Disclaimer: Ini pendapat pribadi sebagai warga negara. Tidak mewakili organisasi manapun.
KEBUMEN_HARIANESIA.COM_Sebagai rakyat kecil di Kebumen yang sehari-hari cuma nonton TV dan baca berita di HP, saya justru makin paham masalah Papua setelah baca tulisan Gembala Dr. Socratez Yoman berjudul _Empat Kekuatan yang Jadi Tantangan Pemerintah di Papua_.
Saya setuju 100% sama Yoman. Pemerintah memang sering kalah bukan karena senjata, tapi karena narasi. Empat kekuatan yang dia sebut: Buku, Film, Media Massa, dan Aksi Demo itu nyata pengaruhnya.
*1. Buktinya Wakil Ketua Komisi I DPR dan Wakapolda Papua Panik*
Waktu Yoman nulis buku _Prabowo Dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua_, yang kelabakan justru pejabat. Dave Laksono sampai ngomong KKP lebih berbahaya dari KKB karena mainnya di “narasi politik dan intelektual”. Brigjen Faizal Ramadhani juga ngaku KKP menyasar “kesadaran intelektual”.
Lho, kalau pemerintah yakin kerjanya benar, kenapa takut sama buku dan ide? Letjen Kiki Syahnarki saja jujur bilang di buku _Timor Timur The Untold History_: TNI dan Pemerintah tidak berdaya hadapi perang opini. Artinya yang disampaikan Yoman itu fakta.
*2. Anak Muda Sekarang Nggak Bisa Dibohongi*
Saya punya anak kuliah di Solo. Dia dan teman-temannya kalau diskusi Papua bahasnya keadilan, HAM, harga BBM, bukan doktrin. Ini cocok sama 5 gejala yang diidentifikasi Yoman.
– _Solidaritas kemanusiaan_ itu muncul karena mereka lihat video pengungsi di HP.
– _Akses informasi_ bikin anak Kebumen pun bisa tahu harga semen di Wamena 3x lipat dari di Jawa.
Kalau cuma dijawab pakai “NKRI harga mati”, ya anak muda ketawa. Mereka butuh data, bukan slogan.
*3. Solusinya Memang Dialog, Bukan Moncong Senjata*
Saya setuju dengan penutup Yoman: “Penyelesaian terbaik adalah yang mengedepankan dialog, keadilan, dan kemanusiaan.”
Dave Laksono sendiri bilang perlu “pembangunan sosial-ekonomi yang inklusif”. Artinya DPR pun tahu masalahnya di perut dan keadilan. Jadi kenapa kalau rakyat sipil kayak Yoman ngomong gitu malah dicurigai?
Saya warga Kebumen, lahir di Indonesia, bayar pajak di Indonesia. Justru karena cinta Indonesia, saya ingin Papua damai. Dan damai itu nggak akan datang kalau pemerintah alergi kritik dari buku, film, media, dan demo.
Kalau empat kekuatan itu disebut “tantangan”, berarti pemerintah harusnya introspeksi, bukan represif. Seperti kata Napoleon yang dikutip Yoman: lebih takut pena daripada seribu bayonet.
Papua itu saudara kita. Kalau saudara kita sakit, diobati, bukan dibungkam dokternya.
Oleh: Umar Siregar, Warga Kebumen
(DW)
