Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Prof Connie Bakrie: Krisis Selat Hormuz 2026 “Alarm Geopolitik” Indonesia, Soroti Ranjau Laut & Ancaman Kabel Internet

×

Prof Connie Bakrie: Krisis Selat Hormuz 2026 “Alarm Geopolitik” Indonesia, Soroti Ranjau Laut & Ancaman Kabel Internet

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

JAKARTA_HARIANESIA.COM– Konflik di Selat Hormuz yang memanas awal 2026 menjadi sorotan Guru Besar Hubungan Internasional Saint Petersburg State University, Rusia, Prof. Connie Rahakundini Bakrie. Ia menilai eskalasi di jalur vital minyak dunia itu bukan sekadar masalah teknis, melainkan “alarm bagi arah geopolitik Indonesia”.

“Laporan intelijen dan berita internasional per April 2026 menyebutkan Iran telah memasang puluhan ranjau laut tipe Maham 3 dan Maham 7 di Selat Hormuz menggunakan kapal-kapal kecil,” ujar Connie dalam analisisnya Jumat (17/4/2026).

Banner Iklan Harianesia 300x600

Menurut Connie, langkah Iran itu disebut sebagai balasan atas serangan koalisi AS–Israel untuk memblokade jalur yang dilalui 20% pasokan minyak dunia. “Ini mengubah Selat Hormuz dari chokepoint energi jadi medan perang hybrid,” jelasnya.

Baca Juga :  Puluhan Siswa SMPN 1 Cisarua Dilarikan ke Puskesmas, 57 Orang Terdampak

*Ancaman Kabel Bawah Laut Belum Terkonfirmasi*

Connie juga menyoroti laporan yang beredar luas di media sosial soal ancaman Iran memotong kabel internet bawah laut yang membawa sekitar 95% trafik internet global.

“Verifikasi fakta menunjukkan ancaman pemotongan kabel secara sengaja oleh Iran ini belum terkonfirmasi secara resmi oleh otoritas intelijen utama. Tapi kerentanan infrastruktur tersebut nyata dalam zona perang,” kata Connie.

Ia menambahkan, selama konflik, trafik internet di Iran sempat turun hingga 75%. “Diduga akibat kombinasi serangan siber eksternal atau langkah pertahanan rezim. Ini bukti perang modern sudah masuk ranah cyber dan jamming,” ujarnya.

Baca Juga :  Jelang HUT RI ke-79 di IKN, Kakorlantas Cek Kesiapan Personel dan Kendaraan Lalu Lintas

*Dampak ke Indonesia: Kapal Pertamina Sempat Tertahan*

Bagi Indonesia, Connie menegaskan dampaknya langsung terasa. “Kapal milik Pertamina sempat tertahan di kawasan tersebut. Ini alarm bahwa jalur energi dan data kita sangat rentan kalau Selat Hormuz ditutup,” tegasnya.

Ia mendorong pemerintah memperkuat _contingency plan_ energi dan keamanan siber. “Kita 80% impor LPG lewat Hormuz. Kalau ranjau benar dipasang, harga dan pasokan bisa kacau. Belum lagi kalau kabel bawah laut kena, ekonomi digital lumpuh,” kata Connie.

Baca Juga :  StafSus Komisi III RI" Habib Muchdar : Tanah Pak Johanis Sah!!! Disinyalir Ada Kejanggalan Putusan" Sebab Sertifikat Lawan Tidak Pernah di Buktikan?

Seruan: Indonesia Harus Mainkan Diplomasi Global Selatan

Connie menilai Indonesia harus aktif mendorong de-eskalasi lewat semangat “Bandung” dan Global Selatan. “Ini bukan perang kita, tapi kita yang kena getahnya. Indonesia harus jadi jembatan, bukan penonton. Gunakan forum OKI, GNB, dan ASEAN untuk dorong gencatan senjata,” ujarnya.

Ia menutup, krisis Hormuz membuktikan perang abad 21 tidak lagi konvensional. “Ranjau, drone, cyber, kabel bawah laut, dan narasi jadi senjata. Negara yang tidak siap, akan jadi korban pertama,” tutup Prof Connie.

Dwi

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600