JAKARTA_HARIANESIA.COM_Nanik Deyang kembali menjadi sorotan setelah dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Badan Gizi Nasional. Namun bagi banyak orang yang mengenalnya, sosok Nanik Deyang bukan dikenal karena jabatan yang disandang, melainkan karena dedikasi panjangnya dalam berbagai bidang pengabdian kepada masyarakat.
Perjalanan pengabdian Nanik Deyang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Sebelum aktif dalam berbagai program sosial dan pemerintahan, ia dikenal sebagai jurnalis dan pernah menjabat sebagai Pemimpin Redaksi media The Politics. Dari dunia jurnalistik itulah ia banyak terlibat dalam diskusi-diskusi strategis mengenai masa depan bangsa.
Rekan-rekan yang telah lama mengenalnya menilai Nanik Deyang sebagai pribadi yang lebih memilih bekerja di lapangan daripada tampil di depan sorotan. Karakter tersebut terlihat dalam berbagai aktivitas sosial yang pernah dijalaninya, mulai dari mendampingi berbagai persoalan kemanusiaan hingga mendorong hadirnya solusi bagi kelompok masyarakat rentan.
Salah satu kiprahnya yang banyak dikenang adalah keterlibatannya dalam berbagai upaya kemanusiaan, termasuk memberikan perhatian terhadap kasus-kasus yang menyangkut perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri. Ia juga dikenal aktif mendorong berbagai gagasan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.
Ketika dipercaya menjadi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik Deyang tidak hanya bekerja dari balik meja. Ia kerap turun langsung ke berbagai daerah untuk memastikan kesiapan dapur-dapur Program Makan Bergizi Gratis, meninjau fasilitas pendukung, serta berdialog dengan para pelaksana di lapangan.
Di balik berbagai tugas dan tanggung jawab tersebut, terdapat satu hal sederhana yang kerap melekat pada dirinya, yakni sepasang sepatu kets yang hampir selalu menemaninya saat bertugas. Bagi rekan-rekan kerjanya, sepatu tersebut menjadi simbol kedekatan Nanik Deyang dengan masyarakat dan komitmennya untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
Kisah tentang sepatu kets itu bahkan pernah menjadi cerita tersendiri ketika ia harus menghadiri acara resmi kenegaraan dalam waktu yang sangat terbatas. Dengan persiapan seadanya, ia tetap hadir menjalankan tugas tanpa mengubah kebiasaan sederhananya.
Kini, ketika mendapat amanah memimpin Badan Gizi Nasional, banyak pihak berharap pengalaman panjang serta kedekatannya dengan kondisi lapangan dapat menjadi modal penting dalam memperkuat berbagai program peningkatan gizi masyarakat.
Bagi mereka yang mengenalnya, kesederhanaan yang tercermin dari sepasang sepatu kets itu bukan sekadar gaya berpakaian. Sepatu tersebut menjadi simbol bahwa pengabdian sejati lahir dari kemauan untuk hadir, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat demi mewujudkan perubahan yang nyata.
Heri






















