Harianesia JAKARTA. Pemerintah resmi membuka masa penawaran Sukuk Tabungan seri ST017 mulai hari ini, Jumat (6/11/2026), dengan dua pilihan tenor dan imbal hasil yang dinilai masih kompetitif di tengah gejolak pasar keuangan.
Penawaran sukuk ritel ini berlangsung hingga 2 Desember 2026 melalui Kementerian Keuangan. Ada dua seri yang ditawarkan, yakni ST017T2 bertenor dua tahun dengan imbal hasil 6,95% dan ST017T4 bertenor empat tahun dengan imbal hasil 7,05%.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai ST017 sebagai instrumen yang cukup menarik bagi investor konservatif hingga moderat. Daya tariknya terutama terasa di tengah meningkatnya volatilitas pasar saham, tekanan rupiah, dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah.
Keunggulan utamanya bukan sekadar angka imbalan, melainkan mekanisme imbalan mengambang dengan batas minimal (floating with floor). Bila BI-Rate naik, imbalan ST017 berpotensi ikut naik pada periode penyesuaian setiap tiga bulan.
“Sebaliknya, apabila BI-Rate turun, investor tetap memperoleh imbalan minimal yang telah ditetapkan hingga jatuh tempo,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).
— Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata
| Seri | ST017T2 | ST017T4 |
|---|---|---|
| Tenor | 2 tahun | 4 tahun |
| Imbal hasil | 6,95% | 7,05% |
| Jatuh tempo | 10 November 2028 | 10 November 2030 |
| Imbal hasil bersih setelah pajak | Sekitar 6,26% | Sekitar 6,35% |
Imbal Hasil Riil dan Posisi terhadap SBN Pasar Sekunder
Dengan inflasi Oktober 2026 sebesar 3,23%, kedua seri masih memberikan imbal hasil riil positif yang relatif menarik. Pembayaran imbalan dan pokok juga dijamin pemerintah berdasarkan undang-undang.
Investor menerima imbalan bulanan tanpa menghadapi fluktuasi harga pasar karena ST017 tidak diperdagangkan. Namun, keterbatasan likuiditas menjadi risiko utama yang perlu diperhatikan.
Investor tidak dapat menjual ST017 sewaktu-waktu dan hanya dapat mencairkan maksimal 50% kepemilikannya melalui fasilitas pencairan awal pada periode yang ditentukan. Karena itu, ST017 lebih cocok untuk dana yang memang tidak dibutuhkan dalam waktu dekat, bukan dana darurat atau kebutuhan transaksi jangka pendek.
Josua menilai tingkat imbalan ST017 sudah cukup kompetitif setelah memperhitungkan risiko, tetapi belum tentu paling menarik bila hanya dibandingkan berdasarkan besarnya imbal hasil. Dengan BI-Rate sebesar 5,75%, imbalan ST017T2 memiliki selisih tetap 120 basis poin, sedangkan ST017T4 sebesar 130 basis poin.
Setelah dikenakan pajak final 10%, imbal hasil minimal bersih masing-masing menjadi sekitar 6,26% dan 6,35% per tahun. Tingkat tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah alternatif simpanan perbankan dan menawarkan pendapatan riil positif.
“Namun, kita juga perlu melihat bahwa imbal hasil SBN di pasar sekunder sedang meningkat akibat tekanan rupiah, tingginya suku bunga global, risiko fiskal, dan meningkatnya kehati-hatian investor,” tuturnya.
Pada awal November, imbal hasil surat berharga negara tenor dua tahun berada di sekitar 7,13%, sedangkan tenor empat tahun sekitar 7,47%. Artinya, investor sebenarnya memiliki alternatif obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan dengan potensi imbal hasil lebih tinggi, meski harus menanggung risiko fluktuasi harga bila dijual sebelum jatuh tempo.
Selisih imbalan ST017 dengan yield SBN pasar sekunder menjadi pertimbangan penting bagi investor yang membandingkan kepastian imbalan melawan potensi keuntungan dari obligasi yang diperdagangkan.
