SRAGEN – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) yang melaju pesat mulai menjadi perhatian serius Kepolisian Resor (Polres) Sragen. Bukan sekadar mengenalkan teknologi, polisi turun langsung ke lingkungan sekolah untuk membekali generasi muda agar mampu menggunakan AI secara cerdas, aman, etis, dan produktif.
Hari ini, Senin (10/8/2026), program Sosialisasi Paham Artificial Intelligence (AI) Polres Sragen menjangkau dua sekolah sekaligus, yakni SMA Negeri 1 Sumberlawang dan SMA Negeri 1 Tangen.
Sebanyak 240 pelajar, masing-masing 120 siswa dari SMA Negeri 1 Sumberlawang dan 120 siswa SMA Negeri 1 Tangen, mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari Program Quick Wins Presisi Triwulan III Tahun 2026 tersebut.
Kegiatan dipimpin dan diikuti jajaran Polres Sragen bersama para trainer Paham AI. Hadir langsung Kasat Lantas Polres Sragen AKP Kukuh Tirto Satria Leksono, didampingi Kaurmintu Satlantas Polres Sragen Ipda Arfian Isnaini Nur Choirudin, serta para trainer Paham AI Polres Sragen.
Di hadapan para pelajar, polisi membawa pesan penting, AI bukan hanya soal kecanggihan teknologi, tetapi juga soal bagaimana manusia menggunakannya.
Para siswa diperkenalkan dengan pengertian Artificial Intelligence, perkembangan teknologi AI, fungsi, hingga penerapannya yang kini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
AI juga diperkenalkan sebagai teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran.
Mulai dari membantu mencari informasi, memahami materi pelajaran, mengembangkan ide, meningkatkan kreativitas hingga membantu menyelesaikan pekerjaan secara lebih efektif.
Namun, Polres Sragen memberikan penekanan khusus agar kemudahan teknologi tidak membuat pelajar kehilangan kemampuan berpikir kritis.
Kasat Lantas Polres Sragen AKP Kukuh Tirto Satria Leksono mengatakan, generasi muda harus dipersiapkan agar tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami batasan dan tanggung jawab di balik penggunaannya.
“AI harus kita pahami sebagai alat untuk membantu manusia, bukan menggantikan kemampuan berpikir manusia. Karena itu, kami ingin para siswa mampu memanfaatkan AI untuk hal-hal yang positif, terutama untuk belajar, berkarya dan meningkatkan kreativitas,” ujar AKP Kukuh.
Menurutnya, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru. Kemampuan menggunakan AI harus diikuti dengan pemahaman mengenai etika, keamanan data dan tanggung jawab terhadap setiap informasi yang dihasilkan.
“Jangan sampai kecanggihan teknologi justru digunakan untuk hal yang merugikan. Data pribadi harus dijaga, hak cipta harus dihormati, dan AI tidak boleh digunakan untuk melakukan penipuan, menyebarkan informasi palsu maupun merugikan orang lain,” tegasnya.
Salah satu materi penting yang diberikan kepada para siswa adalah AI Ethics. Pelajar diajak memahami bahwa penggunaan teknologi harus tetap berada dalam koridor etika dan tanggung jawab.
Mereka juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga privasi dan keamanan data pribadi, menghormati karya orang lain, serta mempertimbangkan dampak setiap konten yang dibuat maupun disebarkan dengan bantuan AI.
Tak kalah penting, polisi mengingatkan para pelajar agar tidak menelan mentah-mentah informasi yang diberikan oleh AI.
Kemampuan fact checking atau pemeriksaan fakta menjadi salah satu bekal utama.
Sebab, AI tetap dapat menghasilkan informasi yang keliru, tidak lengkap, bahkan tidak sesuai dengan fakta.
“Kalau mendapatkan informasi dari AI, jangan langsung percaya dan kemudian menyebarkannya. Verifikasi dulu. Bandingkan dengan sumber yang terpercaya. Anak-anak harus tetap kritis karena AI bisa membantu memberikan informasi, tetapi keputusan dan tanggung jawab tetap ada pada penggunanya,” jelas AKP Kukuh.
Suasana sosialisasi berlangsung interaktif. Para siswa diberikan ruang untuk bertanya dan berdiskusi mengenai pemanfaatan AI, baik untuk kebutuhan pembelajaran maupun kehidupan sehari-hari.
Antusiasme para pelajar terlihat dalam sesi diskusi. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai teknologi AI, tetapi juga diarahkan untuk melihat teknologi tersebut sebagai peluang untuk mengembangkan kemampuan dan kreativitas.
Setelah menyelesaikan modul pembelajaran, para siswa juga mendapatkan sertifikat yang dapat menjadi bagian dari pengembangan pemahaman AI pada jenjang pendidikan berikutnya.
Bagi Polres Sragen, edukasi semacam ini menjadi penting di tengah perubahan teknologi yang berlangsung begitu cepat. Generasi pelajar saat ini akan menjadi bagian dari masyarakat yang semakin tidak terpisahkan dari teknologi berbasis kecerdasan buatan.
Karena itu, literasi AI tidak cukup hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Pelajar juga harus dibekali kemampuan untuk mengenali risiko, menjaga keamanan diri, memeriksa kebenaran informasi dan memahami konsekuensi dari setiap penggunaannya.
“Kami ingin anak-anak ini menjadi generasi yang melek teknologi sekaligus memiliki etika. Bisa menggunakan AI, tetapi tetap berpikir kritis. Bisa memanfaatkan teknologi, tetapi tetap bertanggung jawab,” kata AKP Kukuh.
Ia menambahkan, kepolisian memiliki peran untuk ikut memastikan perkembangan teknologi memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Harapan kami sederhana, AI digunakan untuk menciptakan prestasi, bukan masalah. Digunakan untuk belajar, berkarya dan membuka peluang, bukan untuk melakukan pelanggaran,” pungkasnya.
Sosialisasi Paham AI di SMA Negeri 1 Sumberlawang dan SMA Negeri 1 Tangen berlangsung aman, tertib dan lancar. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari langkah Polres Sragen dalam membangun generasi muda yang cerdas teknologi, kritis terhadap informasi, sadar keamanan digital, serta mampu memanfaatkan Artificial Intelligence secara etis dan produktif.
Mariyo
