksi tersebut, investor asing membukukan total penjualan bersih mencapai Rp 4,39 triliun di seluruh pasar bursa.

Mengapa saham-saham perbankan besar mengalami tekanan jual paling berat?

Saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan memiliki likuiditas transaksi paling tinggi di bursa domestik. Ketika institusi global melakukan perombakan alokasi aset, saham perbankan menjadi instrumen utama yang paling cepat dan likuid untuk merealisasikan penjualan.

Saham apa yang mencatatkan pembelian bersih asing terbesar di tengah pelemahan indeks?

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memimpin daftar pembelian bersih pemodal asing dengan nilai akumulasi sebesar Rp 149,63 miliar sepekan, disusul oleh emiten tambang mineral PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan nilai Rp 82,11 miliar.

Sumber: Kontan

Exit mobile version