Pertimbangan Tenor dan Likuiditas
Keunggulan ST017 justru terletak pada kepastian batas minimal imbalan dan perlindungan terhadap kemungkinan kenaikan BI-Rate, bukan peluang memperoleh keuntungan dari perubahan harga obligasi. Selisih imbalan ST017T4 dan ST017T2 yang hanya 10 basis poin juga perlu dipertimbangkan, sebab investor harus menempatkan dana dua tahun lebih lama untuk memperoleh tambahan imbalan tersebut.
Dalam konteks meningkatnya premi risiko Indonesia, termasuk prospek peringkat kredit negara yang masih negatif, ST017 tetap menarik untuk menjaga stabilitas portofolio. Namun, keputusan memilih tenor empat tahun harus didasarkan pada kebutuhan investasi jangka panjang, bukan semata-mata mengejar tambahan imbalan 0,1 poin persentase.
“Bagi investor yang mengutamakan keseimbangan antara imbalan dan fleksibilitas pengelolaan dana, ST017T2 relatif lebih menarik,” paparnya.
Josua menyarankan investor pemula untuk memahami karakteristik produknya terlebih dahulu dan menyesuaikan jangka waktu investasi dengan kebutuhan keuangan pribadi, bukan sekadar tergiur imbalan yang terlihat tinggi. ST017 dapat dibeli mulai Rp1 juta, sehingga cukup terjangkau untuk membangun kebiasaan investasi.
Namun, sebelum membeli, investor sebaiknya memastikan dana darurat sudah tersedia dan tidak menggunakan uang yang akan dibutuhkan dalam waktu dekat.
- ST017T2 jatuh tempo 10 November 2028, ST017T4 pada 10 November 2030.
- Fasilitas pencairan awal ST017T2 tersedia Oktober–November 2027, sedangkan ST017T4 pada Oktober–November 2028, dengan batas maksimal 50% kepemilikan yang memenuhi syarat.
- Pemesanan yang telah selesai serta dibayar tidak dapat dibatalkan.
Ilustrasi Imbalan dan Strategi Diversifikasi
Sebagai ilustrasi, investasi Rp10 juta pada ST017T2 menghasilkan imbalan bersih sekitar Rp52.128 per bulan. Sedangkan ST017T4 sekitar Rp52.875 per bulan, berdasarkan tingkat imbalan minimal setelah pajak dan sebelum kemungkinan biaya administrasi.
Selisih keduanya hanya sekitar Rp747 per bulan. “Hal ini menunjukkan bahwa tambahan imbalan dari tenor empat tahun relatif kecil dibandingkan komitmen penempatan dana yang lebih panjang,” ungkapnya.
Selain itu, investor sebaiknya melakukan diversifikasi dengan tetap menyimpan sebagian dana pada tabungan atau instrumen pasar uang yang lebih mudah dicairkan. Pembelian harus dilakukan melalui mitra distribusi resmi, dan investor perlu memahami bahwa pemesanan yang telah selesai serta dibayar tidak dapat dibatalkan.
Bagi investor pemula, ST017T2 dapat menjadi pilihan awal yang lebih sesuai karena jangka waktunya lebih pendek, sementara ST017T4 lebih cocok untuk tujuan keuangan yang memang berjangka panjang.
Pertanyaan Umum
Kapan masa penawaran ST017 berlangsung?
Penawaran dibuka mulai Jumat, 6 November 2026, hingga 2 Desember 2026.
Apa perbedaan imbal hasil ST017T2 dan ST017T4?
ST017T2 bertenor dua tahun menawarkan imbal hasil 6,95%, sedangkan ST017T4 bertenor empat tahun sebesar 7,05%. Setelah pajak final 10%, imbal hasil bersihnya sekitar 6,26% dan 6,35% per tahun.
Berapa minimal pembelian dan apakah dana bisa dicairkan sebelum jatuh tempo?
Pembelian dimulai dari Rp1 juta. Pencairan awal hanya dapat dilakukan maksimal 50% dari kepemilikan yang memenuhi syarat, pada periode yang ditentukan, yaitu Oktober–November 2027 untuk ST017T2 dan Oktober–November 2028 untuk ST017T4.
Sumber: Kontan
