Bisnis

RUPSLB BSI Setujui Rights Issue hingga 6,8 Miliar Saham

RUPSLB BSI Setujui Rights Issue hingga 6 — Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo dalam RUPSLB persetujuan rights issue hingga 6,8 miliar saham
RUPSLB BSI pada Jumat (6/11) menyetujui rights issue maksimal 6,8 miliar saham Seri B.

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mendapat restu pemegang saham untuk melancarkan Rights Issue atau Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II). Persetujuan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Jumat (6/11), dengan cakupan penerbitan maksimal 6,8 miliar saham Seri B.

Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo menyatakan langkah ini disiapkan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus memperbesar porsi kepemilikan saham publik (free float). Dorongan modal baru itu diarahkan pada penguatan fundamental bisnis, perluasan basis investor, dan peningkatan daya saing di industri perbankan nasional maupun pasar modal.

Saat ini porsi free float BSI berada di kisaran 9,9 persen. Penambahan saham publik diproyeksikan mendongkrak likuiditas perdagangan saham, sekaligus membuka pintu bagi masuknya investor institusi dan global. Langkah ini juga memperbesar peluang BSI masuk dalam jajaran konstituen indeks saham dunia.

  • RUPSLB pada Jumat (6/11) menyetujui penerbitan maksimal 6,8 miliar saham Seri B.
  • Porsi free float BSI saat ini sekitar 9,9 persen.
  • Kebutuhan permodalan diproyeksi naik dari Rp 51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027.

“Dengan kepemilikan saham publik yang lebih luas, semakin banyak investor domestik maupun global yang berkesempatan untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan BSI. Kami berharap pelaksanaan Rights Issue ini dapat memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia sekaligus mendorong masuknya aliran investasi portofolio asing,” ujar Anggoro melalui keterangan tertulis, Jumat (6/11).

Menurut Anggoro, permodalan yang kuat merupakan fondasi bagi BSI untuk menghadapi berbagai tantangan ekonomi sekaligus menangkap peluang pertumbuhan ke depan.

“Melalui tambahan modal, kami ingin memastikan BSI memiliki capital buffer yang memadai untuk menjaga resiliensi, memperluas kapasitas pembiayaan, serta mendukung pengembangan bisnis secara berkelanjutan.”

— Anggoro Eko Cahyo, Direktur Utama BSI

Ia menegaskan penguatan permodalan ini juga menjadi bagian dari langkah strategis BSI untuk menuju KBMI 4. “Melalui tambahan modal, kami ingin memastikan BSI memiliki capital buffer yang memadai untuk menjaga resiliensi, memperluas kapasitas pembiayaan, serta mendukung pengembangan bisnis secara berkelanjutan. Penguatan permodalan ini juga menjadi bagian dari langkah strategis BSI untuk menuju KBMI 4,” ungkap Anggoro.

Mengejar Kasta KBMI 4

Ekspansi modal ini berpacu dengan proyeksi pertumbuhan bisnis perseroan. Kebutuhan permodalan BSI diprediksi melonjak dari Rp 51,07 triliun pada 2026 menjadi Rp 64,41 triliun pada 2027.

Di saat yang sama, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) diperkirakan melesat dari 20,38 persen menuju 23,31 persen. Kenaikan itu memberi ruang lebih lebar bagi BSI untuk menopang ekspansi pembiayaan tanpa mengorbankan bantalan modal.

Proyeksi kebutuhan permodalan 2026 Rp 51,07 triliun
Proyeksi kebutuhan permodalan 2027 Rp 64,41 triliun
CAR saat ini 20,38 persen
CAR setelah penguatan 23,31 persen

Dengan permodalan yang kian tebal, Anggoro optimistis BSI mengejar target masuk ke kelompok bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4. Jika terealisasi, BSI bakal mencetak sejarah sebagai satu-satunya bank syariah di Indonesia yang bertengger di jajaran kasta tertinggi KBMI 4.

Status itu bukan sekadar simbol. Kelompok KBMI 4 umumnya membuka akses lebih luas terhadap kapasitas pembiayaan berskala besar, kemitraan lintas sektor, dan kepercayaan investor institusional yang selama ini menjadi ukuran kelas sebuah bank.

Dengan fundamental bisnis dan struktur permodalan yang semakin kuat, Anggoro optimistis BSI dapat menjaga pertumbuhan yang sehat, meningkatkan daya saing, serta memperbesar kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Pertanyaan Umum

Apa itu Rights Issue yang disetujui RUPSLB BSI?

Rights Issue atau PMHMETD II adalah penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu kepada pemegang saham. RUPSLB pada Jumat (6/11) menyetujui penerbitan maksimal 6,8 miliar saham Seri B.

Berapa porsi free float BSI saat ini?

Porsi kepemilikan saham publik BSI saat ini berada di kisaran 9,9 persen. Penambahan saham publik diproyeksikan mendongkrak likuiditas perdagangan dan membuka peluang masuknya investor institusi serta global.

Apa target BSI setelah penguatan modal?

BSI mengejar masuk ke kelompok bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 4. Jika terealisasi, BSI akan menjadi satu-satunya bank syariah di Indonesia yang berada di kasta tertinggi KBMI 4.

Sumber: Kumparan

Exit mobile version