Edukasi

Mitos Negara Kuat: Saat Retorika Sanggup Tak Sejalan dengan Daya Tahan di Lapangan

Prof. Connie Rahakundini Bakrie membongkar 8 ilusi kesiapan penanganan Karhutla. Bantuan asing bukan ancaman kedaulatan, melainkan cermin kegagalan komando nasional.

JAKARTA, 26 OKTOBER 2026 -Klaim “siap siaga” dan “sanggup menangani sendiri” kembali menggema setiap kali asap Karhutla mengepung Sumatera dan Kalimantan. Namun bagi pengamat pertahanan dan geopolitik Prof. Connie Rahakundini Bakrie, klaim itu adalah ilusi.

“Negara yang kuat bukan negara yang paling lantang menyatakan sanggup,” ujar Connie, menohok langsung narasi heroik pemerintah.

Dalam catatannya, Connie menilai negara kerap terjebak pada tiga kekeliruan fatal: menganggap kapasitas sama dengan kemampuan, menganggap kemampuan sama dengan efektivitas, dan menganggap efektivitas sesaat sebagai jaminan ketahanan operasi.

Menurutnya, ada 8 pilar yang selama ini bolong:

“Manusia dan Peralatan yang Sekadar Ada.”

Personel memang dikerahkan, tapi tidak untuk operasi maraton 30-90 hari. Pesawat dan helikopter water-bombing dihitung dari jumlah inventaris, bukan dari jam terbang produktif dan kesiapan tempur di lapangan.

“Logistik, Metode, Anggaran yang Setengah Hati.”

Bahan bakar dan air sering menipis di tengah operasi. Komando masih terfragmentasi antara BNPB, TNI-Polri, kementerian, dan pemda. Anggaran operasi panjang tidak transparan, pengadaan darurat rawan tak akuntabel.

“Teknologi Tanpa Komando.”

Satelit, drone, dan AI untuk deteksi titik api sudah ada, tapi tak terhubung dengan keputusan taktis di lapangan hingga pemadaman efektif.

“Dua Dosa Terbesar: Paranoia Kedaulatan dan Amnesia Ekologis.”

Connie mengingatkan, trauma menolak bantuan internasional adalah bentuk kedaulatan yang salah kaprah. “Pengalaman Aceh 2004 dan Palu 2018 menunjukkan, kedaulatan tidak diukur dari penolakan bantuan, tapi dari kemampuan negara memimpin respons secara efektif di bawah kendali nasional,” katanya.

Dan yang paling krusial: Karhutla bukan sekadar urusan memadamkan api. “Ini soal keselamatan seluruh ekosistem. Manusia, satwa, hutan, gambut, air, dan keanekaragaman hayati harus dilindungi. Lahan terbakar tidak boleh otomatis dijadikan alasan untuk ekspansi perkebunan atau kepentingan komersial.”

Connie menutup dengan satu kalimat pamungkas yang menjadi tamparan bagi pengambil kebijakan:

“Kapasitas bukan kemampuan. Kemampuan bukan efektivitas. Dan efektivitas sesaat belum tentu berarti ketahanan operasi.”

(M.Chairul)

Exit mobile version