SRAGEN — Upaya membangun kedekatan antara kepolisian dan masyarakat terus dilakukan Polsek Kedawung, Polres Sragen.
Tak hanya hadir ketika terjadi gangguan keamanan dan ketertiban, polisi juga turun langsung ke ruang-ruang pendidikan keagamaan untuk menanamkan nilai moral sekaligus memberikan edukasi kamtibmas sejak usia dini.
Langkah tersebut diwujudkan melalui program terobosan kreatif SIKANCIL ALASKA (poliSI KANCani tILawah AL-Qur’an, Situasi Kondusif & Aman) yang digelar di TPQ Nurul Hidayah, Dukuh Wonokerso RT 14, Desa Wonokerso, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Sragen, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30 hingga 16.30 WIB itu diikuti sekitar 40 anak TPA. Kanit Binmas Aiptu Lisa Megawati bersama Bhabinkamtibmas tidak sekadar datang untuk menyampaikan pesan kamtibmas, tetapi ikut membaur dan mendampingi anak-anak saat belajar mengaji dan tilawah Al-Qur’an.
Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari menegaskan bahwa pendekatan kepada masyarakat harus dilakukan sejak dini. Anak-anak dan remaja merupakan generasi penerus yang perlu dibekali tidak hanya dengan ilmu pengetahuan, tetapi juga akhlak, adab, serta pemahaman mengenai berbagai ancaman di lingkungan sosial.
Program SIKANCIL ALASKA menjadi salah satu bentuk implementasi semangat “Polri untuk Masyarakat”, dengan menghadirkan polisi secara langsung di tengah aktivitas positif masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, personel Polsek Kedawung menyisipkan sejumlah pesan penting kepada anak-anak. Di antaranya tentang bahaya narkoba, bullying, kenakalan remaja, tertib berlalu lintas, serta pentingnya bijak menggunakan telepon seluler dan media digital.
Pesan tersebut disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak, sehingga edukasi kamtibmas tidak terasa sebagai ceramah semata.
Polisi hadir sebagai pendamping sekaligus sahabat yang mengajak anak-anak mengenali berbagai risiko yang dapat mengancam masa depan mereka.
“Pencegahan harus dilakukan sedini mungkin. Anak-anak harus mengetahui bahaya narkoba, bullying, kenakalan remaja dan penyalahgunaan teknologi sebelum mereka menghadapi persoalan tersebut secara langsung,” demikian ditegáskan Kapolŕes.
Selain mendampingi kegiatan mengaji, Polsek Kedawung juga memberikan dukungan nyata terhadap aktivitas pendidikan keagamaan di TPQ Nurul Hidayah.
Kanit Binmas menyerahkan bantuan berupa 5 buah Al-Qur’an, 10 buku Iqra, dan 10 Juz Amma untuk dijadikan inventaris TPQ.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung proses belajar mengaji sekaligus memperkuat sinergi antara kepolisian, pengajar TPQ, orang tua, dan masyarakat dalam membentuk karakter anak.
Sementara itu, Kapolsek Kedawung AKP Suyana, menyampaikan bahwa SIKANCIL ALASKA merupakan program mingguan yang mengedepankan pendekatan humanis.
Polisi tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk hadir dalam proses membangun karakter generasi muda.
Filosofi program tersebut mengambil gambaran sosok kancil yang dikenal cerdas, adaptif, serta mampu membaca situasi dan peluang.
Filosofi itu kemudian diterapkan dalam strategi pemolisian dengan memanfaatkan ruang-ruang positif di masyarakat sebagai sarana pencegahan gangguan kamtibmas.
Dengan membersamai anak-anak yang sedang mengaji dan tilawah, polisi memiliki ruang untuk menyampaikan edukasi secara lebih dekat. Harapannya, nilai-nilai agama yang dipelajari anak dapat berjalan beriringan dengan kesadaran menjaga diri dari pengaruh negatif lingkungan.
“Akhlak dan adab menjadi fondasi penting sebelum seseorang mengembangkan ilmunya. Karena itu, tempat anak-anak menuntut ilmu seperti TPQ juga menjadi ruang strategis untuk membangun karakter sekaligus memberikan edukasi kamtibmas,” menjadi landasan pendekatan dalam program tersebut.
Kegiatan di TPQ Nurul Hidayah dihadiri Kapolsek Kedawung AKP Suyana, PS Kanit Binmas Aiptu Lisa Megawati, Bhabinkamtibmas Desa Wonokerso Heru Eko Prasetyo, Bhabinkamtibmas Desa Pengkok Bripda Aldiansyah Eky Pradana, Ustadzah Diah Ayu Hastuti, serta sekitar 40 anak TPA.
Melalui SIKANCIL ALASKA, Polsek Kedawung berupaya mengubah pola pendekatan kepolisian dari sekadar respons terhadap persoalan menjadi pencegahan sejak dini.
Anak-anak diajak mengenal polisi bukan sebagai sosok yang hanya hadir ketika terjadi masalah, melainkan sebagai bagian dari masyarakat yang siap mendampingi, melindungi dan membantu mereka tumbuh menjadi generasi yang berakhlak, cerdas, disiplin dan mampu menjaga diri.
Mariyo
