Edukasi

Sumpah Pemuda di Taman Ismail Marzuki: Ketika Indonesia Timur Menagih Janji Keadilan

Di tengah karhutla yang mengepung, kebijakan ekstraktif yang menggerus tanah adat, dan pengungsi bencana yang mati di tenda pengungsian, lebih dari 40 anak muda Indonesia Timur bersumpah: tak ada perubahan yang lahir dari diam

JAKARTA – Malam itu, Selasa, 28 Oktober 2026. Pukul 19.42 WIB. Di pelataran depan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM), lampu panggung menyala temaram. Di belakang panggung, spanduk merah-hitam bertuliskan “DEKLARASI SUMPAH PEMUDA INDONESIA TIMUR & PELANTIKAN PPMIT” berkibar.

Tepat 98 tahun setelah Sumpah Pemuda 1928 dibacakan di Batavia, sumpah yang berbeda dibacakan di tempat yang sama. Bukan oleh Jong Java atau Jong Ambon, tapi oleh Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia Timur (PPMIT).

Mereka datang bukan untuk seremoni. Mereka datang untuk menagih.

Acara yang mengusung tema “PPMIT Untuk Pembangunan dan Kesejahteraan Indonesia Timur” ini berlangsung sejak pukul 16.00 hingga 21.00 WIB. Dihadiri lebih dari 40 pengurus yang resmi dilantik untuk periode 2026-2029.

Ketua Umum terlantik Ridha Furqon Wahyu Ramdhani, S.Sos dan Ketua Harian Lido Unci berdiri di barisan depan. Di samping mereka, Wakil Ketua Harian dari representasi tiap wilayah Indonesia Timur – dari Papua, Maluku, NTT, NTB, Sulawesi – mengepalkan tangan.

Ketua Dewan Pembina PPMIT, Mujib Hermani, dalam sambutan pembukanya tidak bertele-tele. Ia mengapresiasi lahirnya PPMIT, tapi sekaligus memberi peringatan: PPMIT lahir dari rahim ketertindasan. Perjuangannya tidak akan mudah di tengah situasi rakyat Indonesia Timur yang terus dipinggirkan.

Sambutan itu langsung dijawab Ridha dalam pidato politiknya.

“Kita berkumpul hari ini bukan karena kita kekurangan panggung budaya. Kita berkumpul karena hutan kita terbakar, tanah kita diambil kebijakan ekstraktif, dan saudara-saudara kita yang mengungsi karena bencana, mati di pengungsian karena negara abai,” ujar Ridha, disambut pekik massa.

Lido Unci, Ketua Harian, lebih tajam.

“Tidak ada perubahan yang lahir dari diam. Perubahan hanya lahir dari kontradiksi yang revolusioner,” teriaknya dari atas panggung.

Enam Sumpah Yang Tak Lagi Romantis

Puncak acara adalah pembacaan Sumpah Pemuda Indonesia Timur. Jika Sumpah Pemuda 1928 bicara tentang satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa, maka Sumpah Pemuda 2026 versi PPMIT menambahkan syarat.

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, mereka bersumpah:

1. Bertanah Air Satu, Tanah yang tidak terbakar hutan dan lahannya, Air yang tidak tercemar oleh lingkungan dan rezim yang kotor.

2. Berbangsa Satu, Bangsa tanpa pengkhianatan konstitusi oleh penguasa dan pemimpin bangsa.

3. Berbahasa Satu, Bahasa tanpa OMON-OMON dari seluruh pemerintahan yang ada.

4. Berjuang dengan ilmu pengetahuan dan integritas untuk membangun Indonesia Timur menuju kesejahteraan.

5. Memperkuat empati dan solidaritas untuk menyikapi dan memperjuangkan kondisi ketidakadilan di Indonesia Timur.

6. Memperkuat spirit perjuangan untuk membangun Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan.

Seorang peserta yang membacakan naskah dengan ikat kepala merah, suaranya bergetar. Di belakangnya, bendera Merah Putih raksasa dikibarkan oleh seorang bapak botak, melambai-lambai di bawah pohon palem TIM.

Dua Tuntutan ke Negara

PPMIT tidak berhenti di sumpah. Mereka melayangkan dua tuntutan resmi kepada pemerintah pusat.

Pertama, APBN untuk rakyat Indonesia Timur. PPMIT mendesak penghentian pemborosan anggaran untuk kepentingan politik melalui program populis. Dua program yang secara eksplisit disebut: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). Bagi PPMIT, anggaran triliunan untuk program pencitraan itu lebih mendesak dialihkan untuk layanan dasar di Indonesia Timur.

Kedua, turunkan biaya pendidikan untuk Indonesia Timur. PPMIT meminta biaya pendidikan yang lebih terjangkau, akses layanan dasar yang merata dari Sorong sampai Tual, dan penyediaan lapangan pekerjaan yang berkualitas, bukan kerja padat karya yang musiman.

Dalam waktu dekat, PPMIT akan menggelar Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) pertama untuk menterjemahkan sumpah itu menjadi program kerja.

Acara malam itu didukung oleh *FPS-TIM dan MPSI yang memperkuat unsur kebudayaan dan kesenian. Sejumlah penampil seni dari timur naik ke panggung setelah pelantikan, menutup malam dengan musik dan puisi.

Di akhir rilisnya, PPMIT menulis satu kalimat yang menjadi penutup sekaligus pembuka perlawanan mereka:

“PPMIT lahir dari ketimpangan dan ketiadaan keadilan di Indonesia Timur.”

Sumpah telah dibacakan di TIM. Tinggal negara yang ditagih untuk menjawab.(DW)

 

Keterangan Pers & Dokumentasi:
Pemuda Pelajar Mahasiswa Indonesia Timur (PPMIT) Periode 2026-2029
Ketua Umum: Ridha Furqon Wahyu Ramdhani, S.Sos
Ketua Harian: Lido Unci
Dewan Pembina: Mujib Hermani

Lokasi: Pelataran Depan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, 28 Oktober 2026.

Exit mobile version