Gembala ini tolak definisi OAP versi “kolonial”. Identitas Papua harus diukur dari tali keturunan, marga, dan hubungan dengan tanah leluhur yang diwariskan ribuan tahun
SORONG_HARIANESIA.COM_ Perdebatan soal siapa yang disebut Orang Asli Papua atau OAP kembali memanas. Gembala Dr. A.G. Socratez Yoman menegaskan identitas OAP tidak bisa dipatok hanya dengan rumusan administratif atau politik.
Bagi Yoman, keaslian orang Papua berakar pada tiga hal: sejarah keturunan, marga, dan hubungan sakral dengan tanah adat yang diwariskan turun-temurun.
Pernyataan itu disampaikan Yoman pada Jumat (12/9/2026). Ia menyebut ada sejumlah unsur mendasar yang harus jadi pijakan memahami siapa Orang Asli Papua.
1. Tali keturunan ribuan tahun
Pertama, kata Yoman, OAP memiliki garis keturunan yang jelas jauh sebelum hadirnya bangsa lain dan terbentuknya NKRI.
“Orang Asli Papua memiliki tali keturunan yang jelas turun temurun ribuan tahun sebelum bangsa-bangsa lain dan termasuk Indonesia merdeka_,” tulis Yoman dalam pernyataannya.
2. Marga pembawa sejarah dan filosofi
Kedua, OAP memiliki marga dengan garis keturunan jelas. Marga, menurutnya, bukan sekadar nama keluarga. Di dalamnya ada sejarah, filosofi, identitas, dan pesan leluhur.
Ia mencontohkan marga “Yoman” miliknya yang diwariskan tanpa perubahan. Secara filosofis, “Yoman” terdiri dari “Yoma” yang berarti “di sini” dan “An” yang berarti “saya”.
“Arti kata Yoman yang lebih dalam ialah, ‘Saya berdiri di sini, Anda jangan takut dan berlindunglah di bawah naungan sayap saya” ujarnya.
Bagi Yoman, nama marga adalah deklarasi keberadaan dan perlindungan.
3. Ikatan dengan tanah adat
Ketiga, OAP memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dengan wilayah adat.
“Orang Asli Papua punya tanah yang jelas, dusun yang jelas, kali yang jelas, gunung yang jelas, sungai yang jelas, danau yang jelas, hutan yang jelas,” tegasnya.
Wilayah itu, kata dia, bukan sekadar peta. Dusun, kali, gunung, sungai, danau, dan hutan adalah ruang sosial, budaya, dan sejarah yang dijaga turun-temurun untuk anak cucu.
“Tolak definisi “kolonial”
Atas dasar itu, Yoman mempertanyakan setiap upaya mendefinisikan OAP yang mengabaikan tiga pilar tersebut. Ia menolak definisi yang disebutnya datang dari perspektif kolonial.
“Penduduk Asli Papua Barat dari Sorong-Merauke tidak perlu definisi dari kaum penjajah dan kolonial yang berwatak rasis, fasis dan diskriminatif,” tulisnya.
Yoman menyerukan agar masyarakat Papua tidak menerima pemikiran yang merendahkan identitas sendiri.
“Kita berdiri dan lawan pikiran yang merendahkan martabat kami,” tegasnya.
Pernyataan Yoman muncul di tengah pembahasan publik dan pemerintah tentang kriteria OAP, khususnya terkait implementasi kebijakan afirmasi dan alokasi dana Otsus.
Bagi Yoman, pembahasan OAP wajib merujuk pada sejarah panjang dan sistem identitas adat Papua yang telah hidup jauh sebelum sistem administrasi negara hadir.
Dwi




















