Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Guru SD Asal Indonesia di Luxembourg Bergaji Rp1,6 Miliar: “Doaku, Guru di Tanah Air Dimuliakan”

×

Guru SD Asal Indonesia di Luxembourg Bergaji Rp1,6 Miliar: “Doaku, Guru di Tanah Air Dimuliakan”

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

JAKARTA_HARIANESIA.COM_ Namanya Cristina Susilowati, 27 tahun. Ia kini mengajar di salah satu SD negeri di Luxembourg City dengan gaji Rp1,6 miliar per tahun. Namun di balik angka fantastis itu, ada kisah berdarah-darah yang jarang terlihat.

“Angin musim dingin di Luxembourg City hari ini menembus sampai ke tulang rusuk, tapi kehangatan di dalam kelas 3 SD tempatku mengajar membuat segalanya terasa lumer,” tulis Cristina dalam catatan pribadinya. Anak-anak bermata biru, cokelat, dan hijau memanggilnya “Madame Cristina” dengan aksen Prancis-Jerman yang kental.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Melihat slip gaji setara ratusan juta rupiah per bulan, banyak orang berdecak kagum. “Enak banget, Cris! Kerja santai, gaji pejabat,” kata mereka.

Padahal, tiga tahun pertama Cristina di Eropa adalah “neraka”. Luxembourg bukan negara ramah bagi pendatang tanpa kemampuan bahasa. Untuk menjadi guru SD negeri, syaratnya bukan sekadar mahir bahasa Inggris. Pelamar wajib menguasai tiga bahasa sekaligus: Prancis, Jerman, dan Luxemburgish.

“Aku ingat betul rasanya ditolak puluhan sekolah. ‘Kualifikasi Anda belum cukup,’ kata mereka berulang kali,” ujar Cristina.

Baca Juga :  Kemenkumham Garda Terdepan Menjaga Hukum dan Hak Asasi Manusia

Sambil mengejar penyetaraan ijazah dan sertifikasi, ia bekerja serabutan. Mulai dari baby sitter hingga pelayan restoran yang membuat kakinya bengkak setiap pulang kerja. Ia tidur hanya 4 jam sehari. Sisanya untuk belajar tata bahasa Jerman sampai kepala rasanya mau pecah, lalu menghafal kosa kata Prancis, sambil menahan lapar karena harga roti di sana mahal untuk kantong mahasiswa perantauan.

“Ada masa aku hampir menyerah, ingin pulang saja ke Indonesia, makan nasi goreng abang-abang, dan melupakan ambisi gila ini,” kenangnya.

Titik balik datang saat surat penerimaan itu tiba. Tangan Cristina gemetar. Ia resmi menjadi pengajar di sistem pendidikan negara dengan gaji guru tertinggi di dunia.

Namun saat slip gaji pertama turun, ia tidak berteriak senang. Ia justru terdiam. Air matanya jatuh, bukan karena bahagia, tapi karena rasa bersalah yang menusuk dada.

Baca Juga :  Dr.Yeremia Mendrofa, Hadiri Acara Peningkatan Kapasitas Kelembagaan, Kemasyarakatan Dalam Rangka Promotif Kesehatan

Pikirannya melayang ke Indonesia. Ia teringat Pak Budi, guru honorer SD yang mengajarinya membaca. Sepeda Pak Budi sering putus rantainya saat ke sekolah. Gajinya mungkin hanya Rp300 ribu sampai Rp500 ribu per bulan, dibayar rapel tiga bulan sekali.

Ia juga ingat teman-teman kuliah di jurusan pendidikan. Mereka cerdas, penuh semangat, dan tulus mencintai anak-anak. Namun kini banyak yang nyambi jualan pulsa, jadi ojek online, atau buka jasa ketik skripsi hanya untuk menyambung hidup. “Gaji mereka sebagai ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ bahkan sering lebih rendah dari uang jajan anak sekolah yang mereka ajar,” kata Cristina.

Di Luxembourg, guru adalah profesi yang sangat dihormati, setara dengan hakim atau dokter spesialis. Pemerintah paham bahwa jika ingin masa depan negara cerah, maka orang yang mendidik masa depan itu harus dimuliakan. Karena itu, mereka tidak segan menggaji guru miliaran rupiah per tahun.

“Sementara di tanah airku? Rasanya miris. Hatiku sakit setiap kali melihat berita guru di pedalaman yang harus menyeberang sungai deras demi mengajar, tapi di akhir bulan hanya menerima amplop tipis yang isinya cuma cukup buat beli beras seminggu,” ujarnya.

Baca Juga :  Apakah CCTV Bisa Baca Plat Kendaraan? Begini Caranya!

Gaji Rp1,6 miliar memang mengubah hidupnya. Cristina bisa mengirim uang untuk orang tua, merenovasi rumah di kampung, dan berkeliling Eropa. Namun jauh di lubuk hatinya, ada doa yang selalu diselipkan.

“Aku berharap suatu hari nanti, Indonesia bisa memandang guru-gurunya seperti Luxembourg memandang kami. Bukan hanya dipuja dengan slogan ‘Pahlawan’, tapi dimuliakan hidupnya, dicukupi kebutuhannya, dan dihargai keringatnya.”

Cristina yakin, di luar sana ada ribuan guru lain yang berjuang di ruang kelas panas dan bocor, dengan perut mungkin setengah lapar, tapi tetap tersenyum demi anak-anak bangsa. “Mereka layak mendapatkan lebih dari sekadar ucapan terima kasih. Semoga Indonesia bisa mengutamakan pendidikan dengan menyejahterakan guru, bukan program yang diselewengkan,” tutupnya.

Dwi

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600