Resensi Kritis Soroti Gagalnya Penyatuan, Pembangunan di Atas Luka, dan Perdamaian yang Dipaksakan
JAKARTA_Sebuah resensi kritis berjudul “BENAR KATA SIAPA? (Benturan Dua Dunia dalam Buku Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua)” membedah buku karya Dr. A.G. Socratez Yoman sebagai cermin benturan dua dunia yang selama ini berbicara dalam bahasa berbeda tentang realitas yang sama di Papua.
Buku ini dinilai bukan sekadar ulasan kebijakan, melainkan tamparan atas kenyataan tidak nyaman: negara berbicara tentang pembangunan, keamanan, dan persatuan, sementara rakyat Papua berbicara tentang pengungsian, ketakutan, dan kehilangan tanah leluhur.
“Jika tidak setuju dengan apa yang kukatakan, katakanlah apa yang benar. Jangan menentang aku dengan pendapat yang belum kau uji kebenarannya” Sokrates
BENTURAN PERTAMA: Penyatuan yang Diklaim vs Penyatuan yang Dirasakan
Resensi ini menegaskan konflik Papua tidak lahir dari kebencian, melainkan dari perbedaan mendasar antara apa yang dikatakan terjadi dan apa yang sesungguhnya dirasakan. Negara mengklaim integrasi sudah selesai, rakyat Papua merasakan proses itu tidak pernah adil sejak awal.
“Pendapat yang benar tanpa alasan bukanlah pengetahuan sejati. Ia hanyalah kepercayaan yang melekat, dan mudah terlepas” – Plato
BENTURAN KEDUA: Pembangunan Sebagai Objek vs Keadilan Sebagai Subjek
Analisis terkuat buku ini adalah perbedaan resolusi pembangunan dan resolusi konflik. Pembangunan membangun jalan dan gedung, tetapi tidak bisa menggantikan keadilan.
“Tidak ada jumlah pun harta benda yang dapat menggantikan kebebasan dan keadilan” – Aristoteles
Penulis menegaskan, pembangunan di atas luka yang belum diakui bukanlah berkat, itu penghinaan. Ketika rakyat diusir dari tanahnya lalu dibangunkan jalan di atas tanah itu, itu adalah ketidakadilan paling dalam.
BENTURAN KETIGA & KEEMPAT: Keamanan yang Dipaksakan dan Suara yang Ditutup
Semakin pendekatan keamanan diperkuat, akar masalah tumbuh lebih dalam. Perdamaian yang dibangun di atas ketakutan bukan perdamaian, hanya jeda sebelum konflik meletus kembali.
“Perdamaian yang dipaksakan oleh senjata bukanlah perdamaian sejati. Itu hanyalah permusuhan yang ditunda” – Aristoteles
Inti terdalam buku ini: sebuah bangunan tidak pernah lebih kuat dari fondasinya. Jika penyatuan lahir tanpa kehadiran pihak yang paling terdampak, setiap upaya memperkuat bangunan tanpa memperbaiki fondasi adalah sia-sia.
KESIMPULAN: Tidak Memenangkan Pihak, Tapi Memenangkan Kebenaran
Buku ini tidak menawarkan jawaban instan, melainkan kejujuran tentang dimana kita berdiri.
“Kita tidak harus selalu setuju. Tetapi kita harus selalu setuju untuk saling mendengarkan sebagai manusia yang setara. Tanpa itu, semua pembicaraan tentang penyelesaian hanyalah bunyi yang tidak sampai ke hati mereka yang paling menanggung akibatnya” – Dr. Socratez Yoman
“Satu mata melihat satu sisi. Dua mata melihat kedalaman. Dan telinga yang mendengar dua cerita, itulah yang disebut kebijaksanaan.”
M.Chairul
Penulis: Hendrik Ngu Tra
Resensi ini diharapkan membuka mata lebih lebar, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami bahwa kebenaran Papua bukanlah milik satu pihak saja.




















