JAKARTA. Tekanan terhadap pasar saham domestik diproyeksikan masih akan berlanjut menjelang pengumuman review MSCI November 2026. Pelaku pasar mencermati apakah hasil review tersebut akan memengaruhi bobot saham Indonesia di indeks global maupun persepsi risiko terhadap pasar modal Tanah Air.
Review indeks MSCI Indonesia dijadwalkan diumumkan pada 11 November 2026 waktu Amerika Serikat (AS) atau 12 November dini hari Waktu Indonesia Barat (WIB). Per Jumat (6/11/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di level 5.050 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sejak awal tahun, IHSG sudah turun 41,59% year to date (YTD). Aliran dana asing juga sudah keluar sebesar Rp 127,26 triliun YTD di pasar reguler sejak awal 2026.
| Indeks | IHSG |
|---|---|
| Level per 6 November 2026 | 5.050 |
| Penurunan YTD | 41,59% |
| Arus keluar asing YTD | Rp 127,26 triliun |
| Jadwal review MSCI | 11 November 2026 waktu AS atau 12 November dini hari WIB |
Tekanan Menjelang Review MSCI
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan tekanan terhadap IHSG masih berpotensi berlanjut menjelang pengumuman review MSCI pada 11 November. Investor kemungkinan akan tetap berhati-hati, terutama karena masih terdapat ketidakpastian mengenai perubahan komposisi indeks dan penyesuaian free float sejumlah saham.
Namun, perlu dibedakan bahwa review indeks November bukan merupakan keputusan final mengenai perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. “Keputusan tersebut baru akan diumumkan paling lambat Juni 2027,” ujarnya kepada Kontan, Minggu (8/11/2026).
“Keputusan tersebut baru akan diumumkan paling lambat Juni 2027.”
— Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas
Review ini penting karena menjadi ujian awal kredibilitas reformasi pasar modal Indonesia di mata investor global, meski keputusan reklasifikasi baru akan diumumkan paling lambat Juni 2027.
Bukan Keputusan Reklasifikasi
Review MSCI pada 11 November memang bukan pengumuman terkait reklasifikasi pasar saham Indonesia dan turun kelas menjadi Standalone Market. Namun, hasil review tersebut tetap penting karena dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana MSCI menilai kualitas implementasi reformasi pasar modal Indonesia.
“Reuters juga mengutip estimasi UBS mengenai potensi arus keluar sekitar US$ 4 miliar dari dana pasif dan US$ 15 miliar dari dana aktif apabila skenarionya benar-benar terjadi,” ungkap Edwin Sebayang, pengamat pasar modal, kepada Kontan, Sabtu (7/11/2026).
Sumber Tekanan Pasar
Edwin menilai tekanan pasar saham Indonesia merupakan kombinasi dari krisis kepercayaan terhadap tata kelola pasar modal, risiko penurunan klasifikasi MSCI, tekanan nilai tukar rupiah, dan meningkatnya premi risiko investasi. Menjelang pengumuman MSCI pekan ini, risiko pelemahan masih lebih besar dibandingkan peluang penguatan dalam dua-tiga hari ke depan.
“Namun, bukan berarti IHSG pasti mengalami penurunan tajam,” ujarnya. Pernyataan itu memberi penekanan bahwa koreksi lanjutan tetap perlu dilihat sebagai risiko, bukan kepastian.
Rully melihat dampak terbesar dari perkembangan MSCI bukan hanya penyesuaian bobot saham dalam indeks, tetapi juga meningkatnya persepsi risiko terhadap pasar saham Indonesia. Ketidakpastian ini masih akan membayangi IHSG dalam beberapa bulan ke depan, bahkan hingga keputusan MSCI diumumkan.
Oleh karena itu, belum ada alasan yang dinilai cukup kuat untuk memperkirakan pemulihan pasar secara berkelanjutan dalam waktu dekat. Namun, bukan berarti tidak ada peluang perbaikan sentimen sebelum keputusan tersebut. Rully melihat langkah-langkah yang telah dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI sebagai perkembangan positif.
“Yang akan menjadi perhatian investor ke depan adalah konsistensi implementasi, transparansi beneficial ownership, kredibilitas free float, serta penegakan aturan yang dapat memberikan bukti nyata adanya perbaikan kualitas pasar,” ujarnya.
Proyeksi IHSG Akhir 2026
Edwin memperkirakan pada skenario bullish, IHSG bakal bergerak di level 5.100–5.400 di akhir tahun 2026. Ini didorong rebound dan perbaikan sentimen. Pada skenario base case, perkiraan level pergerakannya adalah 4.700–5.100, didorong oleh konsolidasi dengan volatilitas tinggi.
Lalu pada skenario bearish, perkiraan level pergerakannya ada di 4.300–4.700 lantaran tekanan jual yang masih berlanjut. Ketiga skenario itu memberi gambaran bahwa arah IHSG hingga akhir tahun masih sangat bergantung pada sentimen global dan kepercayaan investor terhadap proses reformasi domestik.
Arah Strategi Investor
Rully melihat investor ritel sebaiknya lebih mengutamakan pengelolaan risiko dibandingkan mencoba menebak titik terendah IHSG. Bagi trader jangka pendek, disarankan untuk mengurangi frekuensi transaksi, membatasi ukuran posisi, dan menghindari penggunaan leverage berlebihan.
Sementara itu, investor jangka menengah dan panjang dapat mulai mencermati saham-saham dengan fundamental kuat yang sudah mengalami koreksi valuasi cukup besar. Namun, pembelian sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan sekaligus. Investor juga disarankan untuk tidak hanya menggunakan penurunan harga sebagai alasan membeli saham.
“Prospek laba, kualitas neraca, likuiditas perdagangan, dan eksposur terhadap risiko MSCI tetap perlu menjadi pertimbangan utama,” ungkap Rully.
Edwin menyarankan investor ritel untuk menjaga horizon investasi dan kemampuan menanggung risiko. Penurunan IHSG sebenarnya juga berpotensi menciptakan peluang investasi. “Namun, investor harus bisa membedakan saham yang benar-benar murah secara fundamental dengan saham yang terlihat murah karena memiliki risiko penurunan valuasi lebih lanjut,” ungkapnya.
Sektor yang Masih Dicermati
Di kondisi saat ini, Rully berpandangan sektor saham yang masih bisa diperhatikan oleh investor adalah sektor perbankan, komoditas, dan beberapa saham dengan karakteristik bisnis yang relatif defensif. Di sektor perbankan, koreksi harga yang cukup dalam membuat valuasi sejumlah bank besar menjadi lebih menarik.
“Namun, dalam jangka pendek, saham perbankan masih rentan terhadap tekanan jual asing karena memiliki likuiditas dan bobot yang besar dalam portofolio investor global,” katanya.
Edwin menambahkan, sentimen yang menggerakkan kinerja IHSG ke depan adalah kondisi makroekonomi domestik, kebijakan fiskal dan belanja pemerintah, kebijakan Bank Indonesia (BI) dan likuiditas perbankan, cadangan devisa dan surplus perdagangan, serta harga komoditas global. “Sektor saham yang masih bisa dicermati oleh investor adalah perbankan, emas, telekomunikasi, energi dan batubara, dan konsumer,” tuturnya.
Sumber: Kontan
