Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Tokoh Masyarakat Tegalrejo: Tambang Ditolak Warga, Mata Air dan Jalan Jadi Taruhannya

×

Tokoh Masyarakat Tegalrejo: Tambang Ditolak Warga, Mata Air dan Jalan Jadi Taruhannya

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Rembang_HARIANESIA.COM- Peringatan Hari Tani Nasional 2026 dimanfaatkan warga Desa Tegalrejo untuk kembali menyuarakan penolakan terhadap aktivitas pertambangan yang berlangsung di wilayah mereka. Penolakan tersebut didasari kekhawatiran atas dampak lingkungan, dugaan belum adanya perizinan yang lengkap, hingga kerusakan infrastruktur yang dinilai semakin membebani masyarakat.

Menurut tokoh masyarakat Desa Tegalrejo, Mbah Kosim, Selasa 15/09/2026 mayoritas warga tidak menghendaki keberadaan aktivitas pertambangan di desanya.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

Ia menyebut sekitar 80 persen masyarakat menyatakan sikap menolak karena menilai manfaat yang diterima tidak sebanding dengan potensi kerugian jangka panjang yang akan ditanggung warga.
“Kurang lebih 80 persen warga menolak kegiatan pertambangan di Tegalrejo. Kami ingin tanah dan lingkungan tetap terjaga untuk anak cucu, bukan justru rusak akibat aktivitas tambang,” ujar Mbah Kosin saat menyampaikan aspirasi dalam momentum Hari Tani Nasional.

Baca Juga :  Pegadaian Jawa Barat dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Perkuat Sinergi Dorong Inklusi Keuangan Syariah dan Pemberdayaan UMKM

Selain penolakan warga, Mbah Kosim juga mempertanyakan legalitas kegiatan pertambangan tersebut. Menurutnya, terdapat dugaan aktivitas yang berlangsung belum mengantongi izin sebagaimana ketentuan yang berlaku. Karena itu, ia meminta pemerintah daerah bersama aparat penegak hukum melakukan pemeriksaan secara menyeluruh agar tidak terjadi pelanggaran terhadap aturan pertambangan maupun lingkungan hidup.

Ia menambahkan, kekhawatiran terbesar masyarakat adalah potensi kerusakan lingkungan yang dapat mengganggu keberadaan sumber-sumber mata air di Desa Tegalrejo. Warga menilai keberlangsungan mata air memiliki peran vital bagi kebutuhan rumah tangga maupun sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Baca Juga :  𝐇𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐁𝐞𝐫𝐚𝐧𝐢 𝐏𝐚𝐬𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐞𝐧𝐧𝐞𝐫 𝐃𝐢𝐤𝐨𝐧𝐭𝐫𝐚𝐤𝐚𝐧, 𝐁𝐮𝐩𝐚𝐭𝐢 𝐁𝐚𝐧𝐲𝐮𝐦𝐚𝐬 𝐃𝐢𝐚𝐝𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐊𝐞𝐣𝐚𝐭𝐢 𝐉𝐚𝐭𝐞𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐓𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐄𝐤𝐬𝐞𝐤𝐮𝐬𝐢 𝐀𝐬𝐞𝐭 𝐊𝐞𝐛𝐨𝐧𝐝𝐚𝐥𝐞𝐦

Tidak hanya itu, aktivitas kendaraan pengangkut material tambang yang melintas di jalan provinsi juga disebut mulai menimbulkan persoalan baru. Intensitas kendaraan bertonase besar dikhawatirkan mempercepat kerusakan badan jalan, sehingga berdampak pada keselamatan pengguna jalan serta menambah beban anggaran pemerintah untuk perbaikan infrastruktur.

Melalui peringatan Hari Tani Nasional, warga Desa Tegalrejo berharap pemerintah tidak mengabaikan suara masyarakat. Mereka meminta seluruh aktivitas pertambangan dievaluasi, legalitasnya dipastikan sesuai ketentuan, serta kelestarian lingkungan dan kepentingan petani menjadi prioritas utama dalam setiap pengambilan kebijakan.(DW)

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600