Scroll untuk baca artikel
Banner Iklan Harianesia 325x300
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia floating
Banner Iklan Harianesia 728x250
Edukasi

Semua Layanan Orderan Tidak Normal, Driver Ojol : Aplikator Itu Otak Jahat Matikan Rezeki Orang Banyak

×

Semua Layanan Orderan Tidak Normal, Driver Ojol : Aplikator Itu Otak Jahat Matikan Rezeki Orang Banyak

Sebarkan artikel ini
Banner Iklan Harianesia 468x60

JAKARTA_HARIANESIA.COM|| Setelah kenaikan harga BBM Pertamax menjadi lebih dari Rp16 ribu per liter mulai memukul para pengemudi ojek online (ojol) di Ponorogo. Kenaikan harga bahan bakar yang cukup signifikan tersebut menyebabkan pendapatan para driver berkurang hingga 10 sampai 20 persen.

Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) mengeluhkan kondisi orderan yang semakin sepi dalam beberapa waktu terakhir. Situasi tersebut dirasakan hampir di berbagai titik, baik pada jam sibuk maupun di luar jam ramai yang biasanya menjadi waktu produktif para pengemudi.

Banner Iklan Harianesia 300x600

Hal tersebut diungkapkan salah satu driver ojol yang telah menekuni profesi ini selama kurang lebih tujuh tahun, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah order dirasakan cukup signifikan di wilayah operasional Tangerang dan sekitarnya.

Baca Juga :  SPMB DISDIK KOTA BANDUNG MENJUNGJUNG TINGGI FAKTA INTEGRITAS

“Sekarang narik seharian belum tentu dapat banyak order. Kadang nunggu lama, kadang cuma satu-dua paling banyak 4, itu jg kalo diwajibkan harus ikut layanan oprasional, mau yang rating Juara atau gak tetep saja orderan sepi” ujar Igun kepada wartawan saat di Bunderan HI melihat kondisi Demo mahasiswa, Kamis (18/06/26).

Menurutnya, sepinya order berdampak langsung pada penghasilan harian yang kini semakin tidak menentu dan Aplikator sebagai penyebab penghasilan rezeki Driver menurun. Padahal, biaya operasional seperti bahan bakar, perawatan kendaraan, hingga potongan aplikasi tetap harus dipenuhi, sementara kebutuhan hidup sehari-hari terus berjalan.

Baca Juga :  SDN Sudirman IV Makassar Ikut Melaksanakan Kegiatan Jambore

Ia menambahkan, kondisi ini memaksa sebagian pengemudi untuk memperpanjang jam kerja demi mencukupi kebutuhan keluarga, meskipun hasil yang diperoleh sering kali tidak sebanding dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkan.

“imbas kenaikan BBM nonsubsidi ini, Pertalite susah didapatkan dan mengantre panjang. Alhasil kami beralih ke Pertamax, pendapatan kami berkurang, waktu kami habis untuk antre BBM. Belum lagi potongan dari aplikator yang semakin memperburuk keadaan kami, Aplikator otak jahat buat semua driver ojol mati mencari nafkah rezeki buat keluarga” ujarnya.

Kembali ke Perpres Nomor 27 Tahun 2026 yang membatasi potongan komisi maksimal 8 persen. Driver tetap sulit mendapat order, tidak ada jaminan transparansi biaya, risiko mengalihkan beban ke konsumen.

Baca Juga :  Kapolda Jabar Sebut Sertijab Pejabat Utama serta Kapolres Jajaran Polda Jabar Bagian Dinamika Organisasi Polri

RUU Pekerja Ekonomi Gig benar-benar mengatur parameter algoritma yang wajib diumumkan; hak driver atas notifikasi saat akun diturunkan prioritasnya; dan tentu saja sanksi bagi platform yang melanggar transparansi.

Transparansi algoritma bukan sekadar soal teknologi atau kode komputer. Ini soal mengakui bahwa driver adalah mitra sejati. Bukan pion dalam kotak hitam yang tidak boleh mereka ketahui isinya.

Dengan RUU yang sedang berjalan, ada harapan. Tapi seperti yang driver tahu dari pengalaman: janji harus dibuktikan. Bukan hanya diucapkan.

Tim

Banner Iklan 1
Banner Iklan Harianesia 120x600