Ekonomi

Yield SUN Diproyeksi 7,05%-7,20%, Seri FR0109 Masih Menarik

Yield SUN — Grafik tren yield Surat Utang Negara acuan tenor 10 tahun di pasar obligasi.
Yield Surat Utang Negara acuan 10 tahun diproyeksikan berada pada rentang 7,05% hingga 7,20%.

Pasar Surat Utang Negara (SUN) diproyeksikan melanjutkan fase konsolidasi pada perdagangan awal pekan, Senin (28/9/2026). Pelaku pasar bersikap hati-hati di tengah ketidakpastian suku bunga global dan lonjakan harga energi dunia yang berpotensi memicu tekanan inflasi baru.

Pergerakan imbal hasil atau yield obligasi acuan pemerintah Indonesia bertenor 10 tahun diperkirakan berada di rentang 7,05% hingga 7,20%. Ekspektasi ini mencerminkan dinamika tarik-menarik antara sentimen domestik yang relatif stabil dengan ketatnya likuiditas di pasar keuangan internasional.

“Melihat perkembangan terkini di pasar global maupun domestik, kami memperkirakan yield Indo-GB tenor 10 tahun akan bergerak dalam kisaran 7,05%-7,20% untuk hari ini.”

— Ridwan Adi Gunawan, Economist & Fixed Income Analyst MNC Sekuritas

Tekanan Pasar Global dan Aksi Ambil Untung

Kenaikan yield SUN yang terjadi menjelang penutupan pekan lalu dipicu oleh penyesuaian portofolio investor institusi. Pelaku pasar cenderung mengamankan keuntungan melalui aksi profit-taking setelah reli harga obligasi pada periode sebelumnya.

Kondisi tersebut diperberat oleh lonjakan imbal hasil obligasi negara-negara maju yang merespons prospek pengetatan moneter berkepanjangan. Pada saat yang sama, harga minyak mentah global mengalami fluktuasi tajam yang meningkatkan kekhawatiran atas beban inflasi energi bagi negara berkembang.

Akibat kombinasi faktor eksternal tersebut, yield SUN secara umum terkerek naik antara 1 hingga 3 basis poin (bps). Kendati demikian, tekanan jual tidak terjadi secara merata pada seluruh tenor di kurva imbal hasil domestik.

Divergensi Pergerakan Kurva Imbal Hasil SUN

Pergerakan kurva imbal hasil obligasi pemerintah menunjukkan pola bervariasi antara tenor pendek dan tenor menengah-panjang. Minat investor pada instrumen jangka pendek tetap solid di tengah kehati-hatian terhadap prospek makroekonomi.

Yield obligasi bertenor 1 hingga 2 tahun tercatat mengalami penurunan sebesar 1 hingga 3 bps. Penurunan imbal hasil pada instrumen pendek ini mencerminkan strategi defensif para manajer investasi untuk meminimalkan risiko volatilitas pasar sekunder.

Sebaliknya, seri obligasi acuan tenor 5 tahun ditutup melemah dengan yield yang naik 2,8 bps ke level 6,95%. Sementara itu, seri benchmark tenor 10 tahun (FR0108) berakhir sedikit menguat dengan penurunan yield tipis 0,7 bps ke posisi 7,08%.

Aktivitas Transaksi dan Seri Paling Likuid

Likuiditas perdagangan obligasi pemerintah pada pasar sekunder terpusat pada sejumlah seri unggulan, baik sukuk negara maupun obligasi konvensional. Total volume perdagangan didominasi oleh seri-seri dengan kupon kompetitif serta likuiditas yang melimpah.

Berdasarkan data pasar, nilai transaksi dengan skema outright turnover tertinggi dicatatkan oleh seri sukuk PBS003 yang menembus angka Rp 8,47 triliun. Posisi berikutnya ditempati oleh seri konvensional FR0109 dengan nilai transaksi Rp 2,26 triliun, disusul seri FR0108 senilai Rp 1,35 triliun.

