Jakarta, 11 Agustus 2026 — Sekretaris Daerah DPD GMNI DKI Jakarta menanggapi pernyataan Bahlil Lahadalia yang ramai diperbincangkan publik terkait peluncuran buku barunya dan pernyataan yang menyeret nama Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.
Menurut Sekda DPD GMNI DKI Jakarta, peluncuran buku seharusnya menjadi ruang untuk menawarkan gagasan dan pertanggungjawaban intelektual kepada publik, bukan momentum untuk merendahkan atau membandingkan diri dengan tokoh politik lainnya.
“Kalau seseorang meluncurkan buku, ukurannya seharusnya adalah kualitas gagasan yang ditawarkan, bukan seberapa jauh dia bisa menyindir atau merendahkan tokoh lain. Jangan menjadikan buku sebagai panggung untuk mencari legitimasi politik,” tegasnya.
Ia menyayangkan apabila benar terdapat pernyataan yang membawa-bawa Cak Imin dalam konteks kepemilikan atau kualitas buku. Menurutnya, Cak Imin memiliki perjalanan panjang dalam dunia politik, organisasi, pemerintahan, dan pemikiran kebangsaan sehingga tidak tepat jika kapasitas seseorang diukur hanya dari siapa yang memiliki atau menerbitkan buku.
“Cak Imin tidak perlu membuktikan kapasitasnya kepada siapa pun hanya karena ada politisi lain yang baru meluncurkan buku. Rekam jejak, gagasan, dan kontribusi seseorang kepada bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya buku yang dipajang di rak,” ujarnya.
Sekda DPD GMNI DKI Jakarta menegaskan bahwa perdebatan gagasan merupakan hal yang sehat dalam demokrasi. Namun, kritik harus disampaikan secara substantif dan tidak berubah menjadi serangan personal.
Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat saat ini membutuhkan pemimpin yang mampu menjawab persoalan konkret bangsa, mulai dari ketimpangan ekonomi, lapangan pekerjaan, pendidikan, kesejahteraan masyarakat, hingga pembangunan yang berkeadilan.
“Indonesia tidak sedang kekurangan orang yang pandai membuat narasi. Yang dibutuhkan rakyat adalah gagasan yang bisa dijalankan dan keberanian untuk mempertanggungjawabkannya. Jadi jangan sibuk mengukur siapa punya buku dan siapa tidak, sementara persoalan rakyat masih begitu banyak,” katanya.
Menurutnya, Cak Imin sendiri dalam berbagai kesempatan telah aktif menyampaikan gagasan mengenai arah pembangunan dan ekonomi nasional. Dalam peringatan Harlah ke-28 PKB, misalnya, Cak Imin menyebut tema “Prabowonomics” sebagai bentuk kesungguhan PKB untuk bersama-sama membawa arah baru ekonomi nasional. (ANTARA News)
Karena itu, Sekda DPD GMNI DKI Jakarta meminta agar perdebatan politik dikembalikan pada adu gagasan, rekam jejak, dan keberpihakan kepada rakyat, bukan kompetisi personal mengenai siapa yang paling banyak buku atau paling hebat secara retorika.
“Kalau mau adu buku, silakan. Kalau mau adu gagasan, kami dukung. Tapi kalau buku baru dijadikan alasan untuk meremehkan tokoh lain, kami akan kritik. Cak Imin tidak perlu direndahkan untuk membuat Bahlil terlihat tinggi,” tegasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan mengajak seluruh elite politik untuk menjaga kualitas demokrasi Indonesia.
“Politik itu bukan perlombaan siapa yang paling pandai membangun citra. Politik adalah tentang siapa yang paling mampu memperjuangkan kepentingan rakyat. Jadi, mari adu gagasan, bukan adu gengsi,” pungkas Sekda DPD GMNI DKI Jakarta.
Sekretariat DPD GMNI DKI JAKARTA
Dwi




















