JAYAPURA_HARIANESIA.COM– Sebuah narasi berjudul _“Pencuri Itu Baik, Mengajarkan Kita untuk Melihat yang Lebih Buruk”_ beredar di media sosial dan grup WhatsApp warga Papua, menyoroti fenomena pencurian yang dikaitkan dengan kondisi sosial-ekonomi dan dugaan korupsi dana Otonomi Khusus (Otsus).
“Sebenarnya para pencuri adalah bagian dari fungsi kontrol sosial untuk mengingatkan Pemerintah (Negara), bahwasannya apakah Negara ini sedang baik-baik atau dalam bahaya,” tulis narasi tersebut, , Rabu (15/4/2026).
*Kritik pada Pejabat Korup & Perusahaan Ilegal*
Penulis narasi membedakan target pencurian. “Lebih baik lagi kalau para pencuri, mencuri barang milik para pejabat tinggi yang bergaya dengan hasil korupsi (Dana Otsus), atau mencuri sesuatu di kantor perusahaan ilegal di Papua. Nah… itu baru terhormat,” tulisnya.
Sebaliknya, penulis menyebut salah jika sasaran pencurian adalah sesama warga miskin. “Sangat salah, kalau mereka mencuri barang milik sesama kaum miskin.”
*Soroti Kemiskinan Struktural & Pengangguran*
Narasi itu mengaitkan maraknya pencurian dengan kondisi struktural. “Generasi Papua hari ini, belajar mencuri karena dimiskinkan oleh para pejabat yang bermental koruptor. Kondisi sosial ekonomi yang memburuk & kegagalan pemerintah dalam pelayanan publik, terutama menciptakan lapangan kerja,” lanjutnya.
Disebutkan, dampaknya banyak anak muda usia produktif menganggur, termarginalkan, dan dikriminalisasi sistem. “Padahal mereka kaum pekerja, rajin, pintar dan beradab.”
*Seruan Pendekatan Humanis, Bukan Kekerasan*
Penulis meminta publik tidak langsung menghakimi pelaku pencurian dari kalangan miskin. “Harap kepada kita semua yang menghakimi mereka wajib dan harus memahami terlebih dahulu atas sistem yang menghancurkan mental, watak dan karakter generasi muda Papua secara umum dan menyeluruh.”
Solusi yang ditawarkan bukan kekerasan. “Kalau dapat tangkap cukup kasih pemahaman (motivasi), pembinaan moral dan rohani, membangun mental mereka dan memberikan lapangan pekerjaan, kemudian pemerintah wajib kontrol. Itu baru namanya memanusiakan manusia. Bukan buat mereka tambah liar & jahat, atau buat mereka susah di atas susah, serta siksa dan bahkan dibunuh,” tulisnya.
Narasi ditutup dengan penegasan akar masalah. “Sebab yang menciptakannya keseluruhan kondisi buruk secara masif di tanah Papua adalah Pemerintah (Negara), jadi kita lihatnya ke sana. Ada sebab, maka ada dampak/akibat yang tercipta.”
Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya mengonfirmasi pihak Pemerintah Provinsi Papua, MRP, dan aparat penegak hukum terkait pandangan tersebut.
(Tim/Dwi)




















