EdukasiPolitik

Analisis DRSM: Politik “Divide et Impera” AS 2026 Disebut Ancaman Eksistensial Asia Tenggara

JAKARTA_HARIANESIA.COM_ Lembaga kajian _Democracy Religion Society Market_ (DRSM) menilai strategi politik _divide et impera_ Amerika Serikat pada 2026 menjadi ancaman eksistensial bagi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara yang telah dibangun puluhan tahun.

Dalam kajian berjudul _“Sejauh Apakah Efektivitas Politik Divide et Impera AS? Strategi Hegemoni 2026 vs Dasasila Bandung 1955”_, DRSM menyebut taktik pecah belah dan kuasai muncul kembali dalam kemasan teknologi tinggi, bertolak belakang dengan semangat Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung.

Hegemoni via “Manajemen Konflik”

Menurut DRSM, strategi nasional AS 2026 tidak lagi mengejar ketertiban internasional berbasis aturan, melainkan fokus pada _Manajemen Konflik Regional_ yang sengaja dipelihara.

Dua instrumen utama disorot:

1. Choke Point Control: Menguasai titik krusial seperti Selat Malaka, Selat Hormuz, dan Terusan Panama untuk mendikte perdagangan dan energi.

2. Balance of Power: Mendorong sekutu regional membebani China, serta membiarkan ketegangan Iran-Israel membara agar Timur Tengah bergantung pada senjata dan pembiayaan Dolar AS.

“Strategi ini secara intrinsik berlawanan dengan Poin ke-6 Dasasila Bandung, yang melarang penggunaan pengaturan pertahanan kolektif untuk melayani kepentingan khusus negara besar,” tulis DRSM.

Dampak ke Asia Tenggara: 4 Risiko Ekonomi

Sebagai kawasan yang mengapit Selat Malaka, DRSM memaparkan empat dampak spesifik terhadap stabilitas ekonomi ASEAN:

1. Militerisasi Selat Malaka: Biaya logistik dan asuransi perkapalan melonjak karena ketidakpastian keamanan. Indonesia, Malaysia, Singapura disebut menghadapi tekanan untuk memihak.

2. Tekanan “Burden Sharing”: Negara seperti Filipina, Vietnam, Indonesia didorong alihkan anggaran ke belanja militer untuk menahan China, mengorbankan dana infrastruktur dan pendidikan.

3. Polarisasi Investasi: Strategi _decoupling_ ekstrem AS picu keraguan investor. Kawasan berisiko jadi medan “perang atrisi” yang sebabkan pelarian modal ke “Fortress America”.

4. Kerentanan Energi: Jika Selat Hormuz ditutup akibat konflik Iran, pengimpor minyak ASEAN hadapi inflasi. Produsen ditekan tingkatkan produksi untuk sekutu AS dengan harga didikte pasar Petrodollar.

Efektivitas Dibatasi Nasionalisme

DRSM menilai strategi AS 2026 efektif jangka pendek menghambat China atau Rusia, namun dibatasi kebangkitan nasionalisme  “roh yang sama yang melahirkan KAA 1955”.

“Dunia pasca-1955 tidak lagi bisa dikelola dengan mentalitas kolonial abad ke-19. Upaya menguasai dunia melalui pemeliharaan konflik hanya akan mempercepat keruntuhan hegemoni itu sendiri,” tulis DRSM.

Lembaga itu menyebut resistensi global mulai muncul lewat alternatif seperti BRICS atau aliansi regional mandiri. Di dalam negeri AS, strategi 2026 disebut butuh “Negara Polisi AI” untuk meredam protes.

Seruan Kembali ke Semangat Bandung

DRSM menegaskan stabilitas hanya terjaga jika ASEAN teguh pada Dasasila Bandung, khususnya penyelesaian sengketa damai dan menolak jadi instrumen negara besar.

“Tanpa netralitas aktif, Asia Tenggara berisiko menjadi ladang pertempuran ekonomi yang hanya menguntungkan produsen senjata dan energi di belahan bumi barat. Dunia tidak membutuhkan Polisi Global, melainkan kembalinya penghormatan terhadap kedaulatan seperti diikrarkan di Gedung Merdeka 71 tahun silam,” tutup analisis DRSM.

( D. Wahyudi)

Exit mobile version