Edukasi

Pancasila Harus Jadi Living Ideology” Di Era Digital,Tantangan Hoax, Hingga Politik Algoritma Diungkap Dalam Webinar

DPR dan Akademisi Dorong Generasi Muda Jadi Duta Pancasila di Ruang Maya

JAKARTA,HARIANESIA.COM_ 29 Agustus 2026 – Pancasila harus diinternalisasi sebagai pedoman hidup berbangsa dan menjadi “living ideology” yang relevan di era digital. Hal itu mengemuka dalam webinar “Penguatan Ideologi Pancasila” yang digelar Kamis (27/8/2026) sore melalui Zoom Meeting.

Webinar menghadirkan Anggota DPR RI Banyu Biru Djarot sebagai keynote speaker, serta dua narasumber: Dr. Verdi Yasin, S.Kom., M.Kom, Dosen STMIK Yogyakarta dan Assoc. Prof. Dr. Hary Priyanto, S.T., M.Si., CPGPA, Dekan FISIP Untag ’45 Banyuwangi.

*Pancasila di Tengah Tantangan Ruang Digital*
Dalam sambutannya, Banyu Biru Djarot menegaskan Pancasila digali oleh Bung Karno dan pertama kali dipidatokan pada 1 Juni 1945 sebagai filosofi dasar bangsa.

“Tema hari ini adalah bagaimana menghadirkan dan mengamalkan Pancasila di ruang digital. Tantangan utama kita adalah bagaimana berdemokrasi dengan baik di dunia maya,” ujarnya.

Dr. Verdi Yasin menyoroti sejumlah tantangan Pancasila di ruang digital. Ia merinci mulai dari hoaks dan disinformasi, ujaran kebencian, polarisasi, intoleransi, cyberbullying, radikalisme, hingga penyalahgunaan AI dan algoritma media sosial yang menciptakan “gelembung informasi”.

“Penyebaran paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan juga menjadi ancaman nyata,” kata Verdi.

Untuk menjawab tantangan itu, ia mendorong generasi muda berperan sebagai “Duta Pancasila di Ruang Digital”. Kriteria yang disebut antara lain berkarakter integritas, berpikir kritis, menghargai keberagaman, dan semangat gotong royong.

Verdi juga menjabarkan implementasi 5 sila di dunia digital. Mulai dari menghormati keyakinan di Sila 1, menolak cyberbullying di Sila 2, menggunakan media sosial untuk kebhinekaan di Sila 3, berdialog demokratis di Sila 4, hingga memanfaatkan teknologi untuk pemerataan informasi di Sila 5.

“Pancasila bukan sekadar hafalan 5 sila. Ia harus hadir dalam cara berpikir, berbicara, bekerja, dan menggunakan teknologi. Teknologi tidak menentukan karakter, tapi cara manusia menggunakannya,” tegasnya.

*Ancaman “Politik Algoritma”*
Narasumber kedua, Dr. Hary Priyanto, menyoroti ancaman “politik algoritma”. Menurutnya, penggunaan big data dan algoritma saat ini digunakan untuk memengaruhi opini dan perilaku politik.

“Algoritma suka yang cepat, sensasional, emosional. Padahal membangun peradaban butuh ketekunan, kedalaman, dan konsistensi. Viral belum tentu substansial,” ujarnya.

Ia menyebut dampaknya antara lain polarisasi sosial lewat isu SARA, delegitimasi pemerintah, hingga serangan siber terhadap infrastruktur digital strategis.

Untuk melawan, Hary mengajak penguatan kesadaran kritis. “Perjuangan lewat menulis, mendidik, merawat makna. Membaca-menulis sebagai perlawanan terhadap kedangkalan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Pancasila, kearifan lokal, gotong royong, dan toleransi sebagai “filter ideologi” terhadap paham transnasional.

“Ketahanan nasional dibangun lewat kolaborasi. Pemuda harus jadi agen perubahan, penjaga rasionalitas, pendorong literasi digital, inovator, dan pemersatu bangsa,” tutup Hary.

Di akhir kegiatan, para pembicara menyimpulkan bahwa penguatan karakter dan nilai Pancasila menjadi kunci agar masyarakat mampu menggunakan teknologi digital secara kritis dan bertanggung jawab, serta tetap menjaga persatuan dan kedaulatan bangsa.

Dwi

Exit mobile version