PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) membukukan laba periode berjalan sebesar Rp 6,91 triliun pada semester pertama 2026, naik 34% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 5,14 triliun. Kinerja ini didorong oleh peningkatan penjualan dan efisiensi operasional di tengah fluktuasi harga komoditas global.
EBITDA perseroan tercatat sebesar Rp 9,62 triliun, tumbuh 35% secara tahunan. Sementara itu, penjualan bersih Antam mencapai Rp 62,71 triliun, meningkat 6% dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp 59,02 triliun. Penjualan domestik masih mendominasi dengan kontribusi 96% atau Rp 60,15 triliun.
Kinerja Keuangan Semester I 2026
Laba kotor Antam naik 32% menjadi Rp 10,85 triliun dari Rp 8,24 triliun. Laba usaha juga tercatat meningkat 38% menjadi Rp 8,44 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh kenaikan penghasilan lain-lain sebesar 41% menjadi Rp 559,37 miliar, terutama dari keuntungan selisih kurs dan bagian laba entitas asosiasi.
Laba bersih per saham dasar Antam mencapai Rp 265,85 per saham, naik 36% dari Rp 195,43 per saham pada periode yang sama tahun lalu. Direktur Utama Antam, Untung Budiharto, menyatakan bahwa perseroan terus mengoptimalkan kapasitas produksi di seluruh kegiatan operasional untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah dinamika industri pertambangan.
Dari sisi neraca, total aset Antam tercatat sebesar Rp 61,27 triliun pada akhir Juni 2026, naik 27% dibandingkan Rp 48,38 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ekuitas perseroan juga meningkat 14% menjadi Rp 38,53 triliun. Posisi kas dan setara kas mencapai Rp 9,23 triliun, memberikan fleksibilitas keuangan bagi Antam untuk menjaga operasional dan mendukung proyek strategis.
Penopang Bisnis: Emas dan Nikel
Emas masih menjadi penopang utama bisnis Antam dengan kontribusi 80% dari total penjualan semester I 2026. Penjualan emas mencapai Rp 50,39 triliun, naik tipis 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari sisi volume, Antam menjual 18.080 kg emas, sementara produksi dari tambang perseroan tercatat 433 kg.
Segmen nikel menyumbang 17% dari total penjualan dengan nilai Rp 10,41 triliun, melonjak 32% dibandingkan Rp 7,87 triliun pada semester I 2025. Antam memproduksi 7,78 juta wet metric ton (wmt) bijih nikel dan membukukan penjualan 6,77 juta wmt. Produksi feronikel mencapai 7.788 ton nikel dalam feronikel (TNi), dengan penjualan meningkat 32% menjadi 7.605 TNi.
Sementara itu, segmen bauksit dan alumina menyumbang 3% terhadap penjualan Antam, atau senilai Rp 1,88 triliun, naik 28% dari Rp 1,46 triliun. Produksi bauksit mencapai 1,28 juta wmt, sedangkan penjualan tumbuh 24% menjadi 1,26 juta wmt. Antam juga meningkatkan produksi chemical grade alumina (CGA) sebesar 12% menjadi 100.257 ton.
Penjualan alumina naik 10% menjadi 100.437 ton, dibandingkan 91.109 ton pada semester pertama tahun lalu. Kinerja ini menunjukkan diversifikasi portofolio Antam di luar emas dan nikel, meskipun kontribusinya masih relatif kecil.
Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Untung Budiharto menambahkan bahwa perseroan akan terus memantau pergerakan harga komoditas dan menyesuaikan strategi produksi serta penjualan. “Posisi likuiditas yang kuat memberikan financial flexibility bagi Antam untuk menjaga kebutuhan operasional, likuiditas, serta mendukung pelaksanaan proyek strategis Perusahaan,” ujarnya dalam pernyataan yang dikutip Sabtu (29/8).
Kinerja Antam pada semester pertama 2026 mencerminkan ketahanan di tengah volatilitas pasar, terutama didorong oleh harga emas yang masih tinggi dan permintaan nikel yang stabil. Investor dan analis kini menanti perkembangan kuartal ketiga, terutama terkait realisasi proyek ekspansi dan dampak kebijakan hilirisasi mineral.
Sumber: Katadata




















