Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Mengapa Suara Politik Umat Kristen Terpecah dan Sulit Bersatu?

×

Mengapa Suara Politik Umat Kristen Terpecah dan Sulit Bersatu?

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Jakarta_HARIANESIA.COM_ Politik Indonesia memiliki satu karakter yang sangat khas: penuh kompromi, kuat dalam budaya patronase, dan sangat dipengaruhi oleh figur serta jaringan kekuasaan. Dalam kultur politik seperti itu, banyak kelompok masyarakat berusaha membangun kekuatan kolektif agar memiliki posisi tawar dalam menentukan arah bangsa.

Namun di tengah realitas tersebut, suara politik umat Kristen justru sering terlihat terpecah, tersebar, dan sulit menemukan satu arah perjuangan bersama.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Ini bukan sekadar persoalan partai politik. Ini adalah persoalan kesadaran politik umat.

Padahal jika melihat sejarah Indonesia, umat Kristen pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa ini. Tokoh-tokoh Kristen hadir dalam perjuangan kemerdekaan, pembangunan demokrasi, pendidikan nasional, dunia hukum, kesehatan, media, hingga pelayanan sosial.

Tetapi ketika berbicara tentang kekuatan politik nasional, umat Kristen sering tampak besar secara intelektual namun kecil dalam kekuatan politik yang terorganisir.

Mengapa hal itu bisa terjadi?

Politik Indonesia Dibangun di Atas Kekuatan Kolektif

Dalam realitas politik Indonesia, kekuatan politik hampir selalu lahir dari:

solidaritas kelompok,

jaringan sosial,

kedekatan emosional,

dan kesadaran kolektif.

Budaya politik Indonesia bukan budaya politik individualistik seperti di Barat.

Indonesia dibangun di atas kultur:

gotong royong,

solidaritas sosial,

ikatan komunitas,

dan loyalitas kelompok.

Karena itu, kelompok masyarakat yang mampu membangun konsolidasi biasanya akan memiliki kekuatan politik lebih besar.

Sementara kelompok yang tercerai-berai akan mudah kehilangan pengaruh dalam pengambilan keputusan nasional.

Di sinilah persoalan besar politik umat Kristen mulai terlihat.

Umat Kristen Kuat Secara SDM, Tetapi Lemah Secara Politik

Tidak dapat dipungkiri, banyak tokoh Kristen Indonesia memiliki kualitas sumber daya manusia yang kuat.

Mereka hadir sebagai:

akademisi,

pengusaha,

birokrat,

jurnalis,

aktivis,

pengacara,

pendeta,

perwira militer,

hingga profesional di berbagai bidang.

Tetapi kekuatan itu sering berjalan sendiri-sendiri.

Dalam kultur politik Indonesia yang sangat menekankan konsolidasi dan jaringan kekuasaan, kondisi seperti ini membuat suara politik umat menjadi tidak solid.

Akibatnya:

suara tersebar ke berbagai partai,

Baca Juga :  Kapolres Bogor Bersama Ketua Bhayangkari Cabang Polres Bogor Dan Jajaran, Berbagi Takjil Wujud Kepedulian Kepada Warga Masyarakat Yang Akan Berbuka Puasa Dibulan Ramadhan 1446 H

tokoh berjalan dengan kepentingan masing-masing,

dan umat kehilangan arah perjuangan politik bersama.

Ironisnya, umat Kristen sering lebih mudah bersatu dalam kegiatan rohani dibanding dalam agenda kebangsaan dan politik.

Padahal politik menentukan banyak hal dalam kehidupan masyarakat:

pendidikan,

kebebasan beragama,

hukum,

ekonomi,

hingga perlindungan hak warga negara.

Politik Kristen Terjebak Ego Kelompok dan Figur

Ini bagian yang paling sensitif tetapi harus dibicarakan secara jujur.

Salah satu penyebab utama sulitnya suara politik umat Kristen bersatu adalah budaya ego kelompok dan figur.

Dalam banyak momentum politik, perpecahan sering terjadi bukan karena perbedaan ideologi besar, tetapi karena:

perebutan posisi,

rivalitas tokoh,

kepentingan organisasi,

dan tarik-menarik pengaruh.

Budaya politik seperti ini sebenarnya bukan hanya terjadi di kalangan umat Kristen. Hampir semua kelompok politik di Indonesia mengalaminya.

Namun persoalannya, jumlah umat Kristen sebagai kelompok minoritas membuat perpecahan kecil sekalipun berdampak besar terhadap kekuatan politik secara keseluruhan.

Akhirnya, banyak tokoh Kristen lebih memilih masuk ke partai besar nasionalis demi peluang kekuasaan yang lebih realistis.

Secara individu mungkin berhasil. Tetapi secara kolektif, umat kehilangan rumah perjuangan politik yang kuat.

Gereja dan Politik: Hubungan yang Selalu Canggung

Dalam kultur masyarakat Indonesia, gereja sebenarnya memiliki pengaruh sosial yang cukup besar.

Tetapi hubungan gereja dan politik sering berada dalam posisi yang canggung.

Banyak gereja memilih menjaga jarak dari politik karena:

takut dianggap partisan,

trauma politik masa lalu,

atau khawatir memecah jemaat.

Akibatnya, pendidikan politik umat sering tidak berkembang secara matang.

Padahal dalam sejarah bangsa Indonesia, tokoh-tokoh gereja pernah memiliki peran besar dalam:

perjuangan kemerdekaan,

gerakan sosial,

pendidikan rakyat,

dan menjaga nilai moral kebangsaan.

Hari ini, ketika politik Indonesia semakin dipenuhi pragmatisme dan transaksi kekuasaan, masyarakat sebenarnya merindukan suara moral yang berani berbicara tentang:

keadilan,

kejujuran,

anti korupsi,

dan keberpihakan kepada rakyat kecil.

Namun suara itu sering tenggelam karena gereja terlalu lama menganggap politik sebagai wilayah “kotor” yang harus dijauhi.

Baca Juga :  DPRD Kota Bandung Dorong Regulasi Bantuan Hukum bagi Warga Kurang Mampu

Generasi Muda Kristen Mulai Kehilangan Ketertarikan pada Politik

Persoalan berikutnya adalah generasi muda.

Anak muda Kristen hari ini hidup di tengah:

krisis ekonomi,

sulitnya lapangan pekerjaan,

ketidakpastian masa depan,

korupsi,

dan polarisasi politik.

Mereka sebenarnya memiliki kepedulian besar terhadap isu sosial dan kebangsaan.

Tetapi banyak dari mereka mulai kehilangan kepercayaan terhadap dunia politik.

Mengapa?

Karena politik dianggap:

penuh pencitraan,

dipenuhi elite,

mahal,

dan jauh dari idealisme.

Sementara gerakan politik umat Kristen sendiri sering gagal menawarkan narasi baru yang relevan bagi generasi muda.

Masih sibuk bicara simbol, tetapi kurang bicara solusi.

Padahal generasi muda sekarang lebih tertarik kepada:

integritas,

transparansi,

gerakan sosial,

keadilan,

dan perubahan nyata.

Jika kondisi ini terus terjadi, maka politik umat Kristen akan semakin kehilangan regenerasi.

Politik Bukan Sekadar Kekuasaan, Tetapi Menjaga Masa Depan Bangsa

Banyak orang Kristen masih melihat politik hanya sebatas perebutan kekuasaan.

Padahal dalam kenyataannya, politik menentukan arah masa depan bangsa.

Keputusan politik mempengaruhi:

pendidikan anak-anak,

harga kebutuhan pokok,

kebebasan beragama,

hukum,

ekonomi rakyat,

hingga keadilan sosial.

Karena itu, ketidakterlibatan umat dalam politik justru membuat umat kehilangan kesempatan untuk ikut menjaga arah bangsa.

Dalam demokrasi, suara yang tidak terorganisir perlahan akan hilang dari pusat pengambilan keputusan.

Dan ketika itu terjadi, umat hanya akan menjadi penonton dalam perjalanan politik nasional.

Kesadaran Politik Umat Harus Dibangun Kembali

Jika ingin memiliki masa depan politik yang lebih kuat, umat Kristen harus mulai membangun kesadaran baru.

Kesadaran bahwa politik bukan sesuatu yang tabu. Bukan sesuatu yang najis. Dan bukan hanya urusan elite.

Politik adalah bagian dari tanggung jawab kebangsaan.

Tetapi kesadaran itu tidak boleh dibangun di atas semangat eksklusivisme agama atau politik identitas sempit.

Sebaliknya, kesadaran politik umat harus tumbuh dalam semangat:

kebangsaan,

konstitusi,

demokrasi,

pluralisme,

Baca Juga :  Refleksi Hari Raya Nyepi, Lapas Kelas I Makassar Berikan Remisi Khusus sebagai Wujud Apresiasi dan Harapan Baru bagi Warga Binaan

dan keadilan sosial.

Karena Indonesia bukan milik satu kelompok. Indonesia adalah rumah bersama.

Namun dalam rumah besar bernama Indonesia itu, umat Kristen juga membutuhkan rumah perjuangan politik yang mampu:

menyatukan aspirasi,

melahirkan kader bangsa,

memperjuangkan hak konstitusional,

menjaga nilai moral,

dan memperkuat demokrasi nasional.

Bukan untuk menguasai bangsa. Tetapi untuk ikut menjaga bangsa ini tetap berdiri di atas keadilan dan persatuan.

Pada akhirnya, persoalan utama politik umat Kristen bukan sekadar soal ada atau tidak adanya partai politik Kristen.

Persoalan terbesarnya adalah apakah umat memiliki kesadaran kolektif untuk membangun kekuatan politik yang dewasa, terorganisir, dan memiliki visi kebangsaan yang jelas.

Selama suara politik umat terus berjalan sendiri-sendiri, terpecah oleh ego kelompok, kepentingan sesaat, dan pragmatisme politik, maka umat akan terus kehilangan daya tawar dalam menentukan arah bangsa.

Padahal demokrasi Indonesia membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk menjaga:

konstitusi negara,

nilai-nilai Pancasila,

kebebasan beragama,

keadilan sosial,

dan keseimbangan demokrasi nasional.

Kesadaran politik umat tidak boleh berhenti hanya pada memilih saat pemilu.

Kesadaran itu harus tumbuh menjadi kekuatan kolektif yang matang dan memiliki rumah perjuangan bersama.

Karena tanpa rumah perjuangan politik sendiri, suara umat akan terus tersebar dan mudah dipakai kepentingan sesaat, tetapi sulit menjadi kekuatan yang benar-benar diperhitungkan dalam proses politik nasional.

Jika umat terus tercerai-berai dalam politik, maka umat hanya akan menjadi objek dalam permainan kekuasaan.

Tetapi jika umat mampu membangun kesadaran kolektif, memperkuat solidaritas kebangsaan, dan menghadirkan politik yang bermoral serta konstitusional, maka umat Kristen dapat menjadi bagian penting dalam menjaga masa depan Indonesia: lebih adil, lebih demokratis, lebih setara, dan lebih menghargai keberagaman bangsa.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya dibangun oleh kekuatan kekuasaan, tetapi oleh keberanian seluruh anak bangsa untuk menjaga hati nurani negaranya.

Ditulis oleh: Kefas Hervin Devananda
Jurnalis Senior Pewarna Indonesia, Penggiat Budaya, dan Aktivis 98.

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600