KOTA TANGERANG_HARIANESIA.COM— Festival Maulid Nusantara VII Kota Tangerang hadir dengan tajuk “Panggung Rakyat”, membawa semangat untuk merawat sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai keislaman melalui seni yang tumbuh di tengah masyarakat.
Festival yang diketuai oleh Midyani ini menjadi ruang perjumpaan antara masyarakat dan seniman lokal Kota Tangerang. Di antaranya Samsaka Band dan Akamsi Band, yang turut menggandeng kekuatan seni lokal sebagai bagian dari perayaan sekaligus refleksi perjalanan Islam di Nusantara.
Lebih dari sekadar perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Festival Maulid Nusantara VII ingin mengajak masyarakat menengok kembali bagaimana Islam dapat berkembang dan diterima luas di Nusantara melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat: pendidikan, perdagangan, hubungan sosial, seni, dan kebudayaan.
Seni sebagai Jalan Dakwah dan Kebudayaan
Dalam sejarah Nusantara, penyebaran Islam berlangsung melalui proses yang panjang dan beragam. Para ulama dan tokoh masyarakat tidak selalu menggunakan pendekatan yang kaku, tetapi juga membangun komunikasi melalui kebudayaan yang telah hidup di tengah masyarakat.
Seni, sastra, musik, pertunjukan, tradisi, dan cerita menjadi bahasa yang mampu menjembatani nilai-nilai baru dengan kebudayaan lokal.
Semangat tersebut menjadi salah satu pesan yang ingin dihidupkan kembali melalui Panggung Rakyat.
Kehadiran Samsaka Band dan Akamsi Band menjadi simbol bahwa seniman lokal memiliki peran dalam menjaga kesinambungan kebudayaan. Musik menjadi ruang untuk mempertemukan generasi, sekaligus menjadi cara yang lebih dekat untuk mengenalkan kembali sejarah kepada masyarakat.
Panggung yang Kembali kepada Rakyat
Tajuk “Panggung Rakyat” memiliki makna bahwa kebudayaan seharusnya tumbuh bersama masyarakat. Panggung bukan hanya tempat pertunjukan, tetapi ruang bersama untuk berekspresi, berkumpul, dan mengingat kembali perjalanan sejarah.
Festival Maulid Nusantara VII Kota Tangerang ingin menunjukkan bahwa mengenang sejarah Islam tidak harus selalu dilakukan dalam ruang formal. Sejarah dapat hadir melalui musik, seni pertunjukan, cerita, tradisi, dan kreativitas masyarakat.
Dengan melibatkan seniman lokal, festival ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap para pelaku seni yang terus menjaga kehidupan kebudayaan di Kota Tangerang.
Mengingat Masa Lalu, Menatap Masa Depan
Di tengah perubahan zaman, generasi muda membutuhkan cara baru untuk mengenal sejarah. Karena itu, seni dan budaya dapat menjadi jembatan agar sejarah tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Festival Maulid Nusantara VII diharapkan menjadi momentum untuk mengingat kembali bagaimana Islam berkembang di Nusantara dengan penuh dinamika, berinteraksi dengan budaya lokal, dan kemudian melahirkan kekayaan tradisi yang masih dapat kita lihat hingga hari ini.
Panggung Rakyat menjadi pengingat bahwa kemajuan peradaban tidak hanya lahir dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat menjaga ingatan, kebudayaan, nilai, dan identitasnya.
Melalui Festival Maulid Nusantara VII, Kota Tangerang kembali menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat.
Sebab sejarah tidak hanya ditulis dengan tinta.
Sejarah juga diwariskan melalui lagu, tradisi, seni, dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Festival Maulid Nusantara VII Kota Tangerang
“PANGGUNG RAKYAT”
Merawat Tradisi • Menghidupkan Seni • Mengenang Sejarah • Menyambung Peradaban
