JAKARTA_HARIANESIA.COM_ Relawan Perjuangan Demokrasi asal Kota Tangerang, Petrus Herman, menilai kondisi demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia masih jauh dari harapan masyarakat. Pernyataan itu disampaikan menjelang peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE pada 31 Mei 2026.
Dalam keterangan tertulis, Minggu (24/5/2026), Petrus mengatakan praktik demokrasi saat ini belum memenuhi cita-cita reformasi. Ia menyoroti masih adanya dugaan pelanggaran HAM di sejumlah daerah yang dinilai belum ditangani secara tuntas.
“Demokrasi bukan sekadar pesta lima tahunan. Pemerintah perlu mengatasi persoalan HAM dan penyempitan ruang sipil dengan bijak, terbuka, dan penuh rasa keadilan,” ujarnya.
Menurut Petrus, rendahnya kepercayaan publik terhadap proses demokrasi disebabkan lemahnya penegakan hukum dan minimnya ruang partisipasi masyarakat sipil. Ia menilai situasi ini membuat demokrasi berjalan prosedural tanpa substansi yang menyentuh kebutuhan warga.
Petrus juga menyinggung konflik Papua yang menurutnya harus menjadi prioritas penyelesaian pemerintah. Ia mendesak negara menyelesaikan persoalan Papua secara serius, adil, dan bermartabat sebagai bangsa Indonesia.
“Papua adalah bagian dari Indonesia. Penyelesaiannya tidak bisa hanya dengan pendekatan keamanan. Pemerintah harus membuka ruang dialog yang setara, mendengar suara rakyat Papua, dan menyelesaikan akar persoalan dengan pendekatan keadilan dan kemanusiaan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut muncul bersamaan dengan pengumuman tema Waisak tahun ini oleh Kementerian Agama RI, _”Dharma Menjaga Perdamaian Dunia”_. Puncak perayaan nasional akan dipusatkan di Candi Borobudur, Magelang.
Petrus menilai nilai-nilai kebajikan, toleransi, dan cinta kasih dalam Waisak relevan menjadi pijakan politik kebangsaan. Momentum keagamaan itu, kata dia, seharusnya digunakan sebagai ruang refleksi agar negara kembali berpihak pada rakyat kecil, termasuk di Papua.
“Selamat Hari Raya Waisak 2570 BE bagi seluruh umat Buddha di Indonesia dan dunia. Semoga cahaya Dharma menjadi pengingat bagi penguasa untuk menjalankan amanah dengan bijaksana dan berpihak pada keadilan,” katanya.
Waisak memperingati tiga peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha: kelahiran di Taman Lumbini, pencapaian pencerahan di bawah pohon Bodhi, dan wafat di Kusinara. Nilai kesederhanaan dan kedamaian batin yang diajarkan dinilai Petrus penting untuk meredam politik transaksional dan arogansi kekuasaan.
Kementerian Agama RI telah menetapkan rangkaian kegiatan Waisak Nasional 2026. Pengambilan Api Dharma akan dilakukan di Mrapen, Grobogan pada 29 Mei 2026, disusul pengambilan Air Berkah di Umbul Jumprit pada 30 Mei 2026.
Detik-detik Waisak berlangsung pada 31 Mei 2026 pukul 15.44 WIB, dan ditutup dengan Festival Lampion pada malam harinya. Perayaan nasional di Candi Borobudur biasanya diikuti ribuan umat Buddha dari dalam dan luar negeri.
“Sebagai anak bangsa, kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan perbedaan sebagai kekuatan. Jangan biarkan demokrasi dibajak oleh kepentingan segelintir orang. Indonesia harus tetap damai, bersatu, dan berdaulat dalam keberagaman,” tutup Petrus.
Dwi
