Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Suhu Jony Tan : Tradisi Berjalan di Atas Bara Api sebagai Ritual Pembersihan Diri, merupakan simbol pembersihan tertinggi

×

Suhu Jony Tan : Tradisi Berjalan di Atas Bara Api sebagai Ritual Pembersihan Diri, merupakan simbol pembersihan tertinggi

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

Kabupaten Tangerang_HARIANESIA.COM– Ritual Injak Bara atau Tahwee merupakan salah satu tradisi spiritual dan budaya masyarakat Tionghoa Indonesia yang masih lestari hingga saat ini (Khususnya Cina Benteng, Tangerang). Ritual ini dilakukan dengan berjalan di atas hamparan bara api menyala menggunakan kaki telanjang sebagai simbol penyucian diri, penolak bala serta permohonan keselamatan, kesehatan dan keberuntungan” Ujar Suhu Jony Tan pada Senin 1 Juni 2026.

Suhu Jony Tan menyampaikan” Dalam tradisi ini, api dimaknai sebagai media pembersihan diri dari berbagai energi negatif, kesialan maupun beban kehidupan, selain itu Ritual Tahwee juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur dan kekuatan spiritual yang diyakini menjaga keseimbangan kehidupan manusia.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Suhu Jony Tan menerangkan” Makna dari Ritual Tahwee, secara filosofis Tahwee diibaratkan sebagai perjalanan melewati “jembatan api” yang melambangkan proses penyucian jiwa dan penebusan berbagai hal negatif yang pernah dilakukan seseorang, dimana tradisi ini juga dikenal dengan sebutan lain seperti “Cisuak” yang dalam beberapa aspek memiliki kemiripan dengan tradisi Ruwatan dalam budaya Jawa.

Baca Juga :  Dandim 0502/JU Hadiri Peluncuran KDKMP Papanggo, Perkuat Ekonomi Kerakyatan dan Kolaborasi Masyarakat

Selain itu” Ritual ini diyakini memiliki makna mendalam yaitu membangun keberanian, keteguhan hati serta memperkuat keyakinan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Adapun tahapan pelaksanaan Ritual Injak Bara dilakukan melalui beberapa tahapan, antara lain:
1. Persiapan Ritual Tetua adat atau Suhu menyiapkan berbagai perlengkapan ritual, termasuk penulisan rajah atau mantra pada lembaran kertas yang telah didoakan. Setelah itu, arang kayu disusun membentuk hamparan dan dibakar hingga menjadi bara api merah menyala.
2. Prosesi Injak Bara Prosesi dipimpin oleh Suhu atau pemuka spiritual yang membacakan doa-doa dan mantra. Para peserta kemudian berjalan dengan tenang melewati hamparan bara api sebagai simbol pembersihan diri dan penyerahan diri kepada Yang Maha Kuasa.
3. Makna Spiritual Masyarakat yang menjalankan tradisi ini meyakini bahwa keberhasilan melewati bara api tanpa rasa takut menjadi simbol kesiapan menghadapi berbagai cobaan hidup. Ritual ini juga dimaknai sebagai upaya membuang energi negatif dan memperkuat semangat menjalani kehidupan yang lebih baik.

Seperti yang diketahui” Pengalaman Suhu Jony Tan, sebagai salah satu tokoh yang dikenal berpengalaman dalam pelaksanaan Ritual Tahwee yang berasal dari Klenteng Ceng It Thian Kun Bio di Jalan AMD Rancakalapa No. 888, Desa Rancakalapa, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang.

Baca Juga :  Ketua PPUMI Tuding IMW Terkait Polemik Kematian Sopir, IMW Tegas Membantah: Itu Fitnah!

Menurut keterangan yang disampaikan, ritual ini telah dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, antara lain Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Belitung, Makassar hingga Batam.

Pelaksanaannya tidak hanya dilakukan di klenteng tetapi juga di beberapa padepokan dan majelis pengobatan tradisional.

*Kapan Ritual Tahwee Dilaksanakan?.*

Dalam kepercayaan yang berkembang di kalangan pelaku adat tradisi, Ritual Tahwee biasanya dilakukan pada kondisi-kondisi tertentu yang dianggap memerlukan upaya penyelarasan spiritual antara lain : Ketika masyarakat memandang kondisi sosial, ekonomi atau kehidupan berbangsa sedang menghadapi berbagai tantangan sehingga diperlukan doa bersama untuk keselamatan dan kebaikan bersama.

Ketika banyak umat atau jamaah menghadapi persoalan hidup yang berkepanjangan baik masalah ekonomi, keluarga, maupun kesehatan sebagai bentuk ikhtiar spiritual sesuai keyakinan masing-masing. *siapa saja yang boleh mengikuti ritual ini?* ritual ini bebas untuk siapa saja, tidak memandang suku, agama, karena kita sesama umat manusia diwajibkan untuk saling membantu, gotong royong, welas asih, dan berbagi kasih.

Baca Juga :  Ketua Pewarna Jabar " Kefas Hervin Devananda.S.Th, Turut Berdukacita Atas Wafatnya Ketum AWDI Iwan Setiawan Pane.SE

*Melalui apa saja ritual pembersihan diri?*
Sebagai bagian dari tradisi pembersihan diri kami pelaku adat tradisi mengenal tiga unsur utama, yaitu air, udara dan api.

Air digunakan melalui ritual penyucian di sumber mata air, sungai, atau laut. Udara melalui doa dan meditasi, sedangkan api diwujudkan melalui Ritual Injak Bara sebagai simbol transformasi dan penyucian.

Menjaga Warisan Budaya dan Spiritualitas
Ritual Injak Bara atau Tahwee tidak hanya dipandang sebagai tradisi spiritual tetapi juga merupakan bagian dari kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi para pelestarian nya, ritual ini menjadi sarana mempererat kebersamaan meningkatkan keimanan sesuai keyakinan masing-masing, serta menjaga nilai-nilai budaya leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Sumber: Keterangan Suhu Jony Tan dan Pelaku Pelestari Ritual Tahwee Benteng.

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600