Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Prof Connie Bakrie: Kalau Dolar Tembus Rp22 Ribu Tak Bisa Kita Tahan, Indonesia Selesai

×

Prof Connie Bakrie: Kalau Dolar Tembus Rp22 Ribu Tak Bisa Kita Tahan, Indonesia Selesai

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Jakarta – Guru besar bidang hubungan internasional di Universitas Negeri Saint Petersburg Prof Connie Rahakundini Bakrie menyebut Indonesia tidak baik-baik saja berdasarkan interaksinya dengan para mantan pejabat keuangan dan ekonomi.

“Dua hari lalu saya diundang oleh semua mantan Gubernur Bank Indonesia semua mantan Menteri Keuangan,” kata Connie dikutip dari unggahan akun @connietbhakrie di X pada Selasa 10 Maret 2026.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Connie mengatakan salah satu indikasi memburuknya ekonomi adalah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang jika menyentuh Rp22 ribu akan berdampak fatal.

“Indonesia tiga bulan lagi nih itupun kalau udah bagus yah tapi kalau dolar udah Rp22 ribu tidak bisa kita tahan Indonesia selesai,” ujarnya dalam unggahan tersebut.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali merefleksikan kondisi ekonomi hari ini mulai dari nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp17 ribu per dolar Amerika.

Baca Juga :  Lanud Iswahjudi Gelar Bakti Sosial Sambut HUT Ke-79 TNI

“Ketika rupiah sudah tembus menjadi Rp17 ribu ini batas psikologis dulu itu kita berupaya keras untuk mengembalikan di bawah Rp10 ribu tahun 1998,” kata Rhenald dikutip dari unggahan akun @rhenald_kasali di Instagram pada Selasa 10 Maret 2026.

Tujuannya menurut dia untuk mencegah kemiskinan karena saat itu banyak pengangguran dan banyak perusahaan yang harus dijual kepada asing.

Saat ini menurutnya perjuangan itu terulang lagi mengingat pada Undang-Undang APBN asumsi kurs rupiah hanya dipatok Rp16.500 per dolar.

“Hari ini sudah tembus Rp17 ribu walaupun diintervensi ya tetap masih dekat Rp17 ribu,” terangnya dalam unggahan tersebut.

Rhenald juga menyoroti harga minyak yang sudah tembus 110 dolar per barel yang artinya subsidi BBM akan naik dan menjadi beban APBN.

“Apa yang harus dilakukan pilih yang mana kan ekonomi pilihan pilih subsidi BBM atau menjalankan proyek yang sedang ramai masyarakat persoalkan lalu ke mana negara kita?” pungkasnya.

Baca Juga :  Diduga Ada Laporan Fiktif Dana Desa Tenjo Laut, Warga Pertanyakan Realisasi Pembangunan

“Ingat yah harga minyak akan mahal dan tentu kita harus waspada apakah ini suatu pilihan yang bijak atau kita perlu segera mengambil tindakan untuk mengamankan kita semua?” tambahnya.

Meski keputusan itu diambil oleh segelintir orang Rhenald mengingatkan dampaknya akan dirasakan oleh semua rakyat Indonesia.

Belum lagi dia menyebut Indeks Harga Saham Gabungan sudah anjlok dan banyak saham yang berwarna merah di pasar modal.

“Tentu selalu memisahkan antara orang yang berani dengan orang yang takut yang takut jual yang takut beli dia lihat kesempatan tapi tentu saja ini adalah dashboard yang mengingatkan kita,” imbuhnya.

Sementara itu Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ekonomi saat ini belum krisis bahkan resesi saja belum terjadi.

“Jangankan krisis resesi saja belum melambat saja belum kita masih ekspansi masih akselerasi,” kata Purbaya kepada wartawan di Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat pada Senin 9 Maret 2026.

Baca Juga :  Zainal Effendi.SH.,MH : Selamat Tahu Baru Imlek 2025 "Gong Xi Fa Cai !

Menurutnya pelemahan rupiah juga dipengaruhi sentimen pasar yang muncul akibat pernyataan sebagian ekonom yang menilai Indonesia berpotensi mengalami resesi seperti krisis 1998.

“Rupiah Rp17 ribu karena sebagian ekonom bilang katanya kita lagi resesi seperti 97-98 lagi begitulah daya beli sudah hancur,” ujar Purbaya.

Purbaya juga meminta investor pasar saham tidak panik karena fondasi ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat dan kokoh.

Ia menegaskan pemerintah telah memiliki pengalaman menghadapi berbagai krisis ekonomi global selama beberapa dekade terakhir.

Dia memberi gambaran saat krisis keuangan global 2008 perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh positif meskipun banyak negara mengalami kontraksi.

“Jadi teman-teman tidak perlu takut kita punya pengalaman memitigasi yang jelas dengan pengalaman 97-98 2008 dan 2020 kita bisa mengatasi pertumbuhan ekonominya,” pungkas Purbaya.

Dwi

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600