Edukasi

“Paradoks Ade Armando”: Murid Soroti Transformasi Dosen FISIP UI dari Pendiri MAFINDO ke Operator Narasi

JAKARTA_HARIANESIA.COM– Sebuah tulisan berjudul _Paradoks Ade Armando_ yang ditulis Hasyim Arsal Alhabsi, murid Ade Armando di FISIP Universitas Indonesia, ramai diperbincangkan. Esai tersebut menyoroti transformasi Ade Armando dari akademisi sekaligus pendiri Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) menjadi sosok yang dinilai “operator narasi”.

“Ada ironi yang lebih merusak dari kebohongan polos: yakni separuh kebenaran yang dikemas oleh seseorang yang tahu persis cara kerjanya,” tulis Hasyim dalam pembuka esainya, Jumat (17/4/2026).

*Rekam Jejak: Dari MAFINDO ke Jabatan Struktural*
Hasyim mengapresiasi peran awal Ade Armando. “Ia ikut mendirikan MAFINDO, sebuah gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa desinformasi adalah racun demokrasi. Nama MAFINDO menjadi salah satu rujukan dalam ekosistem literasi digital Indonesia,” tulisnya.

Namun Hasyim mencatat serangkaian peristiwa yang dinilai menandai pergeseran: dikeroyok massa saat demo di DPR April 2022, penolakan gelar Guru Besar UI karena etika komunikasi di media sosial, bergabung dengan PSI April 2023 dengan pernyataan “paling sejalan dengan akal sehat”, hingga diangkat sebagai Komisaris PT PLN Nusantara Power Juli 2025.

“Dari kampus ke partai, dari partai ke jabatan struktural di perusahaan negara. Ade bukan lagi pengamat. Ia adalah bagian dari struktur yang dulu ia komentari,” tulis Hasyim.

*Soroti Cokro TV dan Kasus Klip JK*
Puncak kritik Hasyim tertuju pada konten Cokro TV, kanal yang diasosiasikan dengan Ade Armando. Ia menyebut video Jusuf Kalla terkait isu konflik Poso-Ambon yang dipotong konteksnya.

“MAFINDO didirikan antara lain untuk memerangi praktik persis seperti ini: mengambil pernyataan seseorang, memotongnya dari konteks, lalu menyebarkannya dengan framing yang mengubah maknanya,” tulis Hasyim.

Menurutnya, framing itu dibangun setelah JK berkomentar soal ijazah Jokowi. “Sebagai fans berat Jokowi, Ade Armando langsung ‘menyerang’. Sialnya memakai senapan bodong. Jelas, ini justru mempersulit posisi Jokowi,” lanjutnya.

*Tiga Mekanisme Pergeseran*
Hasyim menganalisis transformasi itu melalui tiga mekanisme:
1. *Afiliasi struktural* – bergabung partai, terima jabatan, bangun media partisan hingga kehilangan jarak analitis.
2. *Sunk cost identity* – investasi identitas sebagai “pemberani” yang sulit ditinggalkan.
3. *Radikalisasi gradual* – algoritma media digital yang memberi penghargaan pada konten provokatif.

“Kompetensi tanpa integritas adalah bahaya yang paling presisi,” tulis Hasyim. Ia menegaskan kritiknya bukan serangan personal. “Bukan untuk menghakimi satu orang, melainkan studi kasus bahwa pengetahuan adalah alat, dan alat tidak memiliki arah moral bawaan.”

Hasyim menutup dengan catatan Ade Armando pernah menjadi anggota Komisi Penyiaran Indonesia. “Jadi makin aneh abang satu ini,” tulisnya.

Hingga berita ini diturunkan, harianesia.com masih berupaya meminta tanggapan Ade Armando atas esai tersebut.

Dwi

Exit mobile version