Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

Rupiah Tertekan: BI Sebut Sentimen Global dan MSCI Jadi Pemicu

×

Rupiah Tertekan: BI Sebut Sentimen Global dan MSCI Jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini
Rupiah Tertekan: BI Sebut Sentimen Global dan MSCI Jadi Pemicu — Ilustrasi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tengah sentimen global dan isu MSCI
Bank Indonesia menyebut konflik geopolitik Timur Tengah dan kekhawatiran klasifikasi MSCI sebagai pemicu tekanan terhadap rupiah.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Bank Indonesia menyatakan tekanan terhadap rupiah yang mendekati level Rp 18.184 per dolar Amerika Serikat tidak berdiri sendiri. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyebut dua pemicu utama: konflik geopolitik di Timur Tengah yang belum selesai dan kekhawatiran pasar atas klasifikasi MSCI.

Keduanya bekerja bersamaan. Ketegangan di Timur Tengah menahan harga minyak di atas USD 115 per barel, memicu risiko fiskal, dan mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Sementara dari dalam negeri, isu MSCI menambah beban arus dana keluar.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

“Sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan USD dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi,” ujar Erwin dalam keterangan yang diterima, Rabu (28/10).

Pergerakan rupiah hari ini penting karena menyangkut biaya impor, harga pangan, dan beban utang valas korporasi dalam negeri.

Baca Juga :  Rupiah Melemah 0,15% ke Rp 18.184 per Dolar AS pada 28 Oktober 2026

Tekanan dari Luar dan Dalam Negeri

Erwin menjelaskan, pergerakan rupiah dan mata uang kawasan hari ini masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah. Situasi itu menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas USD 115 per barel, sekaligus meningkatkan risiko fiskal ke depan.

Di sisi lain, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana. Kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan disebutnya menambah tekanan yang sudah ada.

Meski begitu, Erwin menegaskan pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen.

Cadangan Devisa dan Langkah Stabilisasi

Di tengah tekanan tersebut, Erwin memastikan cadangan devisa Indonesia masih terjaga sebesar USD 146,3 miliar pada akhir September 2026.

Untuk memperbaiki nilai tukar, BI terus hadir di pasar agar mekanisme pasar berjalan baik dan stabilitas rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot.

Baca Juga :  Faktor Rupiah Tertekan hingga 18.000 per Dolar AS

BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari langkah tersebut. Selain itu, bank sentral terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.

Risk-off — kondisi ketika investor menghindari aset berisiko dan beralih ke aset aman seperti dolar AS.

Faktor yang Menekan Rupiah

  • Konflik Timur Tengah yang belum selesai menahan harga minyak di atas USD 115 per barel.
  • Kekhawatiran penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI menekan aliran dana.
  • Kebutuhan valas domestik meningkat menjelang akhir bulan.

Kombinasi ketiga faktor itu membuat sentimen risk-off memburuk, mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang. Kenaikan yield obligasi memperparah kondisi tersebut.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp 18.000 Imbas Rencana Downgrade Status Indonesia oleh MSCI

Erwin tidak memerinci proyeksi angka rupiah untuk hari ini. Ia hanya menegaskan bahwa BI akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental.

Pertanyaan Umum

Berapa level rupiah terhadap dolar AS saat ini?

Nilai tukar rupiah tertekan hingga menuju level Rp 18.184 per dolar AS, menurut keterangan Bank Indonesia.

Apa penyebab utama pelemahan rupiah?

Ketidakpastian penyelesaian konflik Timur Tengah yang menahan harga minyak di atas USD 115 per barel, kekhawatiran penurunan klasifikasi pasar saham oleh MSCI, dan kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan.

Bagaimana posisi cadangan devisa Indonesia?

Cadangan devisa tercatat USD 146,3 miliar pada akhir September 2026, dan BI menyatakan posisinya masih terjaga.

Sumber: JawaPos

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600