Edukasi

Aksi 28 Oktober di Bundaran HI: Dari Salib Merah PMKRI hingga Sholat Bersama di Tengah Aksi, Potret Baru Persatuan Mahasiswa

Gerakan Indonesia Sadar yang Melibatkan 8 Kampus dan Elemen Masyarakat Sipil Suarakan 5 Tuntutan, Mulai dari Krisis Ekologi hingga Demokrasi

JAKARTA -Peringatan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 di Jakarta meninggalkan catatan penting tentang wajah baru gerakan mahasiswa Indonesia. Di tengah aksi yang digelar aliansi Gerakan Indonesia Sadar di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), dua simbol keagamaan yang berbeda hadir dalam satu ruang aksi: salib merah besar yang dibawa mahasiswa Katolik dan sajadah sholat Ashar yang digelar di tengah kerumunan.

banner iklan harianesia 300x600

Aksi yang melibatkan mahasiswa dari delapan perguruan tinggi, termasuk BEM UI, serta elemen buruh, petani, Serikat Perempuan Indonesia, dan Aliansi Ibu Indonesia tersebut berlangsung sejak siang hingga pukul 19.45 WIB, meski sempat diguyur hujan.

Berdasarkan laporan di lapangan, aksi itu dibuka dengan kehadiran salib merah yang dibawa oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI). Simbol tersebut terinspirasi dari perjuangan masyarakat adat Papua Selatan dan film dokumenter _Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita_ karya Dandhy Laksono.

Dalam konteks masyarakat adat Papua Selatan, salib merah merupakan penanda batas wilayah adat dan simbol perlawanan terhadap perampasan tanah atas nama pembangunan dan investasi.

“Salib itu tidak meminta orang lain memeluk suatu keyakinan, melainkan mengajak publik melihat penderitaan yang selama ini disembunyikan di balik bahasa pembangunan dan pertumbuhan ekonomi,” demikian narasi yang berkembang di kalangan peserta aksi.

Menjelang sore, di tengah ketegangan antara massa dan aparat terkait lokasi demonstrasi, sejumlah peserta aksi Muslim membentangkan sajadah dan melaksanakan sholat Ashar bersama di sekitar air mancur Bundaran HI. Peristiwa tersebut dilaporkan oleh NU Online.

Perjumpaan dua simbol tersebut dinilai sebagai gambaran persatuan yang tidak menuntut keseragaman. Salib merah dan sajadah hadir bukan untuk dipertentangkan, melainkan sebagai ekspresi tanggung jawab bersama terhadap isu keadilan sosial.

LIMA TUNTUTAN INDONESIA SADAR

Gerakan Indonesia Sadar sendiri mengangkat lima tuntutan utama yang dinilai saling berkaitan secara struktural:

1. Penanganan krisis ekologis dan penghentian perampasan tanah masyarakat adat
2. Transparansi dan keadilan dalam pengelolaan anggaran negara
3. Pendidikan terjangkau dan jaminan pekerjaan layak
4. Penegakan hukum yang berkeadilan dan pemberantasan korupsi
5. Jaminan kebebasan sipil dan penguatan demokrasi

Para mahasiswa menilai, persoalan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari tata kelola tanah dan relasi kekuasaan, serta anggaran negara yang berkaitan langsung dengan distribusi kesempatan hidup dan keadilan.

“Aksi ini bukan hanya tentang Papua, tapi tentang arah kehidupan bernegara yang semakin jauh dari kepentingan rakyat,” ujar salah satu orator aksi.

CATATAN KRITIS: SOLIDARITAS BUTUH AKSI NYATA

Meski perjumpaan simbol keagamaan tersebut mendapat apresiasi luas di media sosial, pengamat gerakan sosial mengingatkan agar solidaritas tidak berhenti pada gestur simbolis.

Persatuan yang ditampilkan melalui salib merah dan sholat bersama perlu diuji melalui keberpihakan nyata, termasuk posisi perempuan dalam gerakan, perlindungan terhadap perempuan adat yang kehilangan ruang hidup akibat kerusakan hutan, serta keberlanjutan organisasi gerakan pasca-aksi jalanan.

Sejarah gerakan mahasiswa menunjukkan, tantangan terbesar adalah mengubah energi demonstrasi menjadi kekuatan politik berkelanjutan yang mampu membangun basis sosial, memperluas aliansi dengan buruh dan petani, dan mengawal tuntutan hingga menjadi perubahan kebijakan.

Aksi 28 Oktober 2026, yang ditutup dengan seruan “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan”, menjadi pengingat kembali makna Sumpah Pemuda 1928. Hampir satu abad setelah ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, pertanyaannya kini bergeser: bagaimana memastikan kesatuan tersebut memiliki makna keadilan bagi seluruh rakyat, dari Papua hingga Jakarta.

M.Chairul

Exit mobile version