Bisnis

Rekomendasi Saham MEDC dan ENRG di Tengah Harga Minyak Volatil

Rekomendasi Saham MEDC dan ENRG di Tengah Harga Minyak Volatil — Ilustrasi pergerakan harga saham MEDC dan ENRG di tengah volatilitas harga minyak mentah dunia
Saham MEDC dan ENRG menjadi sorotan investor saat harga minyak Brent bergerak di kisaran US$ 115 per barel.

Harianesia JAKARTA — Saham emiten minyak dan gas bumi (migas) berpotensi menarik perhatian investor di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia. Dua saham yang patut dicermati adalah PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).

Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), harga minyak mentah Brent berada di kisaran US$ 115 per barel. Pergerakan harga minyak masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, termasuk harapan meredanya ketegangan melalui upaya diplomasi.

Meski demikian, risiko gangguan pasokan dan ketidakpastian keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz masih membayangi pasar minyak global.

Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai harga minyak berpotensi mengalami koreksi hingga akhir 2026 apabila ketegangan geopolitik mereda dan pasokan kembali normal. Namun, arah harga minyak juga akan dipengaruhi kebijakan OPEC+, gangguan distribusi, serta dinamika permintaan global.

IHSG Masih Volatil, Ini Proyeksi Pergerakannya hingga Akhir 2026

“Kami melihat harga minyak dunia hingga akhir 2026 masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan terkoreksi apabila deeskalasi di Timur Tengah berlanjut dan pasokan kembali normal,” ujar Sukarno dalam wawancara tertulis (27/10/2026).

Harga minyak yang tinggi memang menguntungkan emiten hulu migas, tetapi besarnya manfaat sangat bergantung pada struktur biaya dan utang masing-masing perusahaan.

Dampak Harga Minyak Tinggi bagi Emiten Migas

Harga minyak yang tinggi berpotensi memberikan keuntungan bagi emiten migas yang memiliki bisnis eksplorasi dan produksi. Kenaikan harga komoditas dapat menopang pendapatan dan arus kas perusahaan.

Namun, besarnya manfaat yang diperoleh bergantung pada volume produksi, harga jual yang terealisasi, biaya operasional, dan struktur utang masing-masing emiten.

Senior Technical Analyst, M. Nafan Aji Gusta, menilai MEDC berpeluang memanfaatkan tingginya harga minyak melalui bisnis hulu migas yang dimiliki perseroan.

Kinerja MEDC dan ENRG di Semester I-2026

Pada semester I-2026, produksi MEDC mencapai 170.000 barel setara minyak per hari dengan biaya produksi tunai sekitar US$ 8,4 per barel setara minyak. Selain bisnis migas, MEDC juga memperoleh kontribusi dari segmen ketenagalistrikan dan investasinya di PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).

Meski demikian, investor tetap perlu mencermati beban utang dan kebutuhan belanja modal MEDC. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi kemampuan perseroan dalam mengoptimalkan arus kas ketika harga minyak mengalami perubahan.

Sementara itu, ENRG mencatatkan pendapatan sekitar Rp 4,87 triliun pada semester I-2026, meningkat 25,5% secara tahunan. Pada periode yang sama, laba bersih perseroan naik 34,1% menjadi sekitar Rp 777,8 miliar.

Kendati kinerja keuangan ENRG menunjukkan pertumbuhan, keberlanjutannya masih bergantung pada sejumlah faktor. Di antaranya, harga jual gas, pertumbuhan produksi, biaya operasional, serta kemampuan perusahaan menjaga arus kas.

Indikator MEDC
Produksi S1-2026 170.000 barel setara minyak per hari
Biaya produksi tunai US$ 8,4 per barel setara minyak
Rekomendasi Buy, target Rp 1.600

Rebalancing IDX30, LQ45, dan IDX80, Seberapa Besar Dampaknya ke Indeks?

Risiko yang Perlu Diwaspadai Investor

Nafan mengingatkan investor agar tidak hanya menjadikan kenaikan harga minyak sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Kemampuan perusahaan mengonversi kenaikan harga komoditas menjadi laba dan arus kas yang berkelanjutan juga perlu menjadi pertimbangan utama.

Selain itu, investor perlu mewaspadai risiko normalisasi harga minyak, gangguan operasional, perubahan biaya produksi, dan fluktuasi nilai tukar yang berpotensi memengaruhi kinerja keuangan emiten migas.

  • Brent berada di kisaran US$ 115 per barel pada 27 Oktober 2026.
  • MEDC memproduksi 170.000 barel setara minyak per hari dengan biaya tunai US$ 8,4 per barel.
  • Laba bersih ENRG naik 34,1% menjadi sekitar Rp 777,8 miliar pada semester I-2026.

Rekomendasi Saham MEDC dan ENRG

Dari sisi rekomendasi saham, Sukarno memilih MEDC sebagai salah satu kandidat investasi untuk jangka menengah. Saham MEDC memperoleh rekomendasi buy dengan target harga Rp 1.600.

Adapun ENRG dinilai menarik untuk strategi trading buy secara selektif dengan target harga Rp 1.030. Namun, untuk perdagangan jangka pendek, investor disarankan terlebih dahulu memantau pergerakan harga saham ENRG, mengingat tren penurunannya masih perlu diperhatikan.

Pertanyaan Umum

Mengapa harga minyak Brent masih tinggi?

Pergerakan harga minyak dipengaruhi ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, risiko gangguan pasokan, dan ketidakpastian keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Apa rekomendasi untuk saham MEDC dan ENRG?

MEDC direkomendasikan buy dengan target Rp 1.600 untuk jangka menengah. ENRG dinilai menarik untuk trading buy selektif dengan target Rp 1.030, sambil memantau tren penurunannya.

Apa risiko utama berinvestasi di emiten migas saat ini?

Risiko mencakup normalisasi harga minyak, gangguan operasional, perubahan biaya produksi, fluktuasi nilai tukar, serta beban utang dan kebutuhan belanja modal perusahaan.

Sumber: Kontan

Exit mobile version