Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Ekonomi

Fitch Beri Outlook Negatif untuk INA, Peringkat BBB

×

Fitch Beri Outlook Negatif untuk INA, Peringkat BBB

Sebarkan artikel ini
INA — Logo Fitch Ratings dengan latar belakang grafik peringkat kredit
Fitch Ratings mempertahankan peringkat INA di level BBB dengan prospek negatif.
Banner Iklan Harianesia 468x60

Fitch Ratings mempertahankan peringkat Indonesia Investment Authority (INA) di level “BBB” dengan prospek negatif. Prospek negatif sovereign wealth fund (SWF) milik Indonesia itu sejalan dengan prospek peringkat utang pemerintah Indonesia yang saat ini juga berada di level “BBB/Negatif”.

Lembaga pemeringkat itu juga mempertahankan peringkat gagal bayar penerbit jangka pendek dalam valuta asing INA di level “F2”. Sementara itu, peringkat nasional jangka panjang INA tetap berada di “AAA(idn)” dengan prospek stabil dan peringkat nasional jangka pendek di “F1+(idn)”.

Banner Iklan Harianesia 300x600Banner Iklan Harianesia 300x600

“Prospek negatif pada IDR jangka panjang INA sejalan dengan prospek pemerintah Indonesia,” tulis Fitch Ratings dalam pengumumannya, dikutip Kamis (17/9).

Selain itu, Fitch menilai dukungan luar biasa dari pemerintah Indonesia kepada INA “hampir pasti” diberikan apabila diperlukan. Penilaian itu terlihat dari skor dukungan INA sebesar 45 dari maksimum 60 berdasarkan kriteria Government-Related Entities (GRE) Fitch.

Dukungan Pemerintah Dinilai Kuat

Fitch menilai pemerintah memiliki tanggung jawab dan insentif yang kuat untuk mendukung INA. Hal ini tercermin dari pengawasan pemerintah terhadap INA yang sejalan dengan prioritas nasional.

Fitch juga menyebutkan INA bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Sementara pemerintah berperan untuk menunjuk dewan pengawas hingga mengawasi rencana bisnis, indikator kinerja utama, serta laporan operasional dan keuangan.

Baca Juga :  Laba Antam (ANTM) Rp 6,9 Triliun Semester I 2026, Naik 34%

Dukungan pemerintah juga terlihat sejak pembentukan INA. Pemerintah memberikan suntikan modal awal sebesar Rp 30 triliun dan kontribusi ekuitas senilai Rp 45 triliun berupa kepemilikan saham di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI).

Kepemilikan saham itu sekaligus menjadi sumber pendapatan berulang bagi INA. Dividen dari Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia mencapai Rp 4,6 triliun pada 2025, setara 55% dari total pendapatan INA. Fitch mencatat regulasi juga memungkinkan pemerintah memberikan tambahan suntikan modal kepada INA apabila diperlukan.

Fitch menilai pemerintah Indonesia memiliki insentif yang sangat kuat untuk mendukung INA. Sepanjang 2025, INA bersama mitra investornya menggelontorkan investasi sekitar Rp 15,7 triliun ke berbagai sektor strategis.

“Mandat INA tetap berfokus pada bidang-bidang prioritas seperti infrastruktur, energi, transformasi digital, kesehatan, dan bahan canggih dan industri, yang mendukung tujuan pembangunan pemerintah secara lebih luas,” tulis Fitch.

Risiko Gagal Bayar dan Kinerja Keuangan

Fitch juga menyoroti risiko kuat apabila INA mengalami gagal bayar. Kondisi itu dinilai dapat mengganggu ketersediaan pembiayaan sekaligus meningkatkan biaya pendanaan bagi pemerintah pusat dan entitas terkait pemerintah lainnya. Gagal bayar INA juga berpotensi menekan kepercayaan investor terhadap iklim investasi Indonesia.

Baca Juga :  Dolar AS Menguat, Rupiah Melemah 0,21%: Apa yang Terjadi di Balik Fluktuasi Mata Uang?

Risiko tersebut kian meningkat karena INA memiliki posisi strategis dan menjalin hubungan erat dengan investor global. INA juga bermitra dengan sejumlah lembaga internasional yang telah berkomitmen menyediakan investasi lebih dari US$ 25 miliar di Indonesia. Meski begitu, Fitch menilai risiko tersebut terbatas karena rendahnya utang INA dan posisinya yang bukan penerbit acuan pemerintah di pasar surat utang.

Dari sisi kinerja, INA membukukan pendapatan Rp 8,5 triliun pada 2025, naik dari Rp 5,9 triliun pada 2024. Laba bersih juga meningkat menjadi Rp 7,4 triliun dari Rp 5,4 triliun.

Kenaikan tersebut antara lain ditopang pendapatan investasi yang meningkat menjadi Rp 866,3 miliar dari Rp 504,4 miliar pada 2024. Dividen dari Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia tetap menjadi sumber utama pendapatan berulang INA dengan kontribusi mencapai 55% dari total pendapatan.

Fitch mencatat INA mempertahankan tingkat utang yang rendah sepanjang 2025. INA lebih banyak membiayai pertumbuhan portofolio melalui ekuitas, sumber daya internal, dan dana investor ketimbang utang. Strategi tersebut dinilai menjaga struktur permodalan INA tetap konservatif. INA juga memiliki likuiditas yang memadai melalui kas, deposito berjangka, dan kepemilikan obligasi.

Baca Juga :  Mata Uang Komoditas: Diversifikasi dan Risiko (AUD, CAD, NZD)

“Meskipun saldo kas turun menjadi Rp 9,8 triliun pada tahun 2025 dari Rp 12,8 triliun pada tahun 2024 seiring percepatan penyaluran dana INA di sektor-sektor prioritas,” tulis Fitch.

Pertanyaan Umum

Apa peringkat terbaru INA dari Fitch Ratings?

Fitch mempertahankan peringkat jangka panjang INA di level “BBB” dengan prospek negatif, peringkat gagal bayar penerbit jangka pendek valuta asing di “F2”, peringkat nasional jangka panjang di “AAA(idn)” dengan prospek stabil, serta peringkat nasional jangka pendek di “F1+(idn)”.

Mengapa prospek INA negatif?

Prospek negatif INA sejalan dengan prospek peringkat utang pemerintah Indonesia yang juga berada di level “BBB/Negatif”. Fitch menilai peringkat INA sangat terkait dengan dukungan dan kondisi pemerintah.

Apa sumber pendapatan utama INA?

Dividen dari kepemilikan saham di Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia menjadi sumber pendapatan berulang utama INA, dengan kontribusi mencapai 55% dari total pendapatan atau sekitar Rp 4,6 triliun pada 2025.

Sumber: Katadata

Banner Iklan 1Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600