Sejumlah mata uang Asia masih bergerak dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang 2026. Rupee India, peso Filipina, rupiah Indonesia, dan baht Thailand menjadi empat mata uang kawasan yang mencatat pelemahan lebih dari 5% sejak awal tahun.
Berdasarkan data Trading Economics pada Kamis (17/9/2026) pukul 17.20 WIB, rupee India berada di level 96,01 per dolar AS atau melemah 6,77% secara year to date (YtD). Pelemahan berikutnya terjadi pada peso Filipina yang berada di level 62,72 per dolar AS, tercatat melemah 6,46% sejak awal tahun.
Sementara itu, rupiah berada di level Rp17.742 per dolar AS dan telah melemah 6,33% secara YtD. Baht Thailand juga tertekan 5,77% ke level 33,36 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Asia tersebut terjadi setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin. Kebijakan itu turut memengaruhi pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang kembali berada di atas level 100.
Bayan Resources (BYAN) Teken Perjanjian untuk Jual 10 Miliar Saham ke Haji Isam
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, kenaikan suku bunga The Fed dapat memperlebar selisih imbal hasil aset berbasis dolar AS dan aset emerging market sehingga berpotensi mendorong investor mengalihkan dana ke aset dolar AS.
“Jika The Fed menaikkan suku bunga, yield spread antara aset dolar AS dan aset emerging market semakin lebar. Ini bisa memicu capital outflow dan menekan likuiditas valas regional Asia,” kata Wahyu kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).
— Wahyu Laksono, Analis Komoditas Traderindo.com
Selain faktor eksternal, tekanan terhadap masing-masing mata uang Asia juga dipengaruhi oleh kondisi fundamental domestik. Pada peso Filipina, kebutuhan impor pangan dan energi serta defisit transaksi berjalan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati.
Sementara itu, rupee India sensitif terhadap kebutuhan impor minyak. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membayar impor sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap rupee.
Faktor harga energi juga menjadi perhatian terhadap pergerakan baht Thailand. Adapun untuk rupiah, Wahyu mencermati potensi arus keluar investor asing dari surat utang pemerintah apabila imbal hasil US Treasury menjadi lebih menarik.
Prospek Rupiah dan Level USD/IDR
Dari sisi teknikal, Wahyu melihat pasangan USD/IDR saat ini berada di sekitar 17.743 setelah sebelumnya membentuk level tertinggi 52 pekan di kisaran 18.197. Pergerakan tersebut menunjukkan fase koreksi teknikal dan membuka ruang konsolidasi menjelang akhir tahun.
Untuk USD/IDR, level resistance berada di 17.950 dan 18.200. Sementara itu, level support berada di 17.500 dan 17.200.
Low Tuck Kwong dan Putrinya Teken Perjanjian Jual Beli Saham BYAN ke Jhonlin Baratama
“Struktur grafik menunjukkan fase koreksi teknikal setelah membentuk peak di kisaran 18.197. Aksi intervensi dan stabilisasi menjaga momentum bullish tertahan, membuka ruang konsolidasi sehat menjelang akhir tahun.”
— Wahyu Laksono
Level Teknikal USD/INR, USD/THB, dan USD/PHP
Adapun USD/INR berada di sekitar 95,988 dan masih bergerak dalam tren bullish di dekat batas atas rentang 52 pekan. Level resistance yang perlu diperhatikan berada di 96.200 dan 97.000, sementara level support berada di 95.000 dan 94.000.
Untuk USD/THB yang berada di sekitar 33,345, pergerakan cenderung berada dalam pola konsolidasi. Resistance berada di 33,60 dan 33,90, sedangkan support berada di 32,90 dan 32,20. Siklus musiman pariwisata menjelang akhir tahun dapat menjadi salah satu faktor yang memberikan bantalan bagi baht dan membatasi ruang penguatan dolar AS.
Sementara itu, USD/PHP berada di sekitar 62,745 dan bergerak dekat level tertinggi 52 pekan di 62,945. Resistance berada di 62,95 dan 63,50, sedangkan support berada di 62,00 dan 61,20.
ALII dan SILO Dikeluarkan dari FTSE Russell, Ini Dampaknya ke Harga Saham
Dengan perkembangan tersebut, level teknikal pada keempat pasangan mata uang tersebut menjadi salah satu acuan yang perlu diperhatikan hingga akhir tahun. Pergerakan mata uang Asia selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika kebijakan The Fed, yield US Treasury, arus modal, serta kondisi fundamental di masing-masing negara.
Pertanyaan Umum
Mengapa mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada 2026?
Pelemahan dipicu terutama oleh kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin yang memperlebar selisih imbal hasil antara aset dolar AS dan aset emerging market. Kondisi ini mendorong capital outflow dan menekan likuiditas valas regional. Faktor domestik seperti defisit transaksi berjalan, ketergantungan impor energi, dan kebutuhan impor pangan turut memperkuat tekanan pada masing-masing mata uang.
Berapa level rupiah terhadap dolar AS saat ini?
Rupiah berada di level Rp17.742 per dolar AS per Kamis (17/9/2026) pukul 17.20 WIB, melemah 6,33% secara year to date. Level resistance USD/IDR berada di 17.950 dan 18.200, sedangkan support di 17.500 dan 17.200.
Mata uang Asia mana yang paling tertekan sepanjang 2026?
Rupee India mencatat pelemahan terbesar di antara empat mata uang utama kawasan, yakni 6,77% secara YtD ke level 96,01 per dolar AS. Disusul peso Filipina yang melemah 6,46% ke 62,72, rupiah 6,33% ke Rp17.742, dan baht Thailand 5,77% ke 33,36 per dolar AS.
Sumber: Kontan




