Dari sisi aktivitas harian, frekuensi transaksi paling padat terkonsentrasi pada beberapa instrumen utama berikut:

  • PBS030
  • FR0111
  • PBS003
  • ORI024T3
  • FR0109

Tingginya frekuensi pada seri sukuk dan obligasi ritel mengindikasikan bahwa likuiditas domestik masih memiliki daya serap yang memadai. Investor memanfaatkan instrumen berpendapatan tetap ini untuk mengunci imbal hasil riil yang masih atraktif.

Arus Modal Asing dan Nilai Tukar Rupiah

Kinerja pasar obligasi domestik bergerak beriringan dengan dinamika nilai tukar rupiah dan arus dana asing. Pada penutupan perdagangan pekan lalu, mata uang rupiah sempat menguat tipis 0,04% ke posisi Rp 17.893 per dolar AS sebelum kembali tertekan ke kisaran Rp 17.940 per dolar AS pada pembukaan awal pekan.

Secara mingguan, mata uang garuda melemah sebesar 0,31% akibat keluarnya dana dari pasar portofolio domestik. Investor asing membukukan aksi jual bersih di pasar obligasi sebesar US$ 221,3 juta dalam sepekan terakhir.

Pelepasan kepemilikan oleh investor non-residen ini dipicu oleh penyesuaian selisih imbal hasil terhadap aset berdenominasi dolar AS. Penguatan indeks dolar secara global mendorong sebagian investor global memindahkan likuiditas ke aset pasar uang berbasis valuta utama.

Serapan Instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia

Di tengah tekanan pada pasar valas dan obligasi pemerintah, lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatatkan lonjakan minat yang signifikan dari perbankan. Total penawaran yang masuk meningkat lebih dari dua kali lipat, dari Rp 30,5 triliun menjadi Rp 64,1 triliun.

Merespons tingginya kelebihan likuiditas yang masuk, Bank Indonesia menyerap dana sebesar Rp 15,0 triliun. Dari total nominal pemenang tersebut, alokasi untuk instrumen tenor 12 bulan mendominasi lelang hingga mencapai porsi 95,6%.

Tingginya serapan pada tenor satu tahun tersebut diiringi oleh penurunan yield pemenang dari posisi sebelumnya 6,93% menjadi 6,75%. Keberhasilan lelang SRBI ini berperan penting memperkuat bantalan moneter domestik di tengah fluktuasi arus modal portofolio jangka pendek.

Pilihan Seri Surat Berharga Negara

Menghadapi struktur kurva imbal hasil dan dinamika likuiditas saat ini, pelaku pasar disarankan untuk mencermati seri-seri dengan likuiditas tinggi. Pilihan pada seri obligasi bertenor menengah dinilai dapat memberikan perlindungan portofolio yang seimbang.

Analis merekomendasikan lima seri Surat Berharga Negara pilihan yang memiliki karakteristik transaksi aktif di pasar sekunder:

  • FR064
  • FR0104
  • FR0109
  • FR0103
  • FR0111

Kombinasi obligasi bertenor menengah ini diharapkan membantu investor mengoptimalkan imbal hasil secara terukur sembari mengantisipasi rilis data ekonomi terkini serta arah kebijakan moneter bank sentral dunia.

Pertanyaan Umum

Berapa proyeksi yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun hari ini?

Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak dalam rentang 7,05% hingga 7,20% pada perdagangan hari ini.

Faktor apa saja yang memengaruhi pergerakan pasar SUN saat ini?

Pergerakan pasar SUN terutama dipengaruhi oleh pergerakan yield obligasi global, fluktuasi harga minyak mentah dunia, serta aksi jual bersih investor asing di pasar obligasi domestik.

Apa saja seri obligasi negara yang direkomendasikan untuk dicermati?

Seri Surat Berharga Negara yang direkomendasikan untuk dicermati meliputi FR064, FR0104, FR0109, FR0103, dan FR0111.

Sumber: Kontan

Exit mobile version