Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

“Jangan Ada Anak Tertinggal Karena Gap Digital” KOMDIGI dan DPR Soroti 7 Tantangan Pendidikan di Era AI

×

“Jangan Ada Anak Tertinggal Karena Gap Digital” KOMDIGI dan DPR Soroti 7 Tantangan Pendidikan di Era AI

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

JAKARTA, 13 Agustus 2026_Kementerian Komunikasi dan Digital [KOMDIGI] bersama Komisi I DPR RI menggelar forum publik membahas masa depan pendidikan Indonesia di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Mengangkat tema _”Transformasi Pendidikan di Era Digital”_, forum yang digelar Kamis [13/8] secara daring ini menyoroti bagaimana teknologi bisa jadi peluang, sekaligus tantangan besar bagi dunia pendidikan.

Banner Iklan Harianesia 300x600

*Internet Naik, Tapi Kesenjangan Masih Ada*
Data terbaru yang disampaikan Staf Khusus Ketua Komisi I DPR RI, Assoc. Prof. Riyanto, menunjukkan penetrasi internet di Indonesia terus naik. Dari 77% di 2022, kini tembus 81,7% atau sekitar 235 juta jiwa di 2026.

Namun 85,95% pengguna internet masih terpusat di Jawa. Kondisi ini dikhawatirkan memicu kesenjangan baru antara siswa kota dan daerah.

Baca Juga :  Mediasi Sengketa Pertanahan Antara Ahli Waris Hatim Badar dan Penghuni Rumah Di Maphar Berakhir DeadLock

“Transformasi digital bukan cuma soal bagi laptop dan pasang WiFi. Ini soal perubahan cara berpikir, karakter, dan kesiapan kita menghadapi era siber,” ujar Riyanto.

Ketua Komisi I DPR RI, Drs. Utut Adianto dalam keynote-nya menegaskan satu hal: jangan sampai ada anak Indonesia tertinggal hanya karena tidak punya akses internet.

*Guru Tak Lagi Cuma Mengajar, Mahasiswa Harus Jadi Inovator*
Forum menghadirkan 2 narasumber utama.

Pegiat Literasi Digital, Drs. Gun Siswadi, M.Si, menekankan bahwa belajar sekarang sudah tidak terbatas ruang dan waktu. Ada _synchronous_ dan _asynchronous_, ada _hybrid learning_ yang gabungkan tatap muka dan daring.

Tapi tantangannya nyata: mulai dari infrastruktur yang belum merata, _cyberbullying_, hoaks, sampai rendahnya kompetensi digital SDM.

“Teknologi harus diimbangi dengan kemampuan menggunakannya secara aman dan bertanggung jawab. Peran guru justru makin penting, bukan tergantikan,” kata Gun.

Baca Juga :  Konferensi PWI Sulsel Banjir Sorotan: Integritas Panitia Dipertanyakan

Senada, Dosen STMIK Jayakarta Dr. Verdi Yasin, M.Kom, menyebut teknologi seperti AI dan Interactive Flat Panel bisa bikin pembelajaran lebih interaktif.

Tapi manusia tetap jadi pusatnya. Ke depan, guru harus jadi fasilitator, mentor, dan kurator informasi. Sementara mahasiswa dituntut jadi _digital citizen_: melek data, bisa pakai AI secara etis, dan menghasilkan karya.

“Jangan hafalan lagi. Fokusnya ke _learn, practice, create, collaborate, reflect_. Itu kompetensi abad 21: berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, dan literasi digital,” jelas Verdi.

*Etika Pakai AI Jadi Sorotan*
Salah satu bahasan paling ramai adalah soal AI. Forum sepakat, hasil dari AI tidak boleh diklaim sebagai karya sendiri tanpa keterangan. Data pribadi juga dilarang diunggah ke AI.

Baca Juga :  5 Fakta Menarik Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026: Wilayah yang Bisa Menyaksikannya dan Tips Mengamati

“AI itu alat bantu belajar, bukan pengganti otak manusia,” tegas para narasumber.

*7 Tantangan yang Harus Dibereskan*
Dari diskusi dan tanya jawab peserta, ada 7 tantangan utama yang disorot:
1. Kesenjangan akses dan konektivitas
2. Rendahnya kompetensi digital
3. Distraksi gadget
4. Misinformasi dan hoaks
5. Keamanan data
6. Ketergantungan teknologi
7. Integritas akademik

Sebagai langkah awal, mahasiswa diimbau kuasai minimal 1 skill digital, bangun portofolio, dan aktif di komunitas. Sementara orang tua diminta jadi _digital parent_ yang mendampingi anak di rumah.

Forum yang dipandu Gadis Basalamah ini bisa disaksikan ulang di kanal YouTube @DitjenKPM.

(D. Wahyudi)

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600