Rencana Haji Isam menguasai 30,21% saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membuka peluang meraup dividen jumbo dari emiten batu bara tersebut. Lewat PT Jhonlin Baratama, jumlah saham BYAN yang dicaplok Haji Isam mencapai 10,08 miliar saham.
Setelah pengumuman pembelian, saham BYAN mencatatkan transaksi crossing jumbo di pasar negosiasi pada Rabu (7/10) dengan total sekitar 10,08 miliar saham atau senilai Rp 26,1 triliun, di harga Rp 2.588 per saham. Aksi senyap itu terjadi tiga kali.
Pertanyaan yang lalu muncul: berapa lama dana akuisisi itu bisa kembali jika hanya mengandalkan pembagian dividen? Hitungannya tidak sesederhana asumsi imbal hasil 10% per tahun yang selama ini beredar.
- Saham BYAN yang dicaplok lewat PT Jhonlin Baratama mencapai 10,08 miliar saham atau 30,21%.
- Transaksi crossing terjadi tiga kali di pasar negosiasi pada Rabu (7/10) dengan nilai sekitar Rp 26,1 triliun.
- Dividen tahun buku 2025 sebesar US$ 500 juta, setara 65% dari laba bersih US$ 767 juta.
Dividen BYAN dan Tren yang Menurun
Menurut Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Fauzan Luthfi Djamal, dividend yield BYAN sebesar 10% sudah tidak lagi mencerminkan kondisi saat ini. Pada tahun buku 2025, BYAN membagikan dividen sebesar US$ 500 juta atau US$ 0,015 per saham, setara 65% dari laba bersih US$ 767 juta.
Dengan harga saham Rp 11.950, imbal hasil dividen tersebut hanya sekitar 2,3%. Adapun tren pembagian dividen BYAN terus menurun, dari US$ 800 juta pada 2023, US$ 700 juta pada 2024, menjadi US$ 500 juta pada 2025.
| Tahun buku | 2025 |
|---|---|
| Dividen dibagikan | US$ 500 juta (US$ 0,015 per saham) |
| Porsi dari laba bersih | 65% dari US$ 767 juta |
| Imbal hasil pada harga Rp 11.950 | sekitar 2,3% |
Dengan asumsi kepemilikan 30% dan besaran dividen tahun buku 2025, Haji Isam lewat Jhonlin Baratama berpotensi meraup dividen sekitar US$ 151 juta atau Rp 2,7 triliun per tahun.
Hitung-hitungan Balik Modal dan Risiko Beban Bunga
Fauzan menegaskan harga transaksi belum diungkapkan, sehingga periode pengembalian sepenuhnya bergantung pada angka resmi nanti. “Harga transaksi memang belum diungkapkan, sehingga periode pengembalian sepenuhnya bergantung pada angka resmi nanti,” ucap Fauzan kepada Katadata.co.id, Kamis (9/10).
Berdasarkan perhitungan Fauzan, balik modal dari dana akuisisi membutuhkan waktu sekitar 44 tahun jika menggunakan acuan harga pasar. Angka itu menyusut menjadi 20 tahun berdasarkan rumor nilai transaksi Rp 53,1 triliun, dan sembilan tahun berdasarkan rumor transaksi US$ 3 miliar untuk 62% saham.
- Skenario harga pasar: balik modal sekitar 44 tahun.
- Skenario rumor transaksi Rp 53,1 triliun: sekitar 20 tahun.
- Skenario rumor transaksi US$ 3 miliar untuk 62% saham: sekitar sembilan tahun.
Namun, Fauzan mengatakan perhitungan tersebut belum memperhitungkan beban bunga jika akuisisi menggunakan pinjaman. “Dengan asumsi bunga 9%, dividen tidak cukup untuk menutup beban bunga jika nilai akuisisi di atas Rp 25 triliun dengan rasio pinjaman terhadap nilai jaminan (LTV) yang tinggi,” kata Fauzan.
Haji Isam Gadai 100% Saham PGUN dan JARR
Di sisi lain, jejak pendanaan Haji Isam terlihat dari langkah penggadaian saham di dua emiten lain. JARR sebelumnya mengumumkan telah menggadaikan saham pengendali perseroan, PT Eshan Agro Sentosa, kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) pada Rabu (30/9) pekan lalu. Laporan mengenai aksi korporasi itu disampaikan perseroan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (7/10).
Dalam dokumen itu disebutkan, PT Eshan Agro Sentosa menggadaikan saham ke BMRI mencapai 7.997.556.204 lembar atau 100% dari total saham yang dimiliki Eshan. “Penandatanganan akta gadai saham milik PT Eshan Agro Sentosa, yang merupakan pengendali dari perseroan dalam rangka bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas Kredit yang diperoleh perseroan dari Bank Mandiri,” ungkap Direktur Utama JARR, Indra Irawan, dalam dokumen tersebut.
PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) melaporkan penggadaian seluruh saham milik tiga pemegang sahamnya, yakni PT Araya Agro Lestari sebanyak 2,20 miliar saham, PT Citra Agro Raya sebanyak 2,19 miliar saham, dan PT Baramega Citra Mulia Persada sebanyak 900 juta saham. Transaksi tersebut berlangsung pada 30 September 2026 sebagai bagian dari pengikatan jaminan atas fasilitas kredit yang diperoleh afiliasi perseroan dari BMRI.
Pertanyaan Umum
Berapa lama waktu balik modal akuisisi saham BYAN oleh Haji Isam?
Berdasarkan perhitungan Fauzan Luthfi Djamal, balik modal membutuhkan sekitar 44 tahun jika memakai acuan harga pasar, 20 tahun berdasarkan rumor nilai transaksi Rp 53,1 triliun, dan sembilan tahun berdasarkan rumor transaksi US$ 3 miliar untuk 62% saham.
Berapa potensi dividen yang bisa diterima Haji Isam per tahun?
Dengan asumsi kepemilikan 30% dan besaran dividen tahun buku 2025, potensi dividen sekitar US$ 151 juta atau Rp 2,7 triliun per tahun.
Apa risiko yang belum masuk dalam hitungan balik modal tersebut?
Perhitungan itu belum memperhitungkan beban bunga jika akuisisi menggunakan pinjaman. Dengan asumsi bunga 9%, dividen tidak cukup menutup beban bunga jika nilai akuisisi di atas Rp 25 triliun dengan rasio pinjaman terhadap nilai jaminan yang tinggi.
Sumber: Katadata